Malaysia Tawarkan Teknologi Microprotein Senilai Rp 10 Triliun untuk Atasi Krisis Protein MBG
Minggu, 30 Nov 2025, 17:50 WIBYOGYAKARTA â Upaya memenuhi kebutuhan protein Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian utama dalam forum Focus Group Recommendation: Rantai Pasok Inklusif Susu dan Protein MBG yang diselenggarakan Badan Gizi Nasional (BGN) bekerja sama dengan KADIN DIY di Yogyakarta, Jumat (28/11/2025). Forum ini menyoroti persoalan utama bahwa kapasitas protein domestik belum sepenuhnya siap mendukung implementasi MBG dalam skala nasional.
Konsumsi Protein Indonesia Tertinggal di ASEAN
Dalam paparannya, Epi Taufik, Tim Pakar BGN Bidang Susu, menyebutkan bahwa konsumsi protein hewani Indonesia merupakan yang terendah di Asia Tenggara. Konsumsi susu berada di posisi terbawah, diikuti rendahnya konsumsi daging sapi dan ayam. Hanya telur yang berada di posisi relatif baik, yaitu urutan kedua di kawasan.
Epi menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Rata-rata IQ nasional berada di angka 78, sementara data International IQ Test menempatkan IQ rata-rata orang Indonesia pada 92,64, tetap terendah di Asia Tenggara. Indonesia berada di bawah Laos, Kamboja, Myanmar, Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Singapura.
Impor Susu dan Daging Masih Tinggi
Epi juga mengingatkan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 80 persen susu dan 52 persen daging sapi. Ayam dan telur relatif mencukupi, tetapi kebutuhan protein lain belum dapat mengimbangi apabila MBG dijalankan penuh. Ia menegaskan bahwa MBG tidak boleh meningkatkan ketergantungan pada impor. âKita harus mencari sumber protein yang dapat dipenuhi dari dalam negeri,â ujarnya.
Microprotein Berbasis Singkong Diajukan sebagai Opsi
Menanggapi tantangan tersebut, perusahaan teknologi pangan Malaysia, Ultimeat (M) Sdn Bhd, menawarkan microprotein berbasis singkong dan gula sebagai alternatif sumber protein yang dapat diproduksi sepenuhnya dari petani lokal. Microprotein merupakan hasil fermentasi jamur (mycelium) yang memanfaatkan pati dari ketela pohon.
Founder dan CEO Ultimeat, Edwin Lee, menjelaskan bahwa teknologi ini telah dikembangkan lebih dari empat dekade. Proses fermentasi berlangsung selama tujuh hari, dengan kandungan protein mencapai 26 persen per 100 gram serta tingkat ketercernaan (PICAS) hingga 99,6 persen.
Harga Stabil dan Respons Rasa Positif
Ultimeat menawarkan microprotein dengan harga sekitar Rp56.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan ayam dan jauh di bawah daging sapi atau kambing. Dalam forum tersebut, sampel nugget dan patty berbasis microprotein disajikan, dan peserta menilai tekstur serta rasanya mendekati ayam dan daging sapi. Epi Taufik menilai penerimaan rasa oleh anak-anak merupakan indikator utama sebelum suatu bahan dipertimbangkan untuk menu MBG.
Rencana Investasi Rp10 Triliun dan Uji Coba Awal
Ultimeat menyiapkan investasi sekitar US$600 juta atau mendekati Rp10 triliun untuk membangun dua fasilitas produksi di Lampung dan Malang serta kapasitas lebih kecil di Yogya. Setiap pabrik membutuhkan dua juta ton singkong dan satu juta ton gula per tahun, seluruhnya dapat dipasok oleh petani lokal.
Untuk wilayah Yogyakarta, Ultimeat menyebut bahwa kapasitas industri yang dibutuhkan jauh lebih kecil dibanding pabrik nasional di Lampung dan Malang. Berdasarkan pemetaan pasokan lokalâterutama karena adanya Pabrik Gula Madukismo dan ketersediaan ketela di GunungkidulâUltimeat memperkirakan kebutuhan sekitar 200 ribu ton singkong dan 100 ribu ton gula per tahun, yang dapat dikonversi menjadi kurang lebih 30 ribu ton microprotein. Kapasitas ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan MBG di wilayah DIY tanpa perlu impor, sekaligus mendorong ekonomi petani lokal.
Sebagai langkah awal, Ultimeat mengirim sembilan ton microprotein untuk diuji coba di 30 dapur SPPB di Yogyakarta, Pemalang, dan Malang. Uji coba tersebut diberikan tanpa biaya selama dua hari dalam dua pekan sambil menunggu izin distribusi.
Dalam penjelasan kepada media, Epi Taufik menilai bahwa inovasi seperti microprotein perlu dikaji lebih lanjut. âSemua opsi harus melalui uji gizi, uji rasa, dan penerimaan anak-anak,â katanya.
- Ekosistem MBG
- BGN
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Kekuatan Visual di Spotify, Rahasia Sukses Podcast Malaka dan In Her View
-
Jadwal Super League: Dibuka Duel Papan Atas Persita Melawan Persija
-
Geopolitik Memanas! Rupiah Hari Ini Melemah Saat Risiko Perang Terbuka AS–Israel dan Iran Meningkat
-
Antisipasi Dampak El Nino, Kementan Gelontorkan Rp5 Triliun untuk Irigasi dan Benih
-
Menteri Ekraf dan Dubes Korsel Adakan Pertemuan Bahas Kolaborasi Penguatan Kerja Sama Ekraf RI-Korea
-
BGN Ingatkan Mitra Tak Jadikan Program MBG Ladang Bisnis
-
Banjir Penumpang di Stasiun Bandung, KAI Daop 2 Cetak Rekor Okupansi Luar Biasa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.