• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • AC Beban Terbesar Gedung u...

AC Beban Terbesar Gedung untuk Efisiensi Energi

Jumat, 28 Nov 2025, 04:05 WIB

JAKARTA – Saat ini gedung mana tidak menggunakan pendingin udara (AC) utamanya di kota-kota besar. Inilah repotnya untuk efisiensi energi. Sebab ternyata, AC menjadi beban terbesar gedung yang ingin efisiensi energi.

Program Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) mencatat penggunaan pendingin ruangan atau AC menjadi sumber konsumsi energi terbesar dalam operasional bangunan di Indonesia. Ini berdasarkan kajian awal gabungan sektor hunian dan nonhunian. Project Manager SETI dari Institute for Essential Services Reform (IESR) Malindo Wardana mengatakan hasil studi awal di Surabaya terhadap 311 bangunan menunjukkan hunian dengan AC mengonsumsi listrik hampir dua kali lipat dibandingkan hunian tanpa AC.

Ket. Foto: alat pendingin udara — Sumber: ist

“Pemakaian AC berbanding lurus dengan peningkatan konsumsi energi rumah tangga,” kata Malindo dalam diskusi SETI bertajuk “Paparan Hasil Audit Energi di Industri dan Konsumsi Energi Bangunan Gedung” di Jakarta, Kamis. Pada bangunan nonhunian, sistem tata udara menjadi beban listrik tertinggi di perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, dan fasilitas publik lainnya. Kontribusi emisi dari bangunan komersial mencapai 74 persen dari total emisi operasional bangunan.

“Kalau kita ingin menekan emisi secara signifikan, maka sektor bangunan komersial harus menjadi prioritas efisiensi,” ujar dia. Studi yang sama memperkirakan emisi dari operasional bangunan di Surabaya sekitar 5 juta ton ekuivalen karbon dioksida (CO2) per tahun, atau lebih dari seperempat emisi operasional bangunan DKI Jakarta.

Malindo menjelaskan penerapan bangunan hijau terbukti mampu menekan konsumsi energi antara 20 sampai 68 persen secara internasional, sementara standar nasional menetapkan penghematan minimal 25 persen. “Penghematan operasional bisa langsung dirasakan pemilik dan pengguna gedung,” ucapnya.

Sebagai tindak lanjut, ia menyebutkan bahwa SETI akan menyiapkan pendampingan teknis melalui audit energi lanjutan atau investment grade audit, pelatihan manajer energi, serta pemodelan konsumsi energi jangka panjang untuk kota-kota lokasi studi. Program SETI merupakan kerja sama Indonesia-Jerman hingga 2028 yang berfokus pada peningkatan efisiensi energi dan pengurangan emisi di sektor industri dan bangunan gedung.

Manual Tak Efisien Energi

Namun, di sisi lain, Program Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) menemukan industri nasional masih menghadapi hambatan efisiensi energi, terutama akibat pengoperasian peralatan yang masih manual dan minimnya sistem kontrol otomatis di pabrik. Peneliti Senior Spesialis Efisiensi Energi World Resources Institute (WRI) Indonesia Caesar Bayu Kusuma mengatakan, temuan audit energi di sejumlah pabrik menunjukkan kompresor, chiller, dan sistem uap belum beroperasi sesuai kebutuhan.

“Konsumsi energi lebih besar dari yang seharusnya, sementara sebagian besar potensi penghematan ada di sistem dasar, tetapi pengaturan tekanannya masih manual dan belum menyesuaikan kebutuhan produksi,” kata Caesar di Jakarta, Kamis. Audit menemukan permasalahan teknis seperti kebocoran pada jaringan pipa energi, kualitas daya listrik yang belum stabil, serta efisiensi pembakaran boiler yang belum maksimal.

Menurut Caesar, masalah tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasi dan mengganggu kelancaran proses produksi. Selain persoalan teknis, ia menjelaskan sebagian pabrik terkendala pendanaan investasi efisiensi energi karena perhitungan penghematan yang belum memenuhi standar kelayakan pembiayaan. 

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.