Ukraina-Amerika Serikat Bahas Rencana Perdamaian Trump di Swiss

Senin, 24 Nov 2025, 01:01 WIB

KYIV - Ukraina dan Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat akan bertemu di Swiss untuk membahas rencana Washington mengakhiri perang dengan Russia, yang saat ini mengakomodasi beberapa tuntutan garis keras Moskow, demikian disampaikan Kyiv pada Sabtu (22/11).

Presiden AS Donald Trump memberi Ukraina waktu kurang dari satu minggu untuk menyetujui rencana 28 poin guna mengakhiri konflik yang hampir memasuki tahun keempat tersebut. Rencana itu mengharuskan Ukraina menyerahkan wilayah, mengurangi ukuran militernya, serta berjanji untuk tidak pernah bergabung dengan NATO.

Ket. Foto: Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov — Sumber: AFP/JOHN THYS

Sementara itu, para sekutu Eropa Ukraina yang tidak dilibatkan dalam penyusunan kesepakatan itu  tengah bergerak cepat di KTT G20 di Afrika Selatan untuk menyusun tawaran tandingan terhadap rencana Trump demi memperkuat posisi Kyiv.

"Dalam beberapa hari mendatang di Swiss, kami akan memulai konsultasi antara para pejabat senior Ukraina dan Amerika Serikat mengenai kemungkinan parameter perjanjian damai di masa depan," tulis Rustem Umerov, anggota tim negosiasi Ukraina, di media sosial.

"Ini adalah tahap lain dari dialog yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir dan terutama bertujuan menyelaraskan visi kami untuk langkah-langkah berikutnya," tambah Umerov, mantan menteri pertahanan yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Ukraina.

Ia sebelumnya memimpin beberapa putaran negosiasi dengan Russia di Turki, yang tidak menghasilkan terobosan. Kali ini, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menunjuk ajudan utamanya, Andriy Yermak, untuk memimpin tim tersebut, sesuai dekret presiden.

Dekret itu juga menyatakan bahwa pembicaraan tersebut akan melibatkan “perwakilan dari Federasi Russia.”

Belum ada konfirmasi langsung dari Russia apakah mereka akan bergabung dalam pembicaraan tersebut.

Perdamaian yang Adil

Dalam deklarasi bersama, para pemimpin G20 menyerukan terbentuknya “perdamaian yang adil, komprehensif, dan berkelanjutan”, tidak hanya di Ukraina, tetapi juga di Sudan, Republik Demokratik Kongo, dan “Wilayah Palestina yang Diduduki.”

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pesan bernada muram kepada para peserta, mengatakan bahwa “G20 mungkin telah berada di akhir sebuah siklus,” seraya menambahkan bahwa forum tersebut tengah kesulitan menyelesaikan krisis-krisis besar di seluruh dunia.

Ia merujuk secara khusus pada rencana sepihak baru dari AS untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang menerima beberapa tuntutan garis keras Russia.

  • stabilitas kawasan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.