Porsi EBT Jalan di Tempat! Penambahan Pembangkit Masih Jauh dari Harapan
Senin, 17 Nov 2025, 20:50 WIBJAKARTA â Masih rendahnya porsi pembangkit listrik energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi tantangan serius bagi pemerintah. Capaian yang baru 14,4 persen dari total pembangkit ini menandakan harus seriusnya pemerintah menggenjot transisi sektor pembangkit.
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan, penambahan pembangkit EBT di Indonesia memang belum optimal meskipun berdasarkan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) 2024-2034 targetnya sangat ambisius mencapai 34,5 persen, tetapi uniknya sampai 2030, target bauran energi EBT ditetapkan sekitar 15,9 persen.
Dengan alur ini kelihatan meski ambisius merancang transisi pemerintah memilih skema delay, hal ini berkonsekuensi pada postur penambahan kapasitas pembangkit EBT yang ditargetkan 76 persen atau sebesar 52,9 giga watt (GW) namun pembangunannya akan kalah cepat dibanding yang berbasis fosil meski targetnya hanya 24 atau 16,6 persen saja.
Menurutnya, hal ini perlu ditata ulang, dimana rencana pengembangan EBT sebenarnya tidak harus berorientasi PLN centris, tetapi dengan penyediaan ekosistem jual beli listrik skala kecil dan menengah. Dimana setiap rumah tangga, komunitas ataupun entitas bisnis bisa didorong untuk memproduksi EBT mandiri lalu dibangun prosedur jual beli antar produsen dimana PLN ambil bagian dalam pengelolaan jasanya.
"PLN tidak akan kehilangan peran, sebaliknya memainkan peran baru sebagai pengelola jasa," tegasnya pada Koran Jakarta, Minggu (16/11).
Di sisi lain lanjut Hafidz, pembangkit skala makro tetap dibutuhkan untuk bisa memastikan back up system yang kuat, terutama untuk kebutuhan industri skala masif yang memang tidak dapat ditopang dengan EBT.
Isu disini lebih baik dikelola secara optimal dan efisien agar emisinya tetap rendah namun menawarkan kehandalan jangka panjang, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) supercritical dan juga pembangkit berbasis biomassa bisa diandalkan, atau ke depan sangat mungkin modifikasi PLTU dengan sistem pembangkit hidrogen ataupun amoniak yang lebih ramah lingkungan, serta modifikasi gasifikasi batubara.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma mengatakan kondisi saat ini, kontribusi EBT masih 14,4.l persen. Target EBT masih jauh dari 23 persen yang semula direncanakan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) tahun 2014. Dan juga terpenuhi target EBT yang sudah di revisi menjadi 17-19 persen.
Air terang Surya memang masih memegang peran besar untukEBT. Tetapi ke depan, energi Surya sudah harus mengambil alih komposisi EBT. Apalagi jika komitmen Presiden Prabowo yang akan membangun 100 GW energi surya di pedesaan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun untuk base load tenaga listrik, tetap masih mengandalkan hidro dan panasbumi, kecuali energi baterai makan banyak dipakai dalam menjamin kehangatan pasokan mengatasi intermitensi energi surya. "Kita masih tetap tunggu komitmen dan konsistensi pemerintah,"tegas Surya
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan dari 107 gigawatt (GW) pembangkit listrik di Indonesia, porsi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan atau energi bersih mencapai 14,4 persen atau sebesar 15,47 GW.
âPorsi pembangkit berbasis energi terbarukan mencapai 14,4 persen dan dari total angka tersebut, tenaga air masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi lebih dari 7 persen,â ujar Plt Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno dalam rapat dengan pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis.
Adapun komposisi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan Indonesia terdiri atas tenaga air sebesar 7,1 persen (7,57 GW), pembangkit listrik tenaga biomassa sebesar 3 persen (3,17 GW), pembangkit listrik tenaga panas bumi sebesar 2,6 persen (2,74 GW).
Untuk pembangkit listrik tenaga surya sebesar 1,3 persen (1,37 GW), pembangkit listrik tenaga bayu sebesar 0,1 persen (sebesar 0,15 GW), dan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan lainnya sekitar 0,3 persen (0,47 GW).
Perlu Percepatan
Menurut Tri, data tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki sumber daya EBT yang besar, namun masih memerlukan percepatan untuk dapat berdiri sejajar dengan negara-negara maju yang telah mengembangkan EBT.
âStruktur dalam sistem pembangkit kita masih menunjukkan ketergantungan kepada energi fosil, khususnya batu bara,â kata Tri.
Adapun komposisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara berada di angka 55,1 persen atau sebesar 59,07 GW.
Tri menjelaskan PLTU batu bara diperlukan sebagai pembangkit pemikul beban dasar (base load) yang beroperasi 24 jam sehari untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik nasional.
Di sisi lain, Indonesia juga mengembangkan pembangkit berbahan bakar gas untuk menopang kebutuhan listrik di kota besar dan menjaga keandalan sistem, sebab karakteristiknya yang fleksibel dan mengikuti perubahan beban (load follower dan peaker).
Adapun kapasitas pembangkit listrik berbasis gas memiliki porsi sebesar 24,5 persen dari kapasitas terpasang nasional atau sebesar 26,28 GW. Kemudian, pembangkit listrik berbasis diesel memegang porsi sebesar 6 persen atau sekitar 6,41 GW. âDari kapasitas terpasang saat ini, sebetulnya 14,4 persen dari EBT yang saya sampaikan tadi masih relatif kecil,â kata Tri.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Membersihkan Pohon Tumbang yang Menimpa Rumah Warga
-
Duolingo Gandeng Niki Ubah Lirik Lagu 'Backburner' Jadi Cara Seru Belajar Bahasa Inggris
-
Hasil Liga Jerman: Eintracht Frankfurt Diimbangi Koln di Kandang
-
KKP Mau Bangun PLTA dari Arus Laut di Bali, Beroperasi 2029
-
Kepala BGN: Relawan Makan Bergizi Gratis Tidak Dibatasi Usia
-
Chelsea Melaju ke Final Piala FA Setelah Tundukan Leeds United 1-0
-
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.