Kepulauan Banda, Surga Rempah yang Menyimpan Sejuta Kisah
Jumat, 14 Nov 2025, 07:41 WIBSALAH satu destinasi wisata utama di Provinsi Maluku adalah Banda Naira (Neira). Biasa disingkat Kepulauan Banda merupakan gugusan pulau yang terdiri dari sekitar 10 pulau tidak termasuk gosong pasir (pulau yang muncul saat air surut) yang berada di Kabupaten Maluku Tengah.
Pertama adalah Pulau Banda Naira yang menjadi pusat administrasi dan kehidupan masyarakat. Di sini ada benteng, museum, dan bangunan kolonial peninggalan Belanda, dan juga Bandara Bandanaira.
Kedua adalah Pulau Naira yang menjadi pusat pemerintah di kepulauan ini. Ketiga Pulau Banda Besar (Lontar) pulau terbesar di gugusan ini. Di sini banyak dibudidayakan buah pala.
Keempat adalah Pulau Gunung Api pulau vulkanik aktif yang menjadi ikon Banda, dengan pemandangan menakjubkan dari puncaknya. Kelima Pulau Rhun (Run) terkenal karena pernah âditukarâ dengan Pulau Manhattan oleh Belanda dan Inggris pada abad ke-17.
Keenam Pulau Ai (Ay) merupakan memiliki pantai indah dan rumah-rumah kolonial tua. Ketujuh Pulau Hatta (dulu Rosengain) terkenal dengan spot snorkeling dan diving luar biasa. Kedelapan Pulau Karaka kecil sebuah pulau tak berpenghuni, di antara Gunung Api dan Banda Neira.
Kesembilan Pulau Nailaka adalah pulau pasir kecil di ujung Pulau Rhun, bisa jalan kaki ke sana saat air surut. Kesepuluh atau terakhir adalah Pulau Manukang pulau kecil di bagian selatan gugusan Kepulauan Banda.
Kepulauan Banda selalu menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain pesona keindahan daratannya hingga kehidupan bawah lautnya, kepulauan ini syarat dengan cerita dan peninggalan sejarah.
Pulau kecil ini pernah menjadi tujuan para pelaut Asia dan Eropa, salah satu yang dicari saat itu apalagi jika bukan keberadaan rempah-rempah yang melimpah di sini.
Harga rempah-rempah seperti lada dan pala di Eropa pernah setara bahkan lebih mahal dari emas yang membuat kepulauan ini dan Maluku pada umumnya menjadi rebutan.
Di sana Wahyu Ariesta Perman dari Koran Jakarta melihat keberadaan langsung benteng-benteng kuno, pelabuhan dan rumah-rumah tua bergaya kolonial. Di Pulau Banda Neira terdapat Benteng Belgica yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1611, kemudian diperkuat tahun 1667.
Lokasi benteng itu terletak di atas bukit kecil di Pulau Banda Neira. Dari atas benteng, wisatawan bisa melihat pemandangan spektakuler Gunung Api Banda, laut biru, dan desa-desa di sekitarnya. Ini adalah benteng terbaik dan paling terawat di Kepulauan Banda.
Lainnya adalah Benteng Nassau yang masih berada di pulau yang sama. Bentang ini dibangun oleh Portugis pada abad ke-16. Bangsa Eropa ini merupakan yang pertama sampai di Maluku. Setelah diusir Belanda benteng diambil alih dan diperkuat, dan dijadikan sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan rempah (pala) di masa kolonial.
Selain di Banda Neira, ada pula benteng lain di pulau tetangga yaitu Benteng Revenge (Fort Revenge) di Pulau Ai (Ay), dibangun oleh Inggris pada abad ke-17. Selanjutnya Benteng Hollandia di Pulau Rhun (Run), yang menjadi peninggalan masa perebutan rempah antara Inggris dan Belanda.
Peninggalan benteng-benteng itu menjadi bukti bahwa kepulauan di Maluku Tengah itu pernah menjadi pusat perekonomian dunia. Ditambah alamnya yang menawan kepulauan ini sekaligus menjadi âsurga kecilâ di Timur Indonesia.
Pulau Banda Naira yang paling ramai dan sibuk ukurannya tidak terlalu besar dibandingkan Pulau Gunung Api dan Pulau Banda. Ukurannya sekitar 8 kilometer persegi, atau setara dengan kurang lebih 800 hektar.
Karena cukup kecil pulau ini bisa dijelajah berjalan kaki selama hanya memakan waktu sekitar 3 jam. Jalan-jalannya yang menghubungkan seluruh pulau cukup mulus semua sudah di aspal hotmix, menciptakan suasana yang menyenangkan.
Selama penjelajahan di pulau ini kendaraan dengan motor bensin dan listrik sudah banyak dimiliki warga di sana. Tetapi untuk kendaraan roda empat milik warga bisa dihitung dengan jari. Yang ada hanya kendaraan dinas milik pemerintah dan kepolisian.
Jika ke Kepulauan Banda jangan hanya ke Banda Naira. Di sini ada banyak pulau-pulau lain yang lebih juga tidak kalah untuk dijelajahi, seperti Pulau Banda Besar, Pulau Lonthoir, Pulau Ai, Pulau Run, Pulau Gunung Api, Pulau Hatta.
Pulau terakhir pernah menjadi tempat pengasingan Bung Hatta, seorang Proklamator dan pernah pernah menjadi Wakil Presiden RI. Pulau-pulau lain yang tidak berpenghuni pesonanya juga tidak kalah menarik.
Peninggalan Sejarah
Sejarah perebutan pulau, dan genosida, dan perdagangan di masa lalu tersebut membuat Banda Neira kini memiliki banyak objek wisata sejarah dan museum. Tempat-tempat ini ramai dikunjungi turis baik dalam negeri maupun mancanegara.
Misalnya Benteng Belgica bangunan peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga rumah tempat dibuangnya Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta, yang kini menjadi museum. Bangunanan ini didirikan pada tahun 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Bot.
Letak bentang berada di atas bukit yang berfungsi mengawasi masuk keluarnya kapal ke Banda Neira. Lalu Benteng Nassau yang awalnya dibangun Portugis di tepi pantai sebagai pertahanan, kemudian oleh Belanda pada masa JP Coen tahun 1622 diperbesar. Kedua benteng ini pun ramai dengan wisatawan yang ingin menjelajah sejarah perjuangan kemerdekaan di sana.
Tidak hanya objek wisata sejarah, tak kalah menarik adalah Istana Mini Neira yang dibangun pada 1622 silam, berada di Desa Dwiwarna. Bentuk istana ini menyerupai Istana Bogor namun dengan versi mini. Belanda membangun istana itu untuk kantor administrasi dan rumah Gubernur serta residennya. wap/hay
- Kepulauan Banda
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Wahyu AP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.