IHSG dalam Perdagangan, Kamis (13/11) Terancam Melemah, Investor Pilih Tunggu Sinyal dari The Fed

Rabu, 12 Nov 2025, 23:59 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi berbalik arah melemah dalam perdagangan, Kamis (13/11). Potensi pembalikan arah IHSG mencerminkan kewaspadaan investor terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Sikap wait and see muncul karena pasar menanti sinyal lebih jelas terkait kemungkinan perubahan suku bunga acuan AS. Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menahan aksi beli, sehingga volatilitas pasar meningkat.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas melintasi layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Asprilla Dwi Adha.

Jika pidato bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed memberi indikasi pelonggaran kebijakan, sentimen positif bisa mendorong arus modal masuk kembali ke pasar saham domestik. Sebaliknya, bila nada yang disampaikan cenderung hawkish, IHSG berisiko melanjutkan tekanan korektif dalam jangka pendek.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat investor akan mencermati pidato The Fed yang dapat memberi arah baru bagi pasar. Herditya memproyeksikan IHSG dalam perdagangan, Kamis (13/11), berpotensi terkoreksi terbatas dengan level support di 8.372 dan resistance di 8.415.

Sebelumnya,IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (12/11) sore ditutup menguat 22,06 atau 0,26 persen ke posisi 8.388,57 di tengah pelaku pasar mencermati rencana redenominasi mata uang rupiah. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 4,22 poin atau 0,50 persen ke posisi 846,91.

“Redenominasi bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor terhadap mata uang bila dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta dalam kajiannya di Jakarta.

Dari dalam negeri, Rancangan Undang- Undang (RUU) Redenominasi Rupiah telah memasuki Prolegnas Jangka Menengah 2025-2029 sebagai inisiatif pemerintah. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menekankan akan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pertumbuhan ekonomi selama proses redenominasi berlangsung.

Dari mancanegara, meredanya perang tarif antara AS dengan Tiongkok dan sinyal berakhirnya government shutdown (penutupan pemerintahan) AS direspon positif oleh pelaku pasar. Senat AS meloloskan RUU untuk mendanai pemerintah federal hingga Januari 2025, dan mengakhiri penutupan terpanjang dalam sejarah AS.

RUU tersebut, yang disahkan dengan suara 60-40 persen dan didukung sebagian senator Partai Demokrat dan hampir semua senator Republik, akan dikirim ke DPR. Apabila lolos di DPR, RUU akan diserahkan kepada Presiden AS Donald Trump untuk ditandatangani menjadi UU.

Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang naik sebesar 1,78 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor barang konsumen primer yang masing-masing naik sebesar 1,61 persen dan 1,54 persen.

Sedangkan tiga sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun paling dalam sebesar 0,53 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor teknologi yang masing-masing turun 0,50 persen dan 0,31 persen.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.682.641 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 51,32 miliar lembar saham senilai 22,34 triliun rupiah. Sebanyak 343 saham naik, 323 saham menurun, dan 147 tidak bergerak nilainya. 

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.