Studi Accenture: Ambisi Besar, Kesiapan Rendah: Tantangan Adopsi AI di Asia Pasifik
Selasa, 11 Nov 2025, 17:23 WIBJAKARTA - Disrupsi di kawasan Asia Pasifik terus meningkat seiring dengan perubahan ekonomi, teknologi, dan geopolitik yang berlangsung. Studi Accenture menemukan, sebanyak 92% eksekutif mencatat peningkatan intensitas perubahan sejak awal tahun, dan 86% meyakini tren ini akan terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Kawasan Asia Pasifik menonjol karena perkembangan yang pesat tapi juga dan pola pikir yang berani. Para pimpinan perusahaan di kawasan ini terus memperkuat investasi dalam AI, meskipun di tengah kekhawatiran terhadap resesi. Namun, optimisme tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan investasi dalam pelatihan tenaga kerja, yang menciptakan kesenjangan antara ambisi dan kemampuan.
Kurang dari separuh eksekutif yang disurvei menganggap pelatihan dan pengembangan karyawan sebagai elemen penting dalam transformasi AI, bahkan ketika karyawan secara aktif menggunakan teknologi ini. Hasilnya: tenaga kerja yang antusias tetapi tidak siap untuk menghadapi masa depan berbasis AI.
Untuk memastikan ambisi sejalan dengan kemampuan, para pimpinan perusahaan perlu membangun fondasi yang kokoh; tidak hanya melalui sistem yang kuat, tetapi juga dengan membekali tim dengan keterampilan yang memadai. Langkah ini penting untuk mendukung pertumbuhan dan mewujudkan visi perusahaan dalam penerapan AI secara lebih luas.
CEO Accenture Southeast Asia Anoop Sagoo, mengatakan Asia Tenggara sedang berada di masa disrupsi yang berkelanjutan, di mana perubahan kini menjadi satu-satunya hal yang konstan. Di seluruh kawasan, pihaknya melihat momentum kuat di balik investasi AI. Namun, antusiasme saja tidak cukup untuk menciptakan dampak.
âBanyak pimpinan yang masih kurang berinvestasi pada pelatihan tenaga kerja, sehingga menimbulkan kesenjangan kesiapan yang membatasi potensi penuh penggunaan AI. Ketika karyawan menunjukkan kemauan untuk beradaptasi, itu bukan sekadar sinyal, tetapi peluang untuk membangun keterampilan yang dibutuhkan agar AI benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal,â ujar dia melalui keterangan tertulis pada hari Selasa (11/11).
Studi terbaru Pulse of Change oleh Accenture mengulas hubungan yang terus berkembang antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja. Studi ini melibatkan 700 pimpinan perusahaan dan 713 karyawan di kawasan Asia Pasifik.
Hasil temuan dari studi ini mengungkapkan sejauh mana keselarasan dan perbedaan antara pandangan para pimpinan dan karyawan, terutama dalam hal penerapan AI, kesiapan tenaga kerja, dan investasi pada teknologi agentic AI.
Meskipun para pimpinan dan karyawan menunjukkan pandangan yang selaras terhadap manfaat AI, Accenture masih menemukan perbedaan yang cukup besar terkait seberapa siap tenaga kerja dan perusahaan dalam mengadopsi teknologi ini.
Beberapa hal yang dianggap selaras adalah, AI kini tidak lagi dianggap sekadar alat bantu, melainkan berperan sebagai ârekan kerjaâ dalam aktivitas sehari-hari. Tantangan utama bagi banyak perusahaan saat ini adalah menyelaraskan visi kepemimpinan dengan kesiapan karyawan, karena kurangnya pelatihan dan peningkatan keterampilan dapat menghambat keberhasilan transformasi AI di berbagai organisasi.
Temuan utama dari studi ini adalah meskipun ada ketidakpastian ekonomi dan ancaman resesi, 86% eksekutif perusahaan di Asia Pasifik berencana untuk meningkatkan investasi AI pada 2025, namun hanya 41% yang memprioritaskan pelatihan dan pengembangan karyawan untuk mendukung transformasi tersebut.
Para pimpinan perusahaan menyadari dampak positif AI, di mana 58% melaporkan peningkatan produktivitas terbesar di bidang IT/teknologi, diikuti dengan bagian operasional (43%) dan penelitian dan pengembangan (41%).
Dari sisi karyawan, 55% mengatakan bahwa mereka kini lebih sering mengandalkan AI untuk membantu menyelesaikan tugas dibandingkan meminta bantuan kepada rekan kerja. Penggunaan AI paling umum adalah untuk analisis data (51%), disusul untuk keperluan pembelajaran dan pengembangan, serta riset.
Namun, ambisi dan investasi ini belum diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja. Sebanyak 73% karyawan merasa kecepatan perkembangan AI melampaui kemampuan perusahaan mereka dalam memberikan pelatihan yang memadai.
AI telah memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan pengembangan karyawan. Sebanyak 57% responden menyatakan bahwa AI membantu mereka belajar dan meningkatkan keterampilan, sementara 51% merasa teknologi ini mendukung mereka dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan berbasis data.
Untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menggunakan AI, 48% karyawan berharap mendapatkan lebih banyak waktu untuk bereksperimen dan belajar langsung, sementara 46% menginginkan pedoman perusahaan yang jelas tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Tingkat kepercayaan terhadap organisasi di kawasan Asia Pasifik tergolong tinggi, di mana 82% karyawan percaya bahwa institusi mereka berkomitmen untuk membantu mereka tetap relevan di era AI, dan 82% merasa didukung untuk tumbuh dan beradaptasi di tengah perubahan cepat.
Namun, masih terdapat kesenjangan pemahaman, karena hanya 48% karyawan yang mengaku memiliki pemahaman yang cukup tentang potensi nilai yang dapat diciptakan oleh AI generatif.
Karyawan juga secara aktif mencari kesempatan belajar di luar tempat kerja untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman mereka tentang AI. Sebanyak 57% mengikuti kursus atau tutorial online, sementara 52% lainnya memanfaatkan blog dan media sosial sebagai sumber pembelajaran tambahan.
Agentic AI, sistem yang dapat bertindak, mengambil keputusan, dan berkolaborasi dengan intervensi manusia yang minimal, semakin banyak diterapkan di berbagai tingkat organisasi, mulai dari jajaran pimpinan hingga karyawan. Sebanyak 83% pimpinan perusahaan percaya bahwa infrastruktur teknologi mereka sudah siap untuk mengadopsi agentic AI, sementara 82% menilai strategi pengelolaan talenta mereka dapat mendukung penerapan teknologi tersebut.
Investasi di teknologi ini juga semakin meningkat. Sebanyak 63% pimpinan perusahaan aktif berinvestasi dalam pengembangan agentic AI, dan 57% telah melakukan uji coba atau penerapan awal.
Sementara itu, hanya 45% karyawan yang rutin menggunakan AI agents. Meski demikian, tingkat penerimaan terhadap teknologi ini tergolong tinggi: 83% merasa nyaman mendelegasikan tugas kepada AI, 82% percaya AI dapat memberi mereka lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan yang kreatif dan strategis, 79% yakin AI akan bertindak selaras dengan tujuan organisasi, dan 74% merasa siap memimpin tim yang melibatkan AI sebagai rekan kerja aktif.
Jayant Bhargava, Country Managing Director, Accenture Indonesia, mengatakan Hasil riset Pulse of Change mencerminkan apa terjadi di Indonesia. Laju transformasi kini semakin cepat, didorong oleh kemajuan AI, otomatisasi, dan digitalisasi.
âBanyak organisasi masih terlalu berfokus pada penerapan teknologi tanpa sepenuhnya meningkatkan kemampuan talenta. Padahal, transformasi hanya akan terjadi ketika kemampuan manusia, seperti budaya, keterampilan, dan proses berkembang sejalan dengan inovasi,â ujar dia.
Ia menerangkan, Indonesia kini memasuki tahap penting dalam perjalanan adopsi AI. Dengan ekonomi digital yang dinamis, ekosistem startup yang berkembang pesat, serta dukungan kuat dari pemerintah melalui inisiatif seperti Strategi Nasional AI, Indonesia tengah membangun fondasi bagi pertumbuhan AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
âUntuk itu, dengan memanfaatkan potensi talenta muda dan infrastruktur digital yang terus berkembang, Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis untuk mendorong transformasi di berbagai sektor,â ucapnya.
- Karyawan
- Studi
- Firma Riset
- Accenture
- kecerdasan buatan (AI)
- Pulse of Change
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Minyakita Tembus Rp15.900, Mendag Bongkar Biang Keroknya: Gara-gara Plastik
-
Harga Gas Elpiji 12 Kg Naik Jadi Rp228.000 dan Elpiji 5,5 Kg Jadi Rp107.000
-
Amartha Soroti Pentingnya Kesehatan Finansial bagi UMKM dan Ekonomi Akar Rumput
-
Pemerintah Percepat Ekosistem AI dan Data Center untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi
-
Infrastruktur Siap AI Penting untuk Dorong Ekonomi Digital Indonesia
-
Perusahaan Dituntut Perkuat SDM Berbasis Teknologi untuk Hadapi Disrupsi
-
G7 Bersatu Lawan Dominasi Tiongkok, Indonesia Ikut dalam Strategi Rantai Pasok Mineral Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.