Tekanan Ekonomi Tak Kunjung Reda, Masyarakat Cenderung Berhemat, Pilih Naik dengan ASDP

Kamis, 06 Nov 2025, 18:41 WIB

JAKARTA-Masyarakat semakin efisien dalam menggunakan moda transportasi. Di tengah tekanan ekonomi yang tidak kunjung reda, pilihan menggunakan moda transportasi laut menjadi semakin realistis

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), angkutan penumpang mengalami penurunan di semua moda transportasi, kecuali angkutan sungai, danau, dan penyeberangan (ASDP).

Ket. Foto: Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah penumpang angkutan sungai, danau, dan penyeberangan pada September 2025 sebanyak 3,9 juta orang atau naik 1,46% month to month (MtM) dan 7,88% year on year (YoY) — Sumber: Antara

 Pengamat Maritim Marcellus Hakeng menuturkan, penurunan penumpang pada moda lain mencerminkan masa transisi sosial-ekonomi masyarakat, setelah puncak mobilitas libur panjang Agustus. 

“Fenomena ini tidak murni karena masyarakat menjadi irit, melainkan karena mereka semakin rasional dalam membaca situasi ekonomi,”ungkapnya Kamis (6/11). 

Mengutip data BPS jumlah penumpang angkutan sungai, danau, dan penyeberangan pada September 2025 sebanyak 3,9 juta orang atau naik 1,46% month to month (MtM) dan 7,88% year on year (YoY). Pada periode yang sama, angkutan udara domestik -5,13% MtM, udara internasional turun -6,96%, dan angkutan kereta susut sebesar -1,23%. 

Fenomena ini lanjut Marcellus diperkuat oleh kondisi September ini yang mana rumah tangga baru saja melewati periode pengeluaran besar seperti libur sekolah, tahun ajaran baru, dan konsumsi pascalebaran yang berkepanjangan. Inflasi pangan dan transportasi masih terasa, sementara harga avtur yang tinggi membuat tiket pesawat lebih mahal. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga melemah sehingga perjalanan internasional jadi tidak ekonomis. 

Dalam kondisi seperti itu terangnya, masyarakat bukan hanya mengurangi frekuensi perjalanan, tetapi juga mengubah moda transportasi. “Mereka yang tetap harus bepergian mencari jalur yang paling efisien, dan ASDP menjadi solusi karena menawarkan biaya murah sekaligus memungkinkan kendaraan pribadi dibawa,"paparnya.

Dia mencontohkan tiket penyeberangan Merak–Bakauheni mobil pribadi seharga 749.128 rupiah untuk layanan express dan 481.800 rupiah untuk layanan regular. Harga tersebut sudah termasuk penumpang.  

Menurut Capt Marcellus, biaya ini jauh lebih murah ketimbang menggunakan pesawat, yang dibanderol dengan harga termurah sekitar 600 ribu rupiah per orang, dari Bandara Internasional Soekarno—Hatta (CGK) ke Bandara Raden Inten II (TKG). 

Dengan pilihan ASDP terangnya, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi lanjutan atau logistik di daerah tujuan. Cukup membayar satu tiket, tetapi mendapatkan mobilitas ganda, yakni kendaraan, keluarga, dan barang bisa dibawa sekaligus, tanpa perlu menyewa transportasi ulang di daerah tujuan. "Berbeda dengan pesawat atau kereta yang meski lebih cepat, tetap membutuhkan biaya tambahan untuk transportasi lanjutan, logistik, dan akomodasi barang,"pungkasnya

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.