Trump–Takaichi Tanda Tangani Kesepakatan Mineral Langka

Rabu, 29 Okt 2025, 01:00 WIB

TOKYO – Perdana Menteri Jepang yang baru, Sanae Takaichi dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (28/10), menandatangani kesepakatan kerangka kerja untuk mengamankan pasokan mineral langka (rare earths), sebagai langkah strategis guna mengurangi dominasi Tiongkok dalam rantai pasok komponen elektronik penting.

Dikutip dari The Straits Times, penandatanganan dilakukan di Istana Akasaka, Tokyo, disaksikan para pejabat kedua negara. Kesepakatan tersebut mencakup kerja sama di bidang mineral kritis, tanpa menyebut Tiongkok secara langsung, meski negara itu diketahui mengolah lebih dari 90 persen pasokan mineral langka dunia, menjadikannya sumber utama kekhawatiran bagi rantai pasok global AS dan Jepang.

Ket. Foto: PM Jepang Sanae Takaichi (kanan) dan Presiden AS Donald Trump saat penandatanganan kerja sama setelah KTT Jepang- AS di Wisma Tamu Negara Akasaka di Tokyo, Selasa (28/10). — Sumber: AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS

Tiongkok baru-baru ini memperketat pembatasan ekspor mineral langka. Sementara itu, Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada 30 Oktober di Korea Selatan di sela KTT APEC untuk membahas kesepakatan yang akan menunda kenaikan tarif AS dan pengendalian ekspor Tiongkok.

Menurut Gedung Putih, kedua negara akan menggunakan instrumen kebijakan ekonomi dan investasi bersama untuk mempercepat pengembangan pasar mineral kritis dan rare earths yang lebih beragam, likuid, dan adil. Mereka juga menargetkan dukungan pendanaan bagi proyek-proyek strategis dalam enam bulan ke depan.

AS dan Jepang juga akan menyusun mekanisme penyimpanan cadangan bersama serta berkoordinasi dengan mitra internasional lain guna memperkuat keamanan rantai pasok.

Saat ini, menurut Eurasia Group, Tiongkok masih mendominasi sektor ini, sementara AS dan Myanmar masing-masing menguasai 12 persen dan 8 persen produksi global, Malaysia menyumbang 4 persen dari pemrosesan, dan Vietnam sekitar 1 persen.

Kesepakatan AS–Jepang ini dinilai menjadi tonggak baru dalam aliansi ekonomi strategis yang berpotensi mengubah peta persaingan global di sektor mineral kritis, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan industri elektronik dan energi bersih dunia.

Sanksi Russia

Jepang berkomitmen untuk menginvestasikan 550 miliar dollar AS (sekitar 8.800 triliun rupiah) ke dalam perekonomian AS, sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan bilateral baru yang mencakup kerja sama di bidang pembangkit listrik dan gas alam cair (LNG), menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.

Menjelang kunjungan Presiden Trump ke Asia, Washington meminta negara-negara pembeli energi Russia, termasuk Jepang, untuk menghentikan impor dan memberlakukan sanksi terhadap dua eksportir minyak terbesar Russia, Rosneft dan Lukoil, guna menekan Kremlin agar mengakhiri perang di Ukraina.

Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang meningkatkan pembelian LNG dari AS sebagai bagian dari upaya diversifikasi pasokan dari pemasok utama sebelumnya, yaitu Australia, serta mengantisipasi berakhirnya kontrak dari proyek Sakhalin-2 di Russia, yang diluncurkan oleh Mitsui dan Mitsubishi pada 2009.

Pada Juni lalu, Jera, pembeli LNG terbesar Jepang, menandatangani kontrak 20 tahun untuk membeli hingga 5,5 juta ton LNG per tahun dari AS, dengan pengiriman dimulai sekitar 2030 — jumlah yang setara dengan volume impor tahunan dari Sakhalin-2.

Sebagian besar pasokan dari Sakhalin-2 yang memenuhi sekitar 9 persen kebutuhan gas Jepang dan akan berakhir antara 2028 hingga 2033. Saat ini Jepang hanya mengimpor kurang dari 1 persen minyak dari Russia di bawah pengecualian sanksi, dengan pasokan utama minyaknya berasal dari Timur Tengah.

Pekan lalu, Tokyo Gas, pemasok gas kota terbesar Jepang, menandatangani kesepakatan awal untuk membeli 1 juta ton LNG per tahun dari proyek Alaska LNG, setelah Jera membuat pengumuman serupa pada September.

Jera juga menggelontorkan investasi senilai 1,5 miliar dollar AS untuk aset gas di Louisiana, menandai langkah pertamanya dalam produksi hulu di AS, di mana Tokyo Gas dan Mitsui telah lebih dulu beroperasi.

  • Perjanjian Dagang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.