PLTP Mataloko Ditargetkan Beroperasi pada 2031: Tonggak Baru PLN Menuju Indonesia Bebas Emisi!
Senin, 27 Okt 2025, 00:00 WIBProyek PLTPMataloko bukan semata agenda energi, tetapi juga instrumen pembangunan inklusif yang memperkuat kemandirian energi dan kesejahteraan masyarakat NTT.
NGADA â PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menunjukkan optimisme tinggi terhadap pengembangan proyek pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) untuk listrik atau PLTPMataloko di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditargetkan mencapai tahap operasi komersial (Commercial Operating Date/ COD) pada 2031. Optimisme ini berangkat dari kemajuan signifikan dalam proses eksplorasi dan penguatan infrastruktur pendukung, sekaligus menjadi bukti keseriusan PLN dalam mempercepat transisi menuju energi bersih.
Proyek ini tidak hanya akan memperkuat keandalan sistem kelistrikan di kawasan timur Indonesia, tetapi juga memperluas portofolio energi terbarukan nasional yang menjadi bagian dari komitmen mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Di tengah tantangan geografis dan teknis yang khas di wilayah NTT, keberhasilan proyek Mataloko akan menjadi tonggak penting pembuktian kemampuan PLN mengelola potensi energi bumi yang berlimpah secara berkelanjutan.
Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara, Bobby Robson Sitorus menuturkan hingga kini pengembangannya terus menunjukkan kemajuan dan bakal beroperasi dan mensuplai listrik untuk Masyarakat pulau Flores, termasuk untuk kebutuhan listrik di Labuan Bajo yang berjarak 262 kilometer (km) dari Ngada.
âPengembangan PLTP Mataloko ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Untuk saat ini sudah sampai pada fase penyiapan Wallpad A. yang ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2025. Selanjutnya mulai masuk pada tahapan pengeboran. Ditargetkan pada 2027 nanti sudah COD,â terang Bobby ketika ditemui di lokasi PLTP Panas Bumi Mataloko, Ngada, Jumat (24/10).
Bobby kemudian menjelaskan perjalanan singkat dari pengembangan PLTP Mataloko yang berlokasi di Desa Ulubelu ini. PLN mulai mengembangkan PLTP ini pada 2022 dengan melakukan pra-konstruksi. âDimulai dengan mengurus perizinan-perizinan baik itu izin lingkungan, kemudian kesesuaian ruang, lalu ada izin prinsip dan banyak izin lain. Tahap ini sudah selesai dalam periode 2021-2022,â lanjut Bobby.
Setelah perizinan berhasil dikantongi akan dilanjutkan dengan kegiatan pengadaan tanahpada 2022 sampai 2024. âSetelah itu baru kami lakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan sepanjang 7 km dan penyiapan wellpad. Ada 4 wellpad ditambah satu laydown dan area kamp,â
Boby menambahkan, untuk kontruksi infrastruktur saat ini kemajuannya mencapai 89 persen. Diperkirakan di akhir tahun konstruksi sudah 100 persen, selanjutnya persiapan untuk pengeboran. Melihat kemajuan saat ini, Bobby mengakui pihak PLN Optimis PLTP Mataloko akan COD pada 2031.
Bobby berujar, PLN UIP NUSRA juga punya strategi khusus menghadapi penolakan dan juga kendala lapangan yang dihadapi. Dari pengamatan di lokasi pengembangan PLTP Mataloko terlihat masyarakat khusus di Desa Ulubelu sangat mendukung proyek ini.
Demikian juga tokoh masyarakat yang juga tokoh adat Yohanes Baghi. Seperti Masyarakat lain, dia berharap proyek ini segera beroperasi agar masyarakat di sekitar wilayah kerja panas bumi ini menikmati manfaatnya.
Panen Sayur
Di sekitar lokasi panas bumi juga, masyarakat masih bisa menggarap lahan milik PLN untuk menanam sayur mayur. Marselus Gone (40) sumringah ketika ditanyai kemana sayur-sayuran yang ditanamnya akan dijual. Dia menjawab belum bisa menjual ke luar Bajawa (Ngada), karena produksinya baru permulaan. "Kami belum jual ke tempat lain (luar daerah) paling di Bajawa saja dulu,"ucapnya
Gone bersama sejumlah rekannnya diberikan kesempatan oleh PLN untuk menggarap lahan milik PLN. Beragam jenis sayuran di ditanam, ada sawi, bawang hingga cabai. Atas saran pihak PLN cara tanam pun lebih modern, tidak lagi asal nanam, sehingga lebih menjanjikan dari sisi produksinya.
Dia berkisah, sayur mayur yang ditanam itu tidak menggunakan pupuk karena lahannya subur. Begitupun dengan pasokan air, sama sekali tidak ada ada kendala. "Jadi, tidak ada cerita gara-gara Geothermal (Panas Bumi) ini tanaman tidak tumbuh, debit air kurang. Ini buktinya, sayuran ini tumbuh, padahal ini hanya 30-40 meter dari lokasi manifes," ungkap Gone.
Tak hanya sayur mayur, dalam radius kurang dari 100 meter tehadap lokasi manifest, pohon kemiri yang ditanam tumbuh subur dengan buah lebat. Begitu juga tanaman lainnya, tidak ada kerusakan tanaman warga seperti yang ramai diberitakan.
- Transisi Energi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
PLN EPI: Jangan Tergantung pada Fosil Lagi, Bioenergi Jawabannya, Kolaborasi jadi Kunci
-
Dua Orang Tewas dalam Penembakan di Festival Makanan Seattle
-
Pada Hari Jadi ke-23, PT KAI Services Bagikan Bingkisan para pekerja di Jawa Sumatra
-
Gunung Anak Krakatau Level III, Wisata Anyer dan Cinangka Tetap Aman untuk Liburan.
-
Rekaman Menunjukkan Pasukan Khusus AS Beroperasi di Kamp Wuhan Taiwan, Operasi Meningkatkan Ketegangan dengan Beijing
-
PLTS Didorong Jadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Hijau
-
Manajemen PSIM Bangga, Cahya Supriadi Masuk Skuad Final Timnas Indonesia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.