• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Gaya Hidup Perkotaan Bikin...

Gaya Hidup Perkotaan Bikin Tulang Lebih Cepat Lemah Bahkan Rapuh, Benarkah?

Senin, 20 Okt 2025, 14:45 WIB

Kehidupan perkotaan modern hadir dengan berbagai kemudahan dan kemajuan teknologi, tetapi juga membawa perubahan gaya hidup yang dapat berdampak besar pada kesehatan tulang.

Bukti penelitian menunjukkan bahwa urbanisasi memang dapat berkontribusi terhadap melemahnya tulang lebih dini, terutama karena faktor-faktor seperti berkurangnya aktivitas fisik, perubahan pola makan, dan pengaruh lingkungan.

Ket. Foto: Meskipun perkotaan memiliki akses lebih baik terhadap makanan sehat, prevalensi makanan cepat saji, minuman manis, dan produk segar yang tidak memadai dapat mengganggu kesehatan tulang. — Sumber: Freepik

Seperti dilansir dari NDTV, salah satu faktor paling signifikan yang mempengaruhi kekuatan tulang adalah beban mekanis, tekanan yang dialami tulang saat melakukan aktivitas menahan beban. Dalam gaya hidup pedesaan atau tradisional, individu sering kali melakukan pekerjaan yang menuntut fisik seperti bertani, berjalan jauh, atau bekerja manual.

Aktivitas-aktivitas ini merangsang pembentukan tulang dan mempertahankan kepadatannya. Sebaliknya, gaya hidup perkotaan sering kali melibatkan waktu duduk yang panjang—baik saat bepergian, bekerja di meja, maupun menghabiskan waktu luang di depan layar—yang mengakibatkan stimulasi mekanis tulang yang lebih rendah.

Studi menunjukkan bahwa perilaku sedentari ini dapat mempercepat pengeroposan tulang, terutama pada tulang-tulang yang menopang beban seperti pinggul dan tulang belakang, yang menyebabkan kondisi seperti osteopenia atau osteoporosis pada usia muda.

Apa itu Osteoporosis?

Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan tulang berkurang secara signifikan. Akibatnya, tulang menjadi rapuh dan mudah patah walau hanya karena benturan ringan atau terjatuh. Proses ini merupakan bagian dari penuaan alami, namun bisa terjadi lebih cepat pada kondisi tertentu.

Saat usia muda, tubuh membentuk dan merombak tulang secara seimbang, namun, setelah melewati usia paruh baya, proses perombakan tulang berlangsung lebih cepat dibanding proses pembentukannya. Hal inilah yang menyebabkan kepadatan tulang berkurang seiring bertambahnya usia.

Ahli ginekologi dr Mila Maidarti, SpOG, Subsp FER, PhD, dalam tulisannya di situs web Perosi, mengatakan, perempuan, terutama yang berusia di atas 50 tahun, memiliki risiko osteoporosis hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan pria. Risiko ini dipengaruhi oleh perubahan hormon, khususnya penurunan hormon estrogen setelah menopause. 

Gejala osteoporosis sering kali tidak dirasakan di awal, namun seiring waktu dapat muncul sebagai nyeri tulang dan sendi, penurunan tinggi badan, gangguan berjalan, hingga penurunan massa otot.

Pola makan di lingkungan perkotaan memainkan peran penting dalam menjaga kondisi tulang agar tetap sehat dan kuat. Penduduk kota sering mengonsumsi makanan olahan tinggi yang rendah nutrisi penting seperti kalsium, magnesium, dan vitamin D, semuanya penting untuk perkembangan dan pemeliharaan tulang.

Meskipun wilayah perkotaan mungkin memiliki akses yang lebih baik terhadap makanan yang diperkaya, prevalensi makanan cepat saji, minuman manis, dan produk segar yang tidak memadai dapat mengganggu kesehatan tulang.

Selain itu, meskipun tinggal di kota dengan sinar matahari yang melimpah, banyak penduduk perkotaan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam ruangan, sehingga mengurangi sintesis vitamin D alami, yang vital untuk penyerapan kalsium.

Defisiensi vitamin D semakin banyak dilaporkan pada populasi perkotaan di seluruh dunia, dan kaitannya dengan tulang yang lemah telah diketahui dengan baik.

Faktor lingkungan di perkotaan semakin memperparah masalah ini. Polusi udara, misalnya, telah dikaitkan dengan penurunan kepadatan mineral tulang.

Polutan seperti partikel dapat memicu peradangan sistemik dan stres oksidatif, yang keduanya dapat mengganggu remodeling tulang. Kebisingan, stres, dan gangguan tidur, tantangan umum perkotaan, juga dapat berdampak negatif pada regulasi hormonal, termasuk hormon-hormon penting untuk metabolisme tulang, seperti kortisol dan hormon pertumbuhan.

  • Hari Osteoporosis Sedunia

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

Berita Terkait:

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.