Petani Badui Kembali ‘Ngaseuk’! Tak Tergoda Modernisasi: Melestariakan Tradisi Menanam Padi Huma, Menjaga Alam!
Minggu, 19 Okt 2025, 15:50 WIBLEBAK â Penanaman padi huma oleh Suku Badui bukan sekadar aktivitas bertani, tapi wujud kearifan lokal yang terjaga lintas generasi.
Di tengah arus modernisasi pertanian yang serba mekanis, masyarakat Badui tetap setia pada cara tradisional mereka â menanam padi di lahan kering tanpa pupuk kimia atau alat berat.
Bagi mereka, padi bukan hanya sumber pangan, melainkan simbol kehidupan dan keseimbangan alam.
Menariknya, praktik ini justru mencerminkan prinsip pertanian berkelanjutan yang kini banyak digaungkan dunia modern.
Dengan menghormati siklus alam, menjaga kesuburan tanah, dan menolak eksploitasi sumber daya berlebihan, Suku Badui telah lama menerapkan konsep ekologi sosial tanpa menyebut istilahnya.
Dari sisi ekonomi dan budaya, penanaman padi huma juga menjadi identitas dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin memahami harmoni manusia dengan alam. Tradisi ini membuktikan bahwa kemandirian pangan tidak selalu bergantung pada teknologi tinggi, tapi pada kesadaran menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan kelestarian.
Petani Badui kembali "ngaseuk" atau tanam padi huma di lahan darat di wilayah Blok Cicuraheum Gunungkencana Kabupaten Lebak, Banten karena memasuki jadwal adat masyarakat Suku Badui.
"Sudah sepekan terakhir ini kami masih melaksanakan tanam padi huma," kata Santa (55) seorang petani Badui saat dihubungi di Lebak, Sabtu (18/10).
Penanaman padi huma sebelumnya dilakukan oleh tetua atau tokoh komunitas masyarakat Badui Dalam dan dilanjutkan oleh masyarakat Badui Luar.
Saat ini, masyarakat Badui di wilayah Blok Cicuraheum Gunungkencana masih berlangsung penanaman padi di ladang - ladang hingga dua pekan ke depan.
Mereka petani menanam padi huma dilaksanakan secara gotong royong tanpa dipungut upah, karena sudah menjadikan tradisi bentuk kepedulian masyarakat Badui Dalam maupun Badui Luar.
"Kami ngaseuk padi huma dilakukan secara gotong royong dan kebersamaan sebanyak 10 orang dengan lahan ladang atau kebun darat seluas satu hektare," kata Santa.
Ia mengatakan, sebelum dilakukan penanaman padi huma, terlebih dulu ditanam jahe dan kencur di satu kawasan ladang dengan sistem tumpang sari.
Setelah tanam padi huma, maka dilakukan penanaman pisang, jagung dan aneka sayuran, termasuk tanaman cabai dan tanaman keras, seperti Albasia.
Penanaman dengan sistem tumpang sari itu maka bisa menghasilkan pendapatan ekonomi ada yang tiga bulan sekali, enam bulan, 12 bulan hingga lima tahun.
"Semua hasil tanam tumpang sari itu setelah panen dijadikan pendapatan andalan ekonomi, sedangkan padi huma tidak boleh dijual dan dijadikan cadangan pangan keluarga," kata Santa.
Begitu juga Pulung (55), seorang petani Badui mengatakan dirinya sudah rampung mengaseuk padi huma seluas satu hektare di wilayah Gunungkencana dengan bergotong royong bersama masyarakat Badui.
Penanaman padi huma nanti bisa dipanen selama enam bulan ke depan, karena menggunakan benih padi lokal.
"Kita tanam padi huma Oktober 2025 dan panen dipastikan April 2026, " kata Pulung.
Sekretaris Desa Kanekes Kabupaten Lebak Medi mengatakan masyarakat Badui untuk pelaksanaan jadwal tanam padi di lahan pertanianya sesuai jadwal adat dan pertama dimulai di kawasan Badui Dalam.
Selanjutnya, masyarakat Badui Luar melaksanakan ngaseuk padi, palawija, sayuran dan tanaman keras.
Selama ini, ujar dia, andalan ekonomi masyarakat Badui berjumlah 11.600 jiwa itu dari hasil pertanian ladang di lahan darat dan kemudian perdagangan kerajinan tenun, tas koja serta lainnya.
"Kami mengapresiasi masyarakat Badui kehidupan ekonominya dari bercocok tanam di ladang dengan sistem tanam tumpang sari dan hingga kini tidak ditemukan kerawanan pangan," katanya.
- Petani Badui
- Padi Huma
- Tradisi Ngaseuk
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemkot Pontianak Larang Penggunaan Kantong Plastik
-
Indonesia Borong Empat Gelar Thailand Masters
-
Trump akan Cabut Sanksi Terhadap Suriah
-
Umrah Makin Mudah, Garuda Terbang Langsung dari Lima Bandara ke Jeddah
-
Waspada FOMO! OJK Ingatkan Investor Muda Berhati-hati di Kripto
-
Film Dokumenter Terbaru Lisa Blackpink Sedang dalam Tahap Pengerjaan
-
Pertama di Dunia, Tiongkok Uji Terbang Pesawat Tempur Siluman Generasi Keenam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.