Momen Bersejarah: Tanjung Verde Lolos ke Piala Dunia untuk Pertama Kalinya

Selasa, 14 Okt 2025, 07:44 WIB

JOHANNESBURG, AFRIKA SELATAN - Tim nasional Tanjung Verde menciptakan sejarah besar setelah memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya. Kemenangan 3-0 atas Eswatini, Selasa (14/10) dini hari WIB, menjadi tiket emas bagi negara kepulauan kecil di lepas pantai Senegal itu menuju panggung sepak bola terbesar di dunia.

Dengan populasi sekitar 550.000 jiwa, Tanjung Verde menjadi negara berpenduduk paling sedikit kedua yang pernah tampil di Piala Dunia, setelah Islandia yang berpenduduk sekitar 350.000 jiwa saat berlaga di Russia 2018.

Ket. Foto: Para pemain Tanjung Verde melakukan selebrasi usai lolos ke Piala Dunia 2026, Selasa (14/10) dini hari WIB. — Sumber: AFP

Tanjung Verde menjuarai Grup D zona Afrika dengan koleksi 23 poin, unggul empat angka dari Kamerun, negara dengan rekor delapan kali penampilan di Piala Dunia, yang hanya bermain imbang 0-0 melawan Angola di Yaoundé.

“Memberikan kebahagiaan ini kepada rakyat kami adalah sesuatu yang luar biasa... ini kemenangan untuk seluruh rakyat Tanjung Verde, dan terutama bagi mereka yang telah berjuang demi kemerdekaan kami,” ujar pelatih Pedro Brito, yang akrab disapa Bubista. “Ini momen istimewa bertepatan dengan peringatan 50 tahun kemerdekaan kami.”

Penjaga gawang veteran Vozinha, 39 tahun, tak mampu menahan haru. “Saya memimpikan momen ini sejak kecil. Sekarang saatnya merayakan. Kami tahu bisa tampil lebih baik di babak kedua, dan kami membuktikannya,” ujarnya penuh emosi.

Setelah tampil dominan namun tumpul di babak pertama, Blue Sharks akhirnya meledak di hadapan 15.000 pendukung yang memadati Stadion Nasional di Praia. Dalam sembilan menit awal babak kedua, Dailon Livramento dan Willy Semedo mencetak dua gol cepat melalui penyelesaian jarak dekat.

Livramento membuka keunggulan pada menit ke-48 lewat gol keempatnya di sepanjang kualifikasi, disusul gol Semedo enam menit berselang. Di masa tambahan waktu, pemain pengganti Stopira memanfaatkan bola liar untuk menutup pesta gol menjadi 3-0.

Tanjung Verde memang dikenal banyak mengandalkan pemain keturunan yang lahir di luar negeri. Livramento lahir di Rotterdam, sementara Semedo berasal dari pinggiran Paris. Dari sebelas starter, tiga bermain di Portugal, dan sisanya tersebar di Amerika Serikat, Irlandia, UEA, Rumania, Rusia, Belanda, Turki, dan Siprus.

Sebaliknya, Eswatini tampil dengan pendekatan defensif menggunakan formasi 5-4-1, nyaris tanpa ancaman berarti bagi gawang Vozinha. Setelah kebobolan dua gol cepat, tim asal Afrika bagian selatan itu tak mampu bangkit, menutup kualifikasi dengan tujuh kekalahan dan tiga hasil imbang.

“Terlalu emosional… Saya memeluk seluruh rakyat Tanjung Verde, baik di tanah air maupun di diaspora besar kami di luar negeri,” kata Stopira. Sementara kapten Ryan Mendes menambahkan, “Saya benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Ini momen luar biasa, saya sangat, sangat bahagia.”

Kisah lolosnya Tanjung Verde menjadi semakin manis karena diawali dengan awal yang buruk. Mereka hanya bermain imbang 0-0 melawan Angola di kandang dan kalah telak 1-4 dari Kamerun di Yaoundé. Dengan hanya empat poin dari tiga laga pertama, peluang Blue Sharks sempat tampak tipis.

Namun setelah kekalahan di Kamerun, kebangkitan luar biasa terjadi. Tanjung Verde memenangi lima laga beruntun, termasuk kemenangan tipis atas Angola (tandang) dan Kamerun (kandang), hingga akhirnya membutuhkan tiga poin dari dua laga terakhir. Hasil imbang 3-3 melawan Libya sudah cukup membuka jalan sebelum pesta kemenangan atas Eswatini memastikan sejarah.

Menariknya, keberhasilan ini datang kurang dari setahun setelah Tanjung Verde gagal total di kualifikasi Piala Afrika 2025, hanya menang sekali dari enam laga dan gagal lolos ke turnamen utama. Meski demikian, federasi tetap mempercayakan kursi pelatih kepada Bubista.

Pelatih berusia 55 tahun itu pernah menjadi bek tengah andalan timnas dengan 21 caps. Setelah dua periode sebagai asisten pelatih dan menangani lima klub lokal, ia ditunjuk memimpin tim nasional pada 2020. Di bawah arahannya, Tanjung Verde tampil di dua edisi Piala Afrika terakhir,  di Kamerun (2022) dan Pantai Gading (2024), dan selalu menembus fase gugur.

Mereka bahkan mencapai perempat final tahun lalu sebelum tersingkir secara dramatis lewat adu penalti melawan Afrika Selatan, setelah empat penendangnya gagal mencetak gol.

Kini, Bubista dan para pemainnya telah menulis babak paling bersejarah dalam sepak bola Tanjung Verde, membawa negara kecil di Samudra Atlantik itu menuju panggung megah Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.

“Ini bukan hanya kemenangan sepak bola,” kata Bubista usai laga. “Ini adalah kemenangan bagi bangsa kecil yang bermimpi besar.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.