KLH Dorong Eksplorasi Nilai Ekonomi Karbon Biru untuk Target Pengurangan Emisi

Selasa, 14 Okt 2025, 17:25 WIB

Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyoroti potensi besar nilai ekonomi karbon biru di Indonesia dan pemanfaatannya melalui jasa lingkungan dan perdagangan karbon yang diharapkan berkontribusi dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq dalam pidato kunci yang dibacakan Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLH, Franky Zamzani dalam diskusi membahas nilai ekonomi karbon biru di Jakarta, Selasa (14/10), menyoroti potensi besar karbon biru Indonesia, karena ekosistem mangrove dan lamun, termasuk yang dimanfaatkan melalui jasa lingkungan dan perdagangan karbon.

Ket. Foto: Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLH Franky Zamzani membacakan sambutan Menteri LH secara daring dalam diskusi di Jakarta, Selasa (14/10). — Sumber: Antara

"Melalui mekanisme perdagangan karbon atau skema jasa lingkungan, ekosistem pesisir dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional yang berkelanjutan dan upaya konservasi dan restorasi karbon biru," katanya.

Tidak hanya mendukung target pengurangan emisi, katanya, tapi juga memberikan manfaat tambahan, seperti menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan produktivitas perikanan, memperkuat ketahanan masyarakat pesisir, serta membuka peluang ekonomi baru yang berkeadilan.

Indonesia sedang melakukan pendekatan multiskema perdagangan karbon yang membuka ruang untuk dunia usaha dan masyarakat berpartisipasi melalui proyek-proyek skala kecil yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung ketahanan iklim.

Dalam pelaksanaan perdagangan karbon, dia mengingatkan pentingnya menjaga integritas dan kredibilitas karbon yang akan berpengaruh terhadap keberlanjutan implementasi nilai ekonomi karbon.

"Saya menekankan bahwa seluruh benefit yang diperoleh dari implementasi nilai ekonomi karbon harus dikembalikan untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi dalam pencapaian target Nationally Determined Contribution," ujarnya.

Menurut penelitian yang dilakukan Daniel Murdiyarso selaku ilmuwan utama di Center for International Forestry Research and World Agroforestry (CIFOR-ICRAF) dan dipublikasikan di jurnal Nature, dengan hutan mangrove seluas 3,39 juta hektare, terdapat potensi cadangan karbon sebesar 3,14 miliar ton.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.