Perdagangan Global Dinilai Berat Sebelah, Saatnya Main Setara di Meja Dunia!

Senin, 13 Okt 2025, 00:00 WIB

JAKARTA – Perdagangan multilateral idealnya berjalan dengan prinsip keadilan, kesetaraan, dan saling menguntungkan. Namun dalam praktiknya, negara-negara berkembang sering kali menghadapi tantangan struktural yang membuat posisi tawar mereka lebih lemah.

Karenanya, negara-negara besar perlu berperan aktif membantu menciptakan keseimbangan, tidak hanya lewat akses pasar yang lebih terbuka, tetapi juga dukungan terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pendekatan kolaboratif seperti ini penting agar globalisasi benar-benar memberi manfaat merata, bukan hanya menguntungkan pihak yang sudah kuat secara ekonomi.

Ket. Foto: Kesepakatan multilateral harus mampu mendorong perdagangan yang adil, setara, dan menguntungkan masyarakat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi kedua negara. — Sumber: istimewa

Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa menegaskan kesepakatan multilateral harus mampu mendorong perdagangan yang adil, setara, dan menguntungkan masyarakat. Kerja sama harus mampu meningkatkan kesejahteraan sosial kedua negara. Bukan hanya negara tertentu semata.

"Kesepakatan jangan hanya untungkan negara-negara besar saja. Mesti win win solution (saling menguntungkan)," ujar Awan dari Yogyakarta, Minggu (12/10).

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menegaskan pentingnya memperkuat komitmen terhadap sistem perdagangan multilateral yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Dia mendorong negara berkembang untuk mempercepat industrialisasi berkelanjutan.

Penegasan ini disampaikan Mendag Busan dalam sesi kedua G20 Trade and Investment Ministerial Meeting (TIMM) di Gqberha, Afrika Selatan, Jumat, (10/10). Sesi ini membahas tema Trade and Investment Framework to Address Industrialisation and Sustainable Development.

“Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan ketegangan perdagangan global, multilateralisme harus dijaga dan diperkuat melalui reformasi internal yang bermakna. Multilateralisme bukan sekadar retorika, melainkan instrumen penting bagi pertumbuhan dan keberlanjutan,” ujar Mendag.

Dia pun menyoroti perlunya memperkuat fondasi domestik agar kebijakan strategis mampu menjawab tantangan global yang terus berubah. Menurutnya, kekuatan ekonomi harus dibangun dari dalam negeri, melalui kebijakan yang sehat, konektivitas regional yang kuat, dan kolaborasi produktif lintas negara.

Prioritas Utama

Pada sesi ini, Budi menyampaikan tiga prioritas utama bagi negara berkembang untuk mempercepat industrialisasi berkelanjutan. Pertama, membangun dan memanfaatkan kapasitas produktif untuk mendorong transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi dan berbasis pengetahuan.

Kedua, naik kelas dalam rantai nilai global, terutama dengan memperluas basis manufaktur di sektor strategis seperti semikonduktor, baterai kendaraan listrik, dan farmasi. Ketiga, mengembangkan industri hijau untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon yang inklusif dan berkeadilan.

Mendag juga menegaskan pentingnya integrasi perdagangan regional sebagai instrumen strategis untuk memperkuat rantai pasok kawasan dan memperluas akses pasar. Dalam konteks ini, Asean telah berperan sebagai jangkar stabilitas dan basis produksi utama di berbagai sektor.

Sementara itu, Dosen Magsiter Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko menegaskan negara-negara maju harus turut memiliki tanggung jawab moral dan ekonomi untuk membantu negara berkembang. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan upaya mempercepat transisi energi misalnya negara yang sekarang sudah maju sebenarnya sudah lebih dahulu merusak lingkungan.

"Karena itu mereka harus ikut bertanggung jawab, baik secara financial maupun bantuan program," tegasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.