Dana Jumbo Rp200 Triliun Digelontorkan, Produktivitas Nasional Harus Melesat Tajam!
Kamis, 09 Okt 2025, 16:50 WIBJAKARTA â Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong peningkatan produktivitas ekonomi lewat penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di lima bank umum.
Langkah ini diharapkan bisa memperkuat likuiditas perbankan dan mempercepat penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif, terutama UMKM dan industri penggerak ekonomi daerah.
Dengan tambahan likuiditas ini, bank memiliki ruang lebih besar untuk menurunkan suku bunga kredit dan memperluas pembiayaan.
Namun, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada kemampuan bank menyalurkan dana ke sektor riil, bukan sekadar menumpuk likuiditas di pasar uang.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong peningkatan produktivitas melalui penempatan dana pemerintah senilai Rp200 triliun di lima bank umum.
âKami berharap untuk para banker ini agar undisbursed loan (kredit menganggur) didorong agar para pengusaha bisa untuk merealisasikan proyek,â ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (9/10).
Berdasarkan perhitungan Airlangga, kredit menganggur atau kredit yang belum tersalurkan mencapai sekitar Rp2.300 triliun hingga September 2025. Padahal, kredit tersebut dapat memicu pergerakan sektor riil.
âMaka, kalau undisbursed loan ini bisa dipacu untuk masuk ke sektor riil, ini sebuah angka yang besar juga,â tutur Airlangga.
Dalam kesempatan tersebut, Airlangga menegaskan penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun tak hanya untuk menginjeksi likuiditas, tetapi juga menjadi strategi untuk mengaktifkan kembali fungsi intermediasi perbankan.
Adapun dana Rp200 triliun kini telah ditempatkan di lima bank yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Mandiri, masing-masing sebesar Rp55 triliun, serta Bank Tabungan Negara (BTN) Rp25 triliun dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Rp10 triliun.
Pemerintah menginginkan dana yang disuntikkan oleh pemerintah benar-benar mengalir ke sektor riil.
âArtinya Rp200 triliun ini supaya para bankir bangun. Tadinya sudah menghitung bonus, tapi sekarang harus putar otak bagaimana dalam tiga bulan cost of fund-nya bisa lebih rendah, agar uang ini bekerja,â kata Airlangga.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyambut baik kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menempatkan dana Rp200 triliun di lima bank umum mitra karena semakin memperkuat injeksi likuiditas yang sudah dilakukan bank sentral.
Ia mengatakan Bank Indonesia terus melakukan ekspansi likuiditas moneter salah satunya melalui penurunan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp716,62 triliun pada 15 September 2025.
Selain itu, bank sentral membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal, yang hingga 16 September 2025 mencapai Rp217,10 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder dan program debt switching dengan Pemerintah sebesar Rp160,07 triliun.
Bank Indonesia juga memberikan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) kepada bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas dengan total Rp384 triliun hingga minggu pertama September 2025.
- injeksi likuiditas
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
LavAni Kukuhkan Dominasi di Livoli dengan Kemenangan Ketiga Atas DPUPR
-
424 Warga Korban Longsor Banjarnegara akan Direlokasi
-
Menhan tegaskan Prajurit TNI Harus Dekat dengan Rakyat
-
Tutup 2025 dengan Capaian On Stream PPC-01, PHE Jambi Merang Lampaui Target
-
Melaju ke Babak Ketiga US Open, Sabalenka Dipaksa Kerja Keras oleh Kudermetova
-
Strategi Baru Menkeu! Setelah Himbara, Kini Giliran Bank Daerah Kebanjiran Dana Pemerintah
-
Keselamatan Perempuan di Ruang Publik Jadi Sorotan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.