Fantastis, Ekonomi Vietnam Tumbuh 8,22% karena Perkuat Struktur Industri Dalam Negeri

Selasa, 07 Okt 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Ekonomi Vietnam pada kuartal III (Q3)-2025 tumbuh 8,22 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy). Vietnam News Agency yang mengutip Kementerian Keuangan Vietnam, Minggu (5/10) melaporkan bahwa capaian tersebut merupakan rekor pertumbuhan tertinggi pada kuartal ketiga sejak 2011, tidak termasuk tahun 2022 yang melonjak akibat pemulihan pascapandemi.

Seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (5/10), menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,74 persen secara tahunan pada kuartal ketiga 2025. Sedangkan, sektor industri dan konstruksi mencatat kenaikan 9,46 persen dan sektor jasa 8,54 persen.

Ket. Foto: Industri manufaktur menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Vietnam. — Sumber: Nhac NGUYEN/AFP

Sepanjang tahun berjalan atau periode Januari hingga September 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam sudah tumbuh 7,84 persen secara tahunan. Dalam periode tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 3,83 persen, industri dan konstruksi 8,69 persen, sedangkan jasa 8,48 persen.

Sebelumnya, Vietnam sempat menghadapi tantangan cuaca pada kuartal ketiga 2025, termasuk empat badai besar pada September.

Berdasarkan data terbaru, industri manufaktur dan pengolahan di Vietnam masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Menanggapi pencapaian fantastis Vietnam itu, Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa mengatakan, Vietnam dapat mengantisipasi dampak tarif Trump.

“Industri Vietnam terus tumbuh, termasuk ekspornya. Sementara Industri Indonesia masih menghadapi problem struktural daya saing dan perlindungan, yang mengakibatkan sebagian kolaps dan berakibat pemutusan hubungan kerja (PHK),” kata Awan.

Indonesia tegas Awan harus belajar dari Vietnam dalam membangun dan memperkuat struktur industri dalam negerinya, agar tetap berdaya tahan ketika menghadapi tekanan dari luar ataupun dari dalam negeri sendiri.

            Tingginya pertumbuhan ekonomi Vietnam, salah satunya juga karena relokasi industri mebel dari Tiongkok ke negara tersebut. Pertengahan kuartal II lalu terdapat 630 industri mebel Tiongkok yang direlokasikan ke luar negeri, sebagian besar menuju Vietnam.

Reforma Agraria

Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarunnajmi secara khusus menyoroti pertumbuhan sektor pertanian di Vietnam.

Menurut Qomar, ada beberapa hal yang Indonesia bisa belajar dari Vietnam, tentang pertanian. Pertama, reformasi agraria, dengan melakukan reformasi, rata rata kepemilikan lahan petani bisa mencapai skala ekonomi usaha tani.

“Kedua, pertanian dijadikan sebagai alat kedaulatan negara, bukan sekadar komoditas,”tegas Qomar.

Ketiga, riset yang basisnya petani dan masalah keseharian yang dihadapi petani di dukung lembaga lembaga riset yang memadai, mendorong kemandirian input produksi

Keempat, perlindungan harga produk tani pasar, dan produk lokal, ada price floor, dan ada kontrol ekspor.

Terakhir, pendidikan politik dan kaderisasi petani. Pendidikan tidak hanya sebatas teknis, tetapi juga pendidikan politik dan kelembagaan tani.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.