Hari Kesaktian Pancasila Momentum Teguhkan Persatuan Bangsa

Kamis, 02 Okt 2025, 03:06 WIB

JAKARTA- Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Oktober bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan persatuan bangsa. Hari Kesaktian Pancasila diharapkan akan menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila pernah diuji oleh sejarah dan tetap berdiri kokoh sebagai fondasi berbangsa dan bernegara hingga kini.

“Di tengah tantangan ideologis dan globalisasi hari ini, kita wajib meneguhkan kembali komitmen kebangsaan berdasarkan Pancasila,” kata Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI Johan Rosihan di Jakarta, Rabu (1/10).

Ket. Foto: Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI Johan Rosihan. — Sumber: Antara

Ia meyakini peristiwa sejarah ini merupakan bukti nyata bahwa Pancasila tidak hanya teks normatif, tetapi juga ideologi yang diperjuangkan dengan darah dan nyawa.

“Para pahlawan revolusi telah memberikan teladan keberanian, keteguhan, dan loyalitas kepada negara yang patut kita warisi dan amalkan,” ucap Johan.

Sebagai legislator Komisi IV DPR RI, Johan turut menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai landasan dalam penyusunan kebijakan publik di bidang ketahanan pangan, lingkungan hidup, kehutanan, dan pertanian.

Nilai-nilai Pancasila, kata dia, harus hidup dalam kebijakan, bukan hanya dalam pidato. “Keadilan sosial dan keberpihakan pada rakyat kecil adalah manifestasi nyata dari sila-sila Pancasila,” ujarnya.

Johan lebih lanjut mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk senantiasa menjaga semangat persatuan dan gotong royong sebagai kekuatan utama bangsa.

Di tengah semakin maraknya disinformasi dan polarisasi sosial, ia juga mengingatkan bahwa menjaga keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab bersama.

“Mari kita jadikan Hari Kesaktian Pancasila sebagai pengingat bahwa bangsa ini dibangun dari perjuangan bersama, dan akan bertahan jika kita tetap bersatu. Dari Pulau Sumbawa untuk Indonesia, kami teguh menjaga nilai luhur Pancasila,” demikian Johan.

Pahlawan Revolusi

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto saat meninjau “sumur maut” di Lubang Buaya, Jakarta, Rabu, memanjatkan doa untuk para Pahlawan Revolusi yang gugur saat tragedi Gerakan 30 September 1965 (G30S).

Presiden, di sisi dinding marmer yang mengitari sumur, berdiri dan memejamkan mata sambil mengangkat tangan untuk mendoakan 10 Pahlawan Revolusi, termasuk enam jenderal dan 2 perwira yang jasadnya dibuang di dalam “sumur maut” di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

“Izin Pak Presiden, di sini adalah sumur tua atau sumur maut tempat dibuangnya tujuh Pahlawan Revolusi. Untuk kedalaman sumur ini adalah 12 meter, dan diameternya adalah 75 centimeter,” kata Kepala Pusat Sejarah TNI Brigjen TNI Stefie Jantje Nuhujanan.

Di lokasi yang sama, pimpinan lembaga negara lainnya seperti Ketua DPR RI Puan Maharani dan Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga turut ikut dalam momen mengheningkan cipta itu.

Kemudian, di barisan belakang Presiden Prabowo, ada juga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Rabu pagi, Presiden Prabowo untuk pertama kalinya memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang tragedi gugurnya Pahlawan Revolusi pada 30 September 1965.

Prosesi upacara diisi dengan sesi mengheningkan cipta, kemudian pembacaan teks Pancasila oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani.

Selepas itu, teks Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dibacakan oleh Wakil Ketua DPD RI Yorrys Raweyai, kemudian pembacaan Ikrar Kesetiaan Kepada Pancasila oleh Ketua DPR RI Puan Maharani. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.