Pemerintah Mitigasi Dampak Bencana Alam untuk Cagar Budaya

Senin, 29 Sep 2025, 03:03 WIB

Pemerintah tengah memitigasi dampak bencana alam yang berpotensi memengaruhi keberadaan cagar budaya untuk menjaga kelestariannya.

BALI - Wakil Menteri Kebudayaan (Wamenbud) Giring Ganesha mengatakan pemerintah memitigasi dampak bencana alam yang berpotensi memengaruhi keberadaan cagar budaya di Tanah Air agar kelestariannya tetap terjaga.

Ket. Foto: Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha diwawancarai wartawan di sela membuka Festival Barong di Taman Ayun Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (27/9/2025). — Sumber: Antara

“Saya minta seluruh tim Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mengecek cagar budaya kita,” kata Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di sela membuka Festival Barong di Taman Ayun Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, kemarin.

Upaya tersebut dilakukan menyikapi perubahan iklim berupa cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk awal pekan ini di sejumlah daerah di Bali dilanda bencana banjir dan longsor.

Di sela kunjungan kerja di Bali, Wakil Menteri Kebudayaan sudah melakukan rapat dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XV yang mencakup Bali dan Nusa Tenggara serta jajaran Kementerian Kebudayaan untuk memetakan situs cagar budaya yang rawan bencana alam.

Saat ini, tim sedang melakukan pemetaan untuk mengantisipasi bencana alam tersebut. “Seluruh jajaran Kementerian Kebudayaan di BPK di sini (Bali) untuk terus mencatat, menganalisis cagar budaya yang rawan banjir, gempa, dan pohon tumbang,” imbuhnya.

Sebelumnya, banjir besar dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten/kota serentak terjadi pada Rabu, 10 September 2025 dini hari yang salah satunya dipicu hujan ekstrem sejak Selasa (9/9).

Cagar Budaya

Lebih lanjut, Wamenbud mengatakan sebagai bentuk dukungan pelestarian, pemerintah saat ini sedang melakukan analisis sejumlah objek diduga cagar budaya yang masih banyak ditemukan dan tersebar di sejumlah daerah di tanah air.

“Kami bekerja sama dengan para bupati, wali kota, gubernur juga agar bisa naikkan tingkatnya ke tingkat nasional,” ujar Giring Ganesha.

Selain itu, pelestarian budaya tak benda seperti kesenian tari Barong di Bali salah satunya dilaksanakan melalui pelaksanaan festival kebudayaan. “Kami juga mendorong dan membuka agar muncul tari baru, ekspresi budaya baru,” imbuhnya.

Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan bahwa Pemerintah Belanda sepakat mengembalikan 30 ribu jenis artefak hingga dokumen milik Indonesia, usai kunjungannya ke Belanda pada Jumat (26/9).

Dalam kunjungan resmi ke Belanda, Presiden Prabowo diterima langsung secara resmi oleh Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima di Istana Huis ten Bosch, Den Haag, Belanda, dan membahas sejumlah isu strategis, termasuk pengembalian artefak yang pernah dibawa oleh pemerintah Belanda dari Indonesia.

“Di Belanda saya diterima dengan sangat baik oleh Raja dan Belanda mengembalikan 30 ribu item artefak yang mereka bawa dari Indonesia, dikembalikan ke kita,” kata Presiden Prabowo saat memberikan keterangan pers usai tiba di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu.

Presiden menilai bahwa pengembalian artefak tersebut merupakan bentuk itikad baik dari Belanda yang ingin memelihara hubungan baik dengan Indonesia.

Senada dengan itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan bahwa 30 ribu benda artefak yang akan dikembalikan itu berupa artefak jawa bersejarah, fosil dan dokumen milik ­Indonesia.

Teddy menjelaskan pengembalian artefak tersebut dilakukan sesegera mungkin melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon. “Prosesnya mungkin pasti cepat karena tadi Raja Belanda sudah menyepakati itu, dan ini proses pengembalian sebenarnya sudah berjalan lama, tapi Alhamdulillah berhasil disepakati tadi dan nanti akan dikembalikan ke Indonesia,” kata Teddy.

Adapun kunjungan Presiden Prabowo ke Istana Huis ten Bosch Belanda menjadi momen istimewa karena tidak hanya disambut oleh Raja Willem-Alexander sebagai Kepala Negara Belanda, tetapi juga Ratu Máxima.

Penyambutan oleh raja dan ratu secara bersamaan ini merupakan suatu hal yang jarang terjadi dan menjadi bentuk penghormatan tinggi Kerajaan Belanda kepada Presiden Prabowo. Sebagai informasi, Presiden Prabowo dan Raja Willem-Alexander sama-sama berlatar belakang militer, sebuah kesamaan yang menghadirkan keakraban tersendiri dalam pertemuan tersebut. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.