MRT Jakarta Siap Tembus Serpong, Mobilitas Banten-Jakarta Makin Ngebut

Senin, 29 Sep 2025, 19:30 WIB

JAKARTA – Rencana perpanjangan jaringan Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong, Banten, diproyeksikan bakal mengubah wajah mobilitas ibu kota dan kota satelit sekitarnya. Proyek ini juga disebut akan jadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.

Gubernur Banten Andra Soni menyebut jalur North–South Line yang diperpanjang dari Lebak Bulus ke Serpong akan menjadi tonggak baru integrasi regional. Ia menilai pembangunan MRT bukan sekadar transportasi, melainkan bagian dari “membangun peradaban” karena eratnya keterhubungan populasi Banten dan Jakarta.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta/Paundra Zakirulloh

“Jumlah penduduk Banten hampir sama dengan Jakarta, dan mobilitas antarwilayah sangat tinggi. Kami yakin jalur MRT ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Banten,” kata Andra di Serang.

Dari total panjang jalur 23 kilometer, sekitar 17 kilometer akan berada di wilayah Banten, sementara sisanya masuk Jakarta. Proyek ini sudah tercatat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, meski tahap konstruksi belum segera dimulai karena masih dalam proses studi persiapan.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menegaskan kebutuhan akan moda transportasi massal sangat mendesak. Ia menyebut hampir 70 persen dari 1,5 juta penduduk Tangsel setiap hari harus bolak-balik ke Jakarta untuk bekerja.

Skema pembiayaan proyek ini masih dikaji, mulai dari pinjaman antarnegara seperti pada fase sebelumnya, hingga skema kerja sama pemerintah-swasta maupun murni swasta. Sebuah nota kesepahaman antara MRT Jakarta dengan pengembang properti Sinar Mas Land sudah diteken untuk membuka jalan bagi studi kelayakan.

Andra menjelaskan studi tersebut akan menilai kesiapan institusi, kelayakan finansial, hingga aspek teknis. Koordinasi juga sudah dilakukan dengan Kementerian Perhubungan, PT KAI, dan pemerintah daerah di wilayah Tangerang Raya.

“Kami berkomitmen memastikan proyek ini terwujud. Dengan adanya MRT, mobilitas antara Jakarta dan Banten akan lebih lancar, sekaligus membantu mengurangi kemacetan,” ucap Andra.

Rencana perluasan MRT ini sejalan dengan target membangun jaringan transportasi massal metropolitan lintas provinsi. Jalur East–West Line sepanjang 89 kilometer atau Fase 3 tengah dipersiapkan dengan tender internasional yang dijadwalkan Oktober atau November mendatang dan didukung pembiayaan Jepang.

Fase 3 akan menghubungkan Balaraja di Banten hingga Cikarang di Jawa Barat. Jalur sepanjang 24,5 kilometer dengan 21 stasiun itu akan melintasi Medan Satria di Jakarta Timur hingga Tomang di Jakarta Barat, dengan target konstruksi dimulai tahun 2026.

Sementara itu, Fase 2 MRT sejauh 11,8 kilometer yang membentang dari Bundaran HI ke Ancol Barat sudah berjalan setengahnya. Seksi enam kilometer menuju Kota yang menelan anggaran Rp12 triliun ditargetkan selesai pada 2029.

Tak hanya itu, studi kelayakan untuk Fase 4 juga tengah digarap. Jalur sepanjang 12 kilometer dari Fatmawati ke Taman Mini Indonesia Indah akan melintasi 10 stasiun dengan kombinasi jalur layang dan bawah tanah, plus depo di Kampung Rambutan.

Menurut Andra, keikutsertaan Banten dalam proyek MRT menunjukkan pentingnya kolaborasi dunia usaha. “Kalau bicara soal kemampuan fiskal, mungkin hanya Jakarta yang bisa membiayai sendiri. Karena itu, kerja sama dengan sektor swasta adalah jalan paling bijak,” ujarnya.

Dengan jaringan MRT yang makin luas, pemerintah berharap konektivitas Jakarta, Banten, dan Jawa Barat bisa semakin terintegrasi. Selain mendukung kelancaran transportasi, proyek ini diyakini akan memperkuat daya saing kawasan metropolitan terbesar di Indonesia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.