Iran Kecam Penerapan Kembali Sanksi PBB atas Program Nuklirnya

Minggu, 28 Sep 2025, 16:30 WIB

TEHERAN - Iran mengecam penerapan kembali sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atas program nuklirnya, setelah gagalnya perundingan dengan kekuatan Barat dan serangan Israel dan AS terhadap situs nuklirnya.

Dilaporkan Associated Press, langkah-langkah yang melarang transaksi yang terkait dengan aktivitas rudal nuklir dan balistik Iran, berlaku efektif semalam setelah kekuatan Barat memicu apa yang disebut mekanisme "snapback" di bawah perjanjian nuklir 2015.

Ket. Foto: Dua wanita Iran berjalan melewati spanduk besar yang menampilkan mendiang komandan Pasukan Ekspedisi Quds Garda Revolusi Iran, Jenderal Qassem Soleimani — Sumber: AP

"Pengaktifan kembali resolusi yang telah dibatalkan tidak berdasar secara hukum dan tidak dapat dibenarkan... semua negara harus menahan diri untuk tidak mengakui situasi ilegal ini," kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan, Minggu (28/9).

"Republik Islam Iran akan dengan tegas membela hak dan kepentingan nasionalnya, dan setiap tindakan yang bertujuan merugikan hak dan kepentingan rakyatnya akan menghadapi respons yang tegas dan tepat," tambahnya.

Penerapan kembali sanksi ini mengakhiri diplomasi tegang selama berbulan-bulan yang bertujuan menghidupkan kembali perundingan nuklir yang terhenti sejak Juni, ketika pasukan Israel dan AS mengebom fasilitas nuklir Iran.

Meskipun adanya penerapan kembali, para pemimpin Barat menekankan saluran untuk dialog tetap terbuka.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Iran untuk "menerima perundingan langsung yang diadakan dengan itikad baik".

Ia juga meminta negara-negara anggota PBB untuk "segera" menerapkan sanksi untuk "menekan para pemimpin Iran agar melakukan apa yang benar bagi negara mereka, dan yang terbaik bagi keselamatan dunia".

Menteri luar negeri Inggris, Prancis, dan Jerman mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa mereka akan terus mencari "solusi diplomatik baru untuk memastikan Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir".

Mereka juga meminta Teheran "untuk menahan diri dari tindakan eskalasi apa pun".

Tidak Ada Pilihan

Iran telah mengizinkan inspektur PBB untuk kembali ke lokasi nuklirnya, tetapi Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan Amerika Serikat hanya menawarkan penangguhan hukuman singkat sebagai imbalan menyerahkan seluruh persediaan uranium yang diperkaya, sebuah proposal yang ia gambarkan sebagai tidak dapat diterima.

Upaya di saat-saat terakhir oleh sekutu Iran, RusSia, dan Tiongkok untuk menunda sanksi hingga April gagal memperoleh cukup suara di Dewan Keamanan pada hari Jumat, yang menyebabkan tindakan tersebut mulai berlaku pada pukul 03.30 pagi di Teheran (00.00 GMT) pada hari Minggu.

Jerman, yang memicu penerapan kembali sanksi bersama Inggris dan Prancis, "tidak punya pilihan" karena Iran tidak mematuhi kewajibannya, kata Menteri Luar Negeri Johann Wadephul.

"Bagi kami, ini sangat penting: Iran tidak boleh memperoleh senjata nuklir," ujarnya kepada Majelis Umum PBB.

"Namun, perlu saya tegaskan: kami tetap terbuka untuk negosiasi perjanjian baru. Diplomasi dapat dan harus dilanjutkan."

RuSsia menegaskan pihaknya tidak akan memberlakukan sanksi tersebut, karena menganggapnya tidak sah.

Sanksi tersebut "akhirnya mengungkap kebijakan Barat yang menyabotase upaya mencapai solusi konstruktif di Dewan Keamanan PBB, serta keinginannya untuk mendapatkan konsesi sepihak dari Teheran melalui pemerasan dan tekanan," ujar Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Iran telah lama berpendapat bahwa mereka tidak mencari senjata nuklir.

Dampak Ekonomi

Sanksi tersebut merupakan "tindakan balasan" dari tindakan yang dibekukan pada tahun 2015 ketika Iran menyetujui pembatasan besar pada program nuklirnya berdasarkan kesepakatan yang dinegosiasikan oleh mantan presiden Barack Obama.

Amerika Serikat telah memberlakukan sanksi besar-besaran, termasuk mencoba memaksa semua negara menghindari minyak Iran, ketika Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan tersebut pada masa jabatan pertamanya. 

Iran dan Amerika Serikat telah mengadakan beberapa putaran perundingan yang ditengahi Oman awal tahun ini sebelum gagal pada bulan Juni ketika Israel dan kemudian Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran.

Iran menarik utusannya dari Inggris, Prancis, dan Jerman untuk konsultasi pada hari Sabtu, televisi pemerintah melaporkan.

Di lapangan, warga Iran menyesalkan kemungkinan dampak sanksi baru terhadap ekonomi yang sudah tertekan.

Tekanan ekonomi semakin terasa pada hari Minggu ketika rial Iran jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS di pasar gelap, diperdagangkan sekitar 1,12 juta per dolar, menurut situs web pelacakan mata uang Bonbast dan AlanChand. 

  • Fasilitas Nuklir Iran

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.