25 Guru SMP di Jabodetabek Dilatih UNESCO & Mafindo Hadapi Hoaks & Etika AI yang Semakin Mendesak

Minggu, 21 Sep 2025, 18:30 WIB

JAKARTA – UNESCO bekerja sama dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengadakan pelatihan literasi media dan informasi atau Media and Information Literacy (MIL) bagi 25 guru SMP di wilayah Jabodetabek. Kegiatan berlangsung selama dua hari pada 19 hingga 20 September 2025 dan difokuskan untuk membekali guru dengan keterampilan digital menghadapi era kecerdasan buatan.

Pelatihan ini menyoroti sejumlah isu penting, mulai dari kebebasan berekspresi, ujaran kebencian, penggunaan AI yang etis, kesadaran algoritma, hingga perlindungan data pribadi. Semua topik itu dirancang agar guru mampu mengajarkan siswa berpikir kritis dalam menggunakan internet.

Ket. Foto: — Sumber: dikdas

Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho menjelaskan tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan kemampuan baru kepada para pendidik agar bisa mendampingi siswa menghadapi banjir informasi di dunia maya. “Anak-anak setiap hari terpapar internet dan guru harus membekali mereka supaya tidak mudah termakan misinformasi dan disinformasi,” ujarnya.

UNESCO bersama Mafindo juga telah menyusun modul pembelajaran MIL yang bisa langsung dipakai guru dalam kegiatan mengajar di kelas. Dengan cara ini, para pendidik tidak hanya mendapatkan teori tetapi juga perangkat praktis yang siap diterapkan.

Perwakilan UNESCO Jakarta, Ana Lomtadze, menekankan bahwa teknologi memang membawa banyak manfaat, namun di balik itu terdapat risiko besar jika tidak digunakan dengan bijak. “Survei UNESCO tahun 2024 menunjukkan mayoritas anak muda sudah memakai AI dalam pembelajaran, maka penting bagi siswa untuk memahami bagaimana algoritma mempengaruhi apa yang mereka lihat di internet,” kata Ana.

Selain materi kelas, para guru juga mengikuti simulasi mengajar untuk menguji cara mengintegrasikan literasi media dengan topik etika AI ke dalam rencana pembelajaran. Metode ini membantu peserta memahami tantangan nyata saat menghadapi siswa di kelas.

Isu perlindungan data pribadi juga menjadi perhatian serius dalam pelatihan ini. Guru diajarkan praktik terbaik untuk menjaga keamanan data sekolah serta cara melindungi siswa dari risiko penyalahgunaan informasi.

UNESCO dan Mafindo berharap pelatihan ini bisa menghasilkan kebijakan sekolah yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Beberapa di antaranya berupa aturan penggunaan AI di kelas, kebiasaan memverifikasi fakta, serta protokol menghadapi ujaran kebencian.

Kegiatan ini juga diarahkan untuk menyelaraskan kebijakan akademik dengan kebijakan teknologi. Dengan begitu, pemanfaatan AI di kalangan siswa dapat diarahkan pada hal positif sekaligus bertanggung jawab.

Program pelatihan ini menegaskan pentingnya peran guru dalam menghadapi era digital. Melalui peningkatan kapasitas pendidik, diharapkan generasi muda Indonesia mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, kritis, dan terlindungi dari dampak buruk informasi palsu.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.