PBB: Perubahan Iklim Sebabkan Kekacauan pada Siklus Air Global, Antara Banjir Besar dan Kekeringan

Kamis, 18 Sep 2025, 14:19 WIB

JENEWA - Perubahan iklim memicu perubahan yang semakin tidak menentu dan ekstrem antara banjir besar dan kekeringan di seluruh dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan pada Kamis (18/9).

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB mengungkapkan dalam sebuah laporan bahwa siklus air dunia menjadi semakin tidak dapat diprediksi, dengan menyusutnya gletser, kekeringan, cekungan sungai yang tidak seimbang, dan banjir parah yang mendatangkan malapetaka.

Ket. Foto: Banjir di Tiongkok barat daya pada Juni 2025 menewaskan enam orang dan memaksa lebih dari 80.000 orang mengungsi akibat cuaca ekstrem. — Sumber: AFP

"Sumber daya air dunia berada di bawah tekanan yang semakin besar dan, pada saat yang sama, bahaya terkait air yang lebih ekstrem berdampak semakin besar pada kehidupan dan penghidupan," ujar Kepala WMO, Celeste Saulo, dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersamaan dengan laporan tahunan "State of Global Water Resources".

Laporan Tahunan "State of Global Water Resources" merupakan salah satu dari serangkaian laporan WMO yang memberikan informasi dan wawasan kepada para pengambil keputusan. Laporan ini merupakan penilaian otoritatif terhadap ketersediaan air tawar global, termasuk aliran sungai, waduk, danau, air tanah, kelembapan tanah, salju, dan es.

Laporan ini didasarkan pada data yang disumbangkan oleh Anggota WMO, serta informasi dari sistem pemodelan hidrologi global dan observasi satelit dari berbagai mitra. Juga menyoroti kebutuhan penting untuk meningkatkan pemantauan dan berbagi data.

Tahun lalu merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat, yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di wilayah utara Amerika Selatan, Lembah Amazon, dan Afrika bagian selatan. 

Sementara itu, wilayah di Afrika Tengah, Eropa, dan Asia mengalami cuaca yang lebih basah dari biasanya, dilanda banjir bandang yang dahsyat atau badai yang mematikan, demikian yang ditunjukkan laporan itu.

Semakin Tidak Menentu

Pada tingkat global, WMO mengatakan tahun lalu adalah tahun keenam berturut-turut terjadi "ketidakseimbangan yang jelas" di wilayah sungai dunia.

"Dua pertiganya memiliki terlalu banyak atau terlalu sedikit air, mencerminkan siklus hidrologi yang semakin tidak menentu," katanya.

Organisasi tersebut juga menandai bagaimana kualitas air di danau-danau utama menurun karena cuaca yang lebih hangat, dan gletser menyusut di semua wilayah untuk tahun ketiga berturut-turut.

Air lelehan itu telah menambahkan sekitar 1,2 milimeter ke permukaan laut global dalam satu tahun, yang berkontribusi terhadap risiko banjir bagi ratusan juta orang yang tinggal di wilayah pesisir, laporan itu memperingatkan.

"Memahami dan mengukur sumber daya air serta kondisi ekstrem hidrologi... sangat penting untuk mengelola risiko," demikian bunyi laporan tersebut, yang menyoroti bahaya kekeringan, banjir, dan hilangnya gletser.

WMO menyerukan lebih banyak pemantauan dan pembagian data secara menyeluruh.

"Investasi berkelanjutan dan peningkatan kolaborasi dalam berbagi data sangat penting untuk menutup kesenjangan pemantauan. Tanpa data, kita berisiko kehilangan arah," ujar Saulo.

Diperkirakan 3,6 miliar orang menghadapi akses yang tidak memadai terhadap air setidaknya sebulan per tahun dan jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi lebih dari 5 miliar pada tahun 2050, menurut UN Water, dan dunia masih jauh dari Sustainable Development Goals 6 (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) tentang air dan sanitasi.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.