Jakarta Genjot Bus Listrik, Target 10 Ribu Unit pada 2030 untuk Kurangi Polusi

Rabu, 17 Sep 2025, 11:45 WIB

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mendorong percepatan penurunan emisi di sektor transportasi umum dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Salah satu langkah nyata adalah mendorong penggunaan bus listrik sebagai moda transportasi ramah lingkungan yang selaras dengan target nasional mencapai Net Zero Emission pada 2060.

Direktur Lalu Lintas Jalan Kemenhub, Rudi Irawan menegaskan, elektrifikasi angkutan umum merupakan strategi penting untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional transportasi.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta / Paundra Zakirulloh

“Elektrifikasi angkutan umum, khususnya bus listrik, menjadi salah satu strategi penting untuk menurunkan emisi serta mendorong efisiensi operasional transportasi,” ujar Rudi Irawan dalam keterangan tertulis, Selasa (16/9/2025).

Rudi menambahkan, sektor transportasi darat menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di Indonesia. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor, khususnya kendaraan pribadi, berkontribusi besar terhadap polusi udara serta konsumsi energi fosil yang tinggi.

“Saya mengajak seluruh pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, industri, akademisi, maupun masyarakat untuk bekerja sama mendukung percepatan penggunaan energi bersih di sektor transportasi darat,” imbuh Rudi.

Sementara itu, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin menyoroti bahwa pencemaran udara di wilayah Jakarta sekitar 67 persen berasal dari kendaraan bermotor. Kondisi tersebut membuat Jakarta tercatat sebagai kota ketiga dengan tingkat polusi tertinggi di dunia.

Namun, ibu kota mulai berbenah dengan menghadirkan ratusan bus listrik sebagai langkah nyata mengurangi polusi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan 10 ribu bus listrik beroperasi penuh pada tahun 2030.

“Sebagai upaya mengurangi polusi, kami menginisiasi peralihan bus TransJakarta dari berbahan bakar minyak ke bus listrik. Kini sudah ada 260 bus listrik. Tahun ini direncanakan penambahan 200 bus listrik. Sementara target pada tahun 2030 memenuhi sebanyak 10.000 bus listrik,” jelas Khoirudin.

Ia menuturkan, hasil evaluasi menunjukkan peralihan ke bus listrik berhasil menekan emisi karbon hingga 20 ribu ton di wilayah Jakarta. Capaian ini membuat Jakarta memperoleh Sertifikat Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Sejalan dengan langkah DKI Jakarta, Walikota Bogor Dedie A Rachim mendukung kebijakan yang mengutamakan aspek lingkungan di sektor transportasi. Dedie menilai konversi ke bus listrik harus diimbangi dengan pembenahan sumber energi listrik yang digunakan.

“Selain dari peralihan ke energi listrik, sumber polusi juga harus diperbaiki. Perlu komitmen bersama agar energi listrik yang nantinya digunakan dihasilkan dari sistem pembakaran yang ramah lingkungan karena saat ini energi listrik masih diperoleh dari 32 ribu ton batu bara,” ujar Dedie.

Dedie juga mengapresiasi terhubungnya layanan bus TransJakarta hingga ke Bogor. Menurutnya, langkah ini mampu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menjadi penyumbang utama polusi udara.

Upaya bersama pemerintah pusat, daerah, serta dukungan masyarakat diharapkan mampu mempercepat transisi menuju transportasi rendah emisi. Konversi ke bus listrik bukan hanya soal teknologi, tetapi juga komitmen nyata untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.