RI Impor BBM dari AS untuk Atasi Kelangkaan Sekaligus Komitmen Terhadap Trump
Selasa, 16 Sep 2025, 01:10 WIBJAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat sebagai respons atas kelangkaan bensin di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta, seperti Shell dan bp.
âIni impor dalam rangka pemenuhan, komitmen trade balance (neraca perdagangan) Indonesia dengan Amerika Serikat,â ucap Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, seperti diberitakan Antara, belum lama ini.
Pernyataan tersebut Yuliot sampaikan ketika disinggung mengenai kebutuhan pengelola SPBU swasta menambah impor BBM dalam rangka mengatasi kelangkaan BBM yang terjadi sejak Agustus 2025. Adapun sejumlah perusahaan migas AS yang disebut oleh Yuliot dapat menjadi opsi pembelian BBM dari Amerika Serikat adalah ExxonMobil dan Chevron. âItu kan perusahaan AS. Jadi, dari mana pun mereka melakukan pengadaan, itu terserah.
Tetapi ini kami catatkan sebagai trade balance Indonesia dengan Amerika,â tuturnya. Lebih lanjut, Yuliot memperkirakan Indonesia perlu mengimpor bahan bakar minyak (BBM) sebesar 1,4 juta kiloliter (KL), berdasarkan data sementara yang dikumpulkan. Volume itu diperoleh dari akumulasi peralihan masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM bersubsidi (Pertalite) menuju BBM nonsubsidi.
 âJadi, untuk kebutuhan yang disampaikan, data sementara 1,4 juta KL, jadi itu nanti berapa porsi Pertamina, berapa porsi badan usaha,â kata dia. Kementerian ESDM meminta kepada masing-masing badan usaha, termasuk Pertamina, untuk merinci berapa kebutuhan impor BBM mereka hingga akhir tahun. Sebab, untuk memberi perizinan impor, Kementerian ESDM harus memiliki data kebutuhan dari masing- masing badan usaha.
 âJadi, per badan usaha harus kami detailkan. Karena itu nanti proses impornya akan dilakukan satu pintu (lewat Pertamina). Jadi jangan sampai ada yang sudah diberikan, lalu tidak cukup,â tutur Yuliot. Kelangkaan BBM di SPBU swasta telah berlangsung sejak Agustus 2025.
 Kementerian ESDM menyatakan pengelola SPBU swasta tidak mendapatkan kuota impor BBM tambahan. Untuk memenuhi kebutuhan BBM-nya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyarankan kepada pengelola SPBU swasta untuk membelinya dari Pertamina. Oleh karena itu, pengelola SPBU swasta diminta untuk mengumpulkan data volume yang dibutuhkan dan spesifikasi BBM masing-masing kepada Kementerian ESDM untuk diolah sebelum diberikan kepada Pertamina. Akan tetapi, apabila Pertamina merasa perlu melakukan impor tambahan untuk memenuhi kebutuhan SPBU swasta, maka impor memungkinkan untuk dilakukan oleh Pertamina.
Menutup Defisit
Guru Besar Ekonomi dari Universitas Negeri Surabaya, Dian Anita Nuswantara, Senin (15/9) mengatakan, rencana Kementerian ESDM mengimpor bahan bakar minyak tersebut merupakan langkah tepat karena bisa menutupi defisit perdagangan AS dengan RI. âKita lebih baik impor dari AS karena itu sesuai kesepakatan kedua negara saat menentukan besaran tarif impor yang diterapkan Trump.
 Itu bisa menutup defisit perdagangan AS dengan indonesia,â katanya. Sebelumnya, AS telah sepakat untuk mengurangi tarif impor barang-barang Indonesia menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen. Menurut Dian, ini merupakan win-win solution baik bagi RI maupun AS. Selain akan mengatasi keluhan konsumen kita yang membutuhkan BBM berkualitas dari SPBU semacam Shell atau BP, ini juga akan menjadi solusi bagi AS karena sesuai dengan agenda Presiden Trump yang ingin menutup defisit perdagangannya dengan Indonesia.
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dokter Terkonsentrasi di Tangerang Raya, Gubernur Banten Dorong Pemerataan ke Wilayah Selatan seperti Lebak dan Pandeglang
-
Polisi Kerahkan Tim Gabungan Buru Pelaku Penyerangan di Pacitan
-
Kota Madiun Jadi Percontohan Program Sekolah Pramutamu
-
Tingkatkan Konservasi, Tiongkok Kembangkan Sarang Burung Artifisial
-
OJK Sambut Baik Jaminan Pemerintah untuk Pinjaman Kopdes Merah Putih
-
279 Desa di Magelang Terima Bantuan Rp108,3 Miliar untuk Infrastruktur
-
Harga Emas Dunia Melonjak Lampaui $5.500 per Ons
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.