Apa Saja yang Dimakan?
Rabu, 10 Sep 2025, 07:58 WIBSEBAGAI hewan pemakan buah, orangutan dapat mencari makan hingga 6 jam sehari di rumah hutan hujan mereka. Bayi orangutan bergantung pada susu induknya selama 3-4 tahun pertama kehidupannya. Seiring pertumbuhannya, mereka mulai bereksperimen dengan makanan padat lainnya seperti bayi manusia.
Laman Orangutan Appeal, mengamati induknya makan membantu mengajari mereka makanan mana yang aman dan mana yang harus dihindari. Orangutan liar harus mencari makan hingga 6 jam sehari untuk menemukan cukup makanan di hutan hujan agar dapat bertahan hidup.
Meskipun pola makan mereka terdiri dari sekitar 60% buah, seperti durian, mereka juga memakan daun, kulit pohon, akar, serangga, dan terkadang bahkan mamalia kecil seperti kukang. Hutan hujan Kalimantan terkenal karena musimnya yang tidak menentu yang dapat menyebabkan ketersediaan buah langka untuk waktu yang lama. Oleh karena itu, penting bagi sumber makanan lain untuk dikonsumsi saat mereka tidak ada.
âOrangutan Kalimantan telah mengembangkan sistem pencernaan unik yang lebih adaptif daripada primata lain untuk mencerna serat, menyimpan lemak, dan menghemat energi. Ini berarti mereka dapat mengekstrak nutrisi dari bagian makanan mereka yang keras dan berserat dengan lebih efisien,â tulis laman itu.
Rayap merupakan camilan lezat bagi orangutan dan merupakan sumber protein yang baik. Untuk memudahkan penangkapan, orangutan menggunakan tongkat sebagai alat. Mereka akan menusukkan tongkat ke sarang dan menunggu serangga kecil menutupinya.
Kemudian mereka akan menarik tongkat tersebut dan memakan rayap dari tongkat tersebut, seperti memakan lollipop. Meskipun memakan waktu, aktivitas ini merupakan sumber hiburan sekaligus kebutuhan.
Di alam liar, orangutan umumnya mencari makan dan makan di pagi hari dan sore hari ketika suhu udara tidak terlalu panas. Selama waktu ini, mereka akan menggunakan dahan-dahan pohon untuk bergerak perlahan di antara tajuk hutan mencari buah-buahan lezat sambil merumput daun-daun muda.
âOrangutan sering dianggap sebagai kera besar yang âlambat dan stabilâ karena mereka menghemat energi dengan bergerak perlahan di antara pepohonan dan membatasi aktivitas mereka,â tulis laman tersebut. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Pemerintah Jabar Fokus Lunasi Tunggakan BPJS Kesehatan Sebelum 2027
-
Lebaran Topat Bangkitkan Ekonomi Masyarakat di Lombok Tengah
-
Juventus Terancam Absen di Liga Champions Musim Depan
-
Peluncuran Ponsel Emas Trump Seharga $499 Ditunda
-
Diversifikasi Ekonomi Harus Dipacu, OJK Bali Kembangkan Pertanian sebagai Pilar Baru, Jangan Hanya Bertumpu pada Pariwisata!
-
Jelang Libur Imlek, Puluhan Bus di Terminal Kalideres Jalani Ramp Check
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.