KEK Tumbuh Jadi 25, Mesin Baru RI Hadapi Persaingan Global

Selasa, 09 Sep 2025, 21:05 WIB

JAKARTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dirancang sebagai instrumen strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional dengan memberikan insentif fiskal maupun nonfiskal bagi investor.

Kehadiran KEK membuka peluang besar bagi terciptanya pusat-pusat pertumbuhan baru di luar kota besar, sehingga distribusi investasi dan industrialisasi menjadi lebih merata.

Ket. Foto: Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur di Bali. — Sumber: ANTARA

Dengan fasilitas seperti keringanan pajak, kemudahan perizinan, serta infrastruktur pendukung yang terintegrasi, KEK diharapkan mampu menarik investasi asing maupun domestik sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Namun, efektivitas KEK sangat bergantung pada kesesuaian sektor unggulan dengan potensi lokal, ketersediaan SDM yang terampil, serta konektivitas logistik yang efisien.

Tanpa tata kelola yang kuat dan dukungan ekosistem usaha yang sehat, KEK berisiko hanya menjadi proyek fisik tanpa memberikan dampak ekonomi signifikan.

Karena itu, keberhasilan KEK harus diukur tidak hanya dari nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, peningkatan ekspor, dan penguatan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

Pemerintah memaparkan perkembangan terkini Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dinilai dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi, hilirisasi industri, hingga penguatan ekspor.

"Hingga 30 Juni 2025, terdapat 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang tersebar di berbagai daerah dengan fokus sektor industri, manufaktur, digital, pariwisata dan kesehatan, serta jasa lainnya seperti Maintenance Repair Overhaul (MRO)," kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (9/9).

Hingga pertengahan tahun, total realisasi investasi di KEK mencapai Rp294,4 triliun, termasuk tambahan Rp40,48 triliun pada semester I 2025. KEK sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar, seperti Gresik, Galang Batang, Kendal, Tanjung Sauh, dan Sei Mangkei.

Dari sisi ketenagakerjaan, KEK menyerap 28.094 tenaga kerja baru pada semester I, sehingga totalnya menjadi 187.376 orang dengan 442 pelaku usaha. Sementara itu, kontribusi ekspor dari beberapa KEK antara lain Sei Mangkei, Palu, Bitung, Arun Lhokseumawe, Galang Batang, Kendal, dan Gresik mencapai Rp20,33 triliun.

Susiwijono mengatakan sejumlah proyek strategis juga telah berjalan.

Di KEK Gresik, PT Freeport Indonesia meresmikan smelter tembaga terbesar di dunia yang mampu menghasilkan 52 ton emas per tahun. Kemudian, KEK Kendal meluncurkan pabrik anoda baterai berkapasitas 80 ribu ton per tahun yang mendukung pasokan 1,5 juta mobil listrik.

Di bidang hilirisasi kelapa sawit, KEK Sei Mangkei menyerap investasi Rp6,5 triliun dari PT Unilever Oleochemical Indonesia, sementara KEK Nongsa mengamankan investasi Rp5,8 triliun untuk pembangunan pusat data.

Sementara itu, KEK Sanur menghadirkan Bali International Hospital yang diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp86 triliun.

Selain itu, KEK Singhasari mulai beroperasi dengan menghadirkan King’s College London, dan akan diperkuat oleh Queen Mary University of London pada 2026 dengan target 10.000 mahasiswa.

"Untuk sektor pendidikan, KEK Singhasari telah memulai perkuliahan di kampus King’s College London (KCL) dengan target 5 program studi dan 750 mahasiswa hingga 2030," ucap Susiwijono.

Di sektor mineral, KEK Galang Batang telah mengekspor 2 juta ton Smelter Grade Alumina per tahun, dengan target peningkatan menjadi 4 juta ton.

Lebih lanjut, ia menegaskan keberadaan KEK merupakan bagian dari strategi mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045.

“Salah satu prioritas nasional kita adalah melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri. Sejalan dengan RPJMN tersebut, ke depan KEK akan terus kita kembangkan, salah satunya dengan mendorong ekspor sekaligus memperkuat substitusi impor,” ujar dia.

Pemerintah saat ini juga menyiapkan enam KEK baru yang tengah menunggu penetapan, termasuk KEK Industri Halal di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diharapkan dapat memperkuat rantai pasok global industri halal.

Sebagai bagian dari promosi internasional, Dewan Nasional KEK juga akan menggelar Indonesia Special Economic Zone Investment Summit and Awards (SEZ-ISA) 2025 pada 11-12 November mendatang di Jakarta, yang mengundang ratusan investor global dan pemangku kepentingan lintas sektor.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.