Impor Beras Ditiadakan Hingga Desember, Indonesia Andalkan Hasil Panen Sendiri
Jumat, 05 Sep 2025, 17:35 WIBPALEMBANG - Impor beras kerap menjadi opsi pemerintah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, terutama saat produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.Â
Dari sisi positif, impor dapat meredam inflasi pangan dan memastikan stok cadangan beras pemerintah tetap terjaga.Â
Namun, ketergantungan berlebihan pada beras impor bisa menekan daya saing petani lokal, melemahkan kemandirian pangan, serta menimbulkan risiko ketidakpastian jika terjadi gangguan pasokan global.Â
Oleh karena itu, impor beras perlu ditempatkan sebagai langkah jangka pendek, sementara strategi jangka panjang harus fokus pada peningkatan produktivitas, efisiensi distribusi, dan modernisasi pertanian dalam negeri.
Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia tidak bakal impor beras hingga akhir tahun 2025.
Mentan RI Amran saat diwawancarai di Palembang, Jumat (5/9), mengatakan dalam dua tahun terakhir pemerintah selalu mengimpor beras untuk meningkatkan cadangan beras pemerintah.
Namun, hingga saat ini Indonesia tidak impor beras di tengah kondisi global sedang krisis pangan. Sebab stok beras yang dimiliki saat ini kurang lebih 4 juta ton atau lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai 2 juta ton.
"Insyaallah tidak ada impor karena stok kita banyak," katanya.
Ia menjelaskan berdasarkan informasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan dan Pertanian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), masa panen pada tahun 2025 itu mencapai sekitar 34-35 juta ton atau naik 4 juta ton setara beras.
"Kenaikan 4 juta ton ini membuat tambahan pendapatan petani juga naik Rp 60 triliun. Kita syukuri ini, di bawah gagasan Pak Presiden, dengan menyederhanakan regulasi, sarana produksi ditambah, mempermudah pengadaan pupuk dan lain-lain juga berkontribusi pada produksi," jelasnya.
Selain itu, Amran mengatakan kenaikan stok itu juga membuat nilai tukar petani (NTP) pada tahun ini naik tinggi. Sehingga hal itu patut disyukuri karena dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
"NTP (Nilai Tukar Petani) kesejahteraan petani naik 123 persen. Indikator ini harus kita syukuri. Toh ada naik turun, pemerintah tetap bertanggung jawab untuk stabilkan harganya," kata dia.
Sementara itu, Kepala Bulog Sumsel Babel Mersi Windrayani mengatakan stok beras di wilayahnya sebanyak 99 ribu ton. Stok itu mencukupi hingga 5-6 bulan ke depan.
"Ini akan terus berjalan karena memang kita masih ada serapan di beberapa daerah," ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tegas! Pemerintah Segel 250 Ton Beras Impor Ilegal di Sabang Aceh
-
Wah, 34.533 Wisatawan Asing Plesir di Jatim Naik Kereta Api, KAI Daop 8 Surabaya Dukung Pariwsata Daerah Mendunia
-
Tekah Hadir Inovasi PKB Pelayanan Medis untuk Daerah Terpencil
-
Polisi Bongkar Jaringan Curanmor Lintas Daerah, Pelaku Beraksi dari Banten hingga Jakarta
-
Kemenperin: Gen Z Jadi Pasar Potensial Bagi Industri Batik
-
Pemkab Lebong Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Dilanjutkan
-
Mentan Pastikan Tahun Ini Indonesia Tak akan Impor Beras
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.