Anutin Charnvirakul Resmi Jadi Perdana Menteri Thailand, Mengakhiri Krisis Politik

Jumat, 05 Sep 2025, 18:15 WIB

JAKARTA – Anutin Charnvirakul hanya membutuhkan waktu beberapa jam setelah bocornya rekaman percakapan telepon pada Juni lalu, yang mengguncang posisi perdana menteri Thailand, untuk memulai langkah politik yang lebih besar. Politisi kawakan ini segera menarik diri dari koalisi pemerintahan pimpinan Paetongtarn Shinawatra dari Partai Pheu Thai, lalu menjalin komunikasi awal dengan oposisi utama, sebelum menunggu momentum yang tepat.

Pada Jumat lalu, tepat seminggu setelah Mahkamah Konstitusi memberhentikan Paetongtarn dari jabatannya dan menciptakan gejolak politik baru, parlemen Thailand akhirnya memilih Anutin sebagai perdana menteri baru dengan mayoritas suara. Meski demikian, Anutin sendiri memilih abstain dalam pemungutan suara, namun usai kemenangan diumumkan, ia menerima sejumlah panggilan dan berpose bersama anggota parlemen pendukungnya.

Ket. Foto: Pemimpin Partai Bhumjaithai dan calon perdana menteri Anutin Charnvirakul tiba di parlemen menjelang pemungutan suara perdana menteri baru, menyusul pemecatan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi — Sumber: Reuters

Kebangkitan politikus berusia 58 tahun itu sebenarnya bukan hal instan, melainkan hasil perjalanan panjang yang berakar dari partai Thai Rak Thai milik miliarder Thaksin Shinawatra, ayah Paetongtarn. Dalam satu dekade terakhir, kiprah Anutin kian menonjol melalui Partai Bhumjaithai, yang memiliki basis kuat di komunitas pertanian kawasan timur laut Thailand.

Dalam dua pemilu terakhir, yakni 2019 dan 2023, sejumlah pakar menilai Anutin sebagai kandidat potensial perdana menteri karena posisinya yang strategis dalam menjembatani partai-partai besar. Namun, saat itu ia justru menorehkan nama sebagai Menteri Kesehatan dengan kiprahnya menghadapi pandemi COVID-19 dan mendorong legalisasi ganja pada 2022.

"Saya lebih muda, lebih segar, dan memahami politik dalam sistem demokrasi," kata Anutin kepada Reuters pada 2023, secara terbuka mengungkapkan ambisinya menuju kursi perdana menteri. Ia berharap mampu meraih kemenangan besar meski Partai Bhumjaithai hanya meraih 70 kursi dari total 500 kursi parlemen.

Meski perolehan kursinya terbatas, Anutin berhasil memanfaatkan momentum dengan menghalangi Partai Move Forward yang memenangkan pemilu 2023 agar tidak berkuasa. Ia kemudian menjalin koalisi bersama Pheu Thai sebagai mitra junior, dan selama dua tahun terakhir ikut menopang jalannya pemerintahan.

Menurut analis politik Napon Jatusripitak dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Anutin memiliki peran unik dalam lanskap politik Thailand. Ia mampu menjembatani kekuatan keluarga besar politik provinsi dengan kelompok konservatif-royalis yang selama ini sangat berpengaruh.

"Dia adalah politisi yang sangat pragmatis, sama seperti Thaksin Shinawatra," ujar Napon. Ia menambahkan bahwa Anutin kini berhasil memposisikan Partai Bhumjaithai sebagai salah satu pelindung kepentingan konservatif paling kredibel di Thailand.

Sejarah politik Thailand dalam 25 tahun terakhir memang diwarnai pertarungan panjang antara kubu konservatif dan populis. Konflik itu telah memicu enam kali penggulingan perdana menteri terpilih melalui kudeta militer maupun putusan pengadilan.

Anutin sendiri lahir dari keluarga politikus sekaligus pengusaha berpengaruh di Thailand. Ia menempuh pendidikan menengah di sekolah elit Bangkok sebelum melanjutkan kuliah teknik di Amerika Serikat, lalu kembali ke Thailand untuk memimpin perusahaan konstruksi keluarga, Sino-Thai.

Karier politiknya dimulai saat ia diangkat sebagai wakil menteri kesehatan publik dalam pemerintahan Thaksin pada 2004. Namun, kariernya sempat terhenti ketika Partai Thai Rak Thai dibubarkan pada 2007 dan dirinya terkena larangan politik selama lima tahun.

Kembalinya Anutin ke panggung politik dimulai pada 2012 saat ia mengambil alih kepemimpinan Bhumjaithai. Sejak itu, ia memanfaatkan jaringan pendiri partai, Newin Chidchob, serta dukungannya dari elite konservatif untuk memperkuat basis politik.

Pada 2023, Anutin menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri di kabinet Pheu Thai, memperkuat posisinya sebagai pemain kunci di hampir setiap pemerintahan. Menurut Napon, partai ini selalu berhasil mengamankan kementerian strategis yang sarat keuntungan politik dan ekonomi.

Namun, jalan Anutin menuju kursi perdana menteri membutuhkan dukungan Partai Rakyat, yang merupakan penerus Move Forward. Dukungan itu akhirnya ia peroleh dengan menyebut kerja sama tersebut sebagai upaya kolektif menyelamatkan Thailand dari krisis.

"Kami tahu bahwa Partai Rakyat telah bekerja sama dan berkorban dalam mencari solusi bagi Thailand di masa krisis," kata Anutin kepada wartawan, Rabu lalu. Dukungan itu memastikan kekuatannya semakin kokoh di parlemen.

Di luar dunia politik dan bisnis, Anutin memiliki hobi unik seperti mengoleksi amulet Buddha serta menerbangkan pesawat ringan untuk rekreasi. Ia bahkan kerap menggunakan keterampilannya di dunia penerbangan untuk membantu transportasi darurat, termasuk pengiriman organ donor.

Kini, dengan kondisi ekonomi Thailand yang tersendat, ketegangan di perbatasan dengan Kamboja, serta potensi krisis politik yang terus membayangi, kepemimpinan Anutin akan diuji. Kemampuannya menjaga stabilitas politik menjadi kunci di tengah turbulensi baru Thailand.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.