Jalan Terjal Tim Raksasa Eropa Menuju Piala Dunia

Kamis, 04 Sep 2025, 07:40 WIB

PARIS – Sembilan bulan jelang Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, sejumlah tim raksasa Eropa dengan wajah baru mulai menapaki jalur kualifikasi pekan ini. Spanyol, Prancis, Jerman, dan Portugal memulai perjalanan yang diyakini tetap penuh jebakan, meski status mereka sebagai kekuatan utama tak terbantahkan.

Berbeda dengan zona lain, persaingan di Eropa masih terbuka lebar. Dari zona Amerika Selatan, Argentina, Brasil, dan Ekuador sudah memastikan tiket. Zona Asia meloloskan enam tim lebih awal. Sementara itu, Eropa baru akan memperebutkan 16 jatah tiket, 12 lewat juara grup, empat sisanya melalui play-off.

Ket. Foto: Striker Prancis Hugo Ekitike (kiri) dan Ibrahima Konate mengontrol bola sat sesi latihan persiapan pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 Grup D zona Eropa, di Clairefontaine-en-Yvelines, Paris, Selasa (2/9). — Sumber: FRANCK FIFE / AFP

Spanyol akan mengandalkan generasi baru kali ini. Tim berjuluk La Furia Roja itu datang sebagai favorit setelah tampil hingga final UEFA Nations League, meski kalah adu penalti dari Portugal. Di bawah asuhan Luis de la Fuente, Spanyol mengandalkan generasi muda seperti Lamine Yamal dan Nico Williams, ditambah kembalinya Rodri yang baru pulih cedera.

Spanyol mengawali kualifikasi dengan tandang ke Bulgaria sebelum melawat ke Turki. De la Fuente menolak euforia berlebihan. “Kualifikasi ini sangat sulit. Italia pun bisa absen dua kali beruntun. Fokus kami adalah memastikan tiket dulu, baru bicara lebih jauh,” tegasnya. Finalis Piala Dunia dua edisi terakhir, Prancis, menatap fase ini dengan dua misi: mengejar tiket dan memberi perpisahan indah untuk Didier Deschamps. Setelah 14 tahun memimpin, pelatih itu diyakini akan mundur usai Piala Dunia.

Les Bleus tergabung bersama Ukraina, Islandia, dan Azerbaijan, grup yang relatif ringan bagi tim yang masih bertabur bintang. “Lolos tidak pernah formalitas. Kualifikasi di level tertinggi selalu kejam,” kata Deschamps. Ia bahkan memberi kesempatan debut untuk Hugo Ekitike, striker baru Liverpool.

Portugal memulai kualifikasi dengan nuansa duka. Kepergian Diogo Jota pada bulan Juli lalu menyisakan luka, dan Roberto Martinez memastikan tim asuhannya akan menjadikan kenangan prestasi penyerang itu sebagai motivasi. “Kami ingin menghormati warisannya setiap hari,” ucap Martinez. Cristiano Ronaldo yang kini 40 tahun tetap memimpin tim. Portugal mengawali langkah dengan laga tandang ke Armenia dan Hungaria, dua ujian awal yang bisa menentukan arah bagi tim asuhan Martinez.

Sejak Piala Eropa 2016, Jerman selalu gagal menembus semifinal turnamen besar. Julian Nagelsmann kini dituntut memutus tren buruk tersebut. Meski peringkat dunia hanya kesembilan, materi pemain mereka tetap mentereng, termasuk bintang muda Liga Inggris, Florian Wirtz dan Nick Woltemade.

Tim berjuluk Die Mannschaft membuka Grup A dengan bertandang ke Slovakia, lalu menjamu Irlandia Utara. Luksemburg menjadi lawan lain yang harus diwaspadai. “Kami butuh stabilitas, tapi juga keberanian untuk tampil ofensif,” ujar Nagelsmann.

Di sisi lain, Italia justru memulai dengan cara terburuk. Kekalahan 0-3 dari Norwegia pada bulan Juni lalu membuat Luciano Spalletti kehilangan kursi pelatih. Kini, Gennaro Gattuso mengambil alih Azzurri yang sudah tertinggal sembilan poin dari Norwegia, meski masih menyimpan dua laga. Gattuso menolak gentar. “Satu hal pasti, saya tidak takut,” ujarnya jelang laga melawan Estonia dan Israel. Italia tak punya ruang untuk kembali tergelincir, setelah dua kali absen di Piala Dunia sebelumnya.

Inggris di bawah Thomas Tuchel tampil tanpa sensasi, tetapi efisien. Tiga kemenangan dengan tanpa kebobolan menempatkan “The Three Lions” nyaman di Grup K. Setelah menjamu Andorra di Villa Park, laga tandang ke Serbia diprediksi jadi ujian terberat. ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.