BBM Kosong di SPBU Swasta, ESDM Turun Tangan

Rabu, 03 Sep 2025, 21:10 WIB

JAKARTA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Shell dan BP menimbulkan kekhawatiran di tengah tingginya mobilitas masyarakat.

Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan pasokan distribusi dan dinamika harga minyak global yang menekan ketersediaan stok.

Ket. Foto: Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) pada kendaraan bermotor milik pelanggan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Shell. — Sumber: ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat.

Meski dampaknya masih terbatas, fenomena tersebut menjadi alarm bagi pemerintah dan pelaku usaha energi untuk memperkuat ketahanan pasokan serta mempercepat transisi ke sumber energi alternatif.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan pemerintah segera membahas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) Shell dan BP bersama Pertamina dan seluruh pengelola SPBU swasta.

“Sudah ada arahan kepada Dirjen Migas untuk segera mengumpulkan. Ini segera dirapatkan antara Pertamina sama badan usaha yang memerlukan impor,” ucap Yuliot setelah menghadiri Rapat Kerja Komisi XII DPR RI di Jakarta, Rabu.

Kementerian ESDM, kata dia, berupaya untuk menyesuaikan kebutuhan impor dari pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta dengan Pertamina, sebab hal tersebut berkaitan dengan Neraca Perdagangan Indonesia.

Saat ini, Kementerian ESDM sudah memegang data soal jumlah impor BBM oleh Pertamina dan masing-masing SPBU swasta.

“Kami juga memperhatikan neraca komoditas. Jangan sampai neraca komoditas yang sudah disepakati itu ada kelebihan,” kata Yuliot.

Seperti diketahui, beberapa SPBU Shell dan BP di Jakarta telah mengalami kelangkaan BBM selama sekitar sepekan terakhir. Di SPBU Shell, jenis bensin seperti Shell Super, Shell V-Power, dan V-Power Nitro+ dilaporkan habis, sementara hanya tersedia Shell V-Power Diesel.

Di beberapa SPBU BP, termasuk yang terletak di Jakarta Selatan, bahan bakar seperti BP Ultimate (RON 95) dan BP 92 juga tidak tersedia. Hanya BP Ultimate Diesel yang masih dijual. Shell Indonesia sendiri mengonfirmasi bahwa kelangkaan tersebut terjadi karena tantangan dalam pengadaan dan distribusi, dan sampai saat ini belum dapat memastikan kapan stok akan kembali normal.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mempersilakan SPBU swasta, yakni Shell dan BP, untuk membeli BBM dari Pertamina.

Bahlil menyampaikan bahwa Kementerian ESDM sudah memberikan kuota impor BBM tambahan untuk SPBU swasta sebesar 10 persen apabila dibandingkan dengan kuota impor BBM pada 2024.

Apabila SPBU swasta masih kekurangan BBM untuk disalurkan, Bahlil menyarankan agar mereka membeli BBM-nya ke Pertamina, tidak mengandalkan impor.

Ia juga menyampaikan bahwa stok BBM Pertamina masih banyak, sehingga bisa dibeli oleh para perusahaan pengelola SPBU swasta.

Pernyataan tersebut merespons sejumlah jaringan SPBU yang dikelola oleh swasta, setidaknya di Jakarta, sejak pertengahan Agustus tidak menjual beberapa jenis BBM untuk jangka waktu yang belum dapat ditentukan. Kelangkaan itu terjadi di SPBU swasta yang dikelola oleh Shell dan BP-AKR.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.