RI Ngebut Tuntaskan Negosiasi Tarif Dagang dengan AS di Kuartal III

Kamis, 28 Agu 2025, 23:40 WIB

JAKARTA – Negosiasi tarif dagang Amerika Serikat (AS) memiliki dampak strategis tidak hanya bagi perekonomian domestik, tetapi juga bagi stabilitas perdagangan global.

Sebagai negara dengan pengaruh besar dalam rantai pasok internasional, setiap kebijakan tarif AS berpotensi memengaruhi harga komoditas, arus investasi, hingga dinamika daya saing mitra dagang.

Ket. Foto: Kapal peti kemas milik negara asing melakukan akitvitas bongkar muat komoditas ekspor impor di dermaga JICT Tanjung Priok, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

Di satu sisi, penurunan tarif dapat memperluas akses pasar dan menurunkan biaya impor bagi pelaku industri.

Namun, di sisi lain, tarif yang terlalu proteksionis berisiko memicu ketegangan dagang, mengurangi efisiensi pasar, bahkan menimbulkan efek domino pada pertumbuhan ekonomi global.

Karena itu, keberhasilan negosiasi tarif dagang AS akan sangat ditentukan oleh keseimbangan antara kepentingan domestik dan komitmen menjaga tatanan perdagangan multilateral.

Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan pihaknya masih mengupayakan negosiasi tarif dagang Amerika Serikat (AS) rampung pada kuartal 3 (Q3) tahun 2025.

“Kita upayakan (rampung sebelum kuartal 3 berakhir),” kata Djatmiko saat ditemui di kantornya di Jakarta, Kamis (28/8).

Hal ini menyusul kemungkinan tarif impor 19 persen untuk berubah sebelum 1 September 2025, sebagaimana disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso pada awal bulan ini.

Lebih lanjut, Djatmiko mengatakan pemerintah Indonesia masih intens untuk melakukan negosiasi dengan AS terkait penetapan tarif dagang tersebut.

Namun, ia mengatakan masih belum memastikan kapan kepastian tersebut didapatkan oleh kedua negara.

“Saya enggak bisa ngomong kapannya, saya enggak bisa berandai-andai. Tapi kita harapkan, ya, pokoknya nanti sampai semua bisa disepakati dan diterima oleh dua belah pihak,” ujar Djatmiko.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut AS menjadi negara penyumbang surplus neraca perdagangan yang terbesar dengan nilai 9,92 miliar dolar AS pada periode Januari-Juni 2025.

Dari sisi ekspor, AS berada pada urutan kedua terbesar dengan nilai 14,79 miliar dolar AS pada periode Januari-Juni 2025.

Tiga komoditas penopang adalah mesin dan perlengkapan elektrik sebesar 2,80 miliar dolar AS, alas kaki sebesar 1,29 miliar dolar AS, pakaian dan aksesoris (rajutan) 1,28 miliar dolar AS.

Secara kumulatif Januari hingga Juni 2025, nilai ekspor meningkat 20,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Djatmiko pun memastikan, pemerintah juga mengupayakan komoditas ekspor unggulan Indonesia agar mendapatkan tarif paling rendah dari AS.

“Ya, intinya yang menjadi andalan Indonesia intinya kita sampaikan untuk mendapatkan, dipertimbangkan untuk mendapatkan tarif yang baik, yang lebih bagus dari Amerika Serikat,” kata Djatmiko.

“Dan tentunya itu didasarkan oleh alasan-alasan yang mendukung pemerintah Indonesia yang mestinya bisa dipahami oleh Amerika. Mereka butuh, kita produksi, tidak mengganggu siapa-siapa di sana,” imbuhnya.

  • Tarif Dagang AS

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.