Pemkot Bandung dan Bogor Perkuat Kolaborasi Tekan ‘Stunting’
Kamis, 21 Agu 2025, 03:15 WIBBANDUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menerima kunjungan kerja Pemkot Bogor terkait penanganan dan pencegahan stunting di Balai Kota Bandung, Rabu (20/8).
Kedua kota berbagi pengalaman dan praktik baik antar kedua daerah dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting.
Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, menyambut langsung rombongan yang dipimpin Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin.
Ia mengungkapkan, stunting merupakan persoalan serius yang tidak hanya berdampak pada tumbuh kembang fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif, kesehatan jangka panjang, hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan.
âPenanganan stunting bukan hanya urusan kesehatan, melainkan juga isu pembangunan yang memerlukan keterlibatan lintas sektor,â kata Wakil Wali Kota Erwin.
Menurut dia, Pemkot Bandung telah melaksanakan berbagai langkah, mulai dari penguatan data melalui Electronic Human Development Worker (EHDW), pemberdayaan Posyandu, peningkatan cakupan pemberian makanan bergizi, hingga kolaborasi dengan dunia usaha melalui program CSR.
Selain itu, Pemkot Bandung turut mendorong keterlibatan PKK, akademisi, dan komunitas masyarakat agar upaya pencegahan stunting berjalan menyeluruh dan berkesinambungan.
âNamun, kami menyadari persoalan stunting tidak bisa diselesaikan sendiri. Kunjungan dari Kota Bogor ini sangat bermanfaat untuk memperkaya wawasan sekaligus membuka ruang sinergi,â ujar dia.
Dalam kesempatan itu, Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, berbagi strategi yang telah dijalankan di Kota Bogor. Ia menjelaskan, penurunan angka stunting di Bogor berjalan berkat keterlibatan ASN, swasta, dan masyarakat.
âKami punya program satu kilo telur per bulan dari ASN, dan swasta menambahkan dengan telur serta ayam per minggu. Ternyata, intervensi swasta lebih cepat menurunkan angka stunting,â ungkap Jenal.
Ia juga memaparkan rencana inovasi Kota Bogor, di antaranya mengajak anggota dewan menjadi âBapak Asuh Stuntingâ di setiap kelurahan, serta memperluas peran hotel dan restoran dalam membantu keluarga rawan stunting. Menurut dia, penanganan harus terintegrasi dan satu komando agar lebih efektif.
Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Bandung, Anhar Hadian, turut menjelaskan berbagai langkah yang ditempuh di Kota Bandung. Salah satunya adalah rencana pemberian insentif kepada fasilitas umum yang menerapkan larangan merokok, upaya peningkatan jamban sehat, hingga penanganan penyakit penyerta yang menjadi faktor risiko stunting.
Anhar menyebut target penurunan stunting di Bandung dalam RPJMD 2025 ditetapkan pada angka 20,54 persen. Namun, pihaknya memiliki target bayangan (shadow target) yang lebih baik.
âKami ingin memastikan setiap inovasi yang diinisiasi di tingkat kecamatan benar-benar berjalan konsisten. Untuk itu, dilakukan penilaian dan asesmen agar ide tidak hanya berhenti di konsep, tetapi diimplementasikan,â papar dia.
Pertemuan tersebut juga membahas tantangan pola asuh anak, kesadaran keluarga dalam perilaku hidup sehat, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat pencatatan dan pelaporan data stunting.
Anhar pun menyebut, pentingnya patroli kesehatan yang melibatkan mahasiswa, kader, hingga masyarakat untuk memastikan bantuan pangan tambahan (PMT) tepat sasaran.
Baik Bandung maupun Bogor sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam mempercepat penurunan stunting. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Belum Setengah Tahun, Rupiah Sudah Ikut Terseret Gejolak Global: Melemah 1,38 Persen per 2 April
-
Tingkat prevalensi stunting di Sulawesi Tenggara
-
Banjir Grobogan Mengganggu Perjalanan Kereta Api
-
Telkom AI Center Makassar Jadi Motor Baru Inovasi Digital di Indonesia Timur
-
Trump Pecat Jaksa Agung AS Pam Bondi
-
Pemprov Jatim Mulai Terapkan WFH bagi ASN
-
Pemkot Bogor Berkomitmen Akhiri Era Buang Sampah di Lahan Terbuka Tanpa Diolah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.