Kontroversi Rempang Eco City: Antara Janji Investasi dan Risiko Penggusuran

Kamis, 21 Agu 2025, 18:15 WIB

JAKARTA - Pulau Rempang, salah satu pulau di Provinsi Kepulauan Riau, kini menjadi pusat perhatian nasional setelah gelombang protes besar-besaran warga menentang pembangunan Rempang Eco City. Pada 7 September 2023, ribuan warga dari 16 desa melakukan aksi menolak penggusuran dan berusaha menghalangi aparat yang hendak melakukan pengukuran lahan. Bentrokan pun pecah ketika polisi dan militer menembakkan gas air mata, menyebabkan puluhan warga luka-luka, sedikitnya 40 orang ditangkap, dan sejumlah anak sekolah pingsan akibat terpapar.

Meskipun mendapat penolakan, proyek yang diklaim sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional ini terus berjalan. Rempang Eco City digadang-gadang sebagai motor ekonomi baru Indonesia dengan investasi jangka panjang hingga USD 26,6 miliar pada 2080. Pemerintah menyatakan, kawasan ini akan menciptakan sekitar 300 ribu lapangan kerja, serta mendukung transisi energi hijau dengan memproduksi kaca dan panel surya berteknologi tinggi.

Ket. Foto: Rempang memiliki pasir silika dan kuarsa yang melimpah, yang akan menguntungkan pabrik kaca dan panel surya. — Sumber: Global Voice

Proyek ini dikerjakan oleh BP Batam bersama PT Makmur Elok Graha (MEG) dan Xinyi International Investment Limited, raksasa produsen kaca asal Tiongkok. Kehadiran Xinyi mengubah arah proyek yang semula direncanakan sebagai destinasi ekowisata sejak 2004, menjadi kawasan industri panel surya terbesar kedua di dunia.

Menurut Menteri Investasi saat itu, Bahlil Lahadalia, kehadiran Xinyi merupakan langkah strategis dalam memperluas hilirisasi mineral, khususnya pasir kuarsa yang melimpah di Rempang. Sebanyak 95 persen produksi kaca dan panel surya ditargetkan untuk ekspor, terutama guna memenuhi pasar Asia Tenggara dan perjanjian penjualan listrik surya 3,4 gigawatt dengan Singapura pada 2030.

Namun, proyek ambisius ini menimbulkan konsekuensi serius bagi masyarakat lokal. Dari total sekitar 7.500 penduduk Rempang, sebagian besar harus direlokasi ke Pulau Galang, Batam. Pemerintah tengah membangun 350 rumah di lahan seluas 500 meter persegi sebagai tempat tinggal sementara, namun banyak warga menolak dipindahkan.

"Mereka ingin memindahkan kami ke rumah-rumah kecil di kota, saya tidak mau pergi," kata Nenek Cuh, warga tertua Rempang.

Konflik ini bukan sekadar soal pemindahan, tetapi menyentuh akar sejarah dan identitas masyarakat. Banyak desa di Rempang telah berdiri sejak 1834, dihuni oleh pelaut Pribumi yang menggantungkan hidup pada laut dan hutan.

"Jika penggusuran terus berlanjut, ribuan warga akan kehilangan sejarah leluhur dan mata pencaharian dari bertani, berkebun, dan menangkap ikan," kata Ahlul Fadli dari Tim Solidaritas Nasional Rempang.

Dari sisi lingkungan, para pakar dan LSM memperingatkan risiko kerusakan besar. Proses pengerukan pasir laut, reklamasi, serta limbah industri kaca diprediksi mengancam ekosistem pesisir, terumbu karang, hingga wilayah tangkapan ikan.

"Keberadaan pabrik kaca tidak hanya mengancam Rempang, tetapi juga pulau-pulau kecil di sekitarnya," ujar Boy Sembiring, Direktur WALHI Riau.

Kekhawatiran juga datang dari akademisi. Rina Mardiana, peneliti IPB University, menilai konflik Rempang mencerminkan persoalan agraria yang lebih luas.

"Ini bukan hanya soal lahan, tapi juga keadilan struktural. Pembangunan tidak boleh mengorbankan keberlanjutan sumber daya alam dan kedaulatan masyarakat atas ruang hidupnya," katanya.

Sementara itu, gelombang protes meluas hingga ke Jakarta. Pada 11 September 2023, warga kembali berdemo di depan kantor pemerintah daerah dan Kedutaan Besar Tiongkok. Meski demikian, pemerintah tetap menegaskan pembangunan akan dilanjutkan demi kepentingan nasional.

Kini, Rempang Eco City berada di persimpangan antara janji investasi besar dan ancaman terhadap keberlanjutan sosial-ekologis. Bagi pemerintah, proyek ini adalah simbol transformasi ekonomi hijau. Namun bagi warga, ini adalah ancaman terhadap tanah leluhur, sejarah, dan kehidupan yang telah mereka bangun selama ratusan tahun.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.