UIN Jakarta Tegaskan Komitmen Pendidikan Berbasis Cinta, Damai, dan Keberlanjutan
Rabu, 20 Agu 2025, 09:58 WIBUIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan komitmennya menjadi pusat pengembangan gagasan dan praktik pendidikan yang berlandaskan cinta, damai, dan keberlanjutan peradaban.
âJika cinta menjadi dasar kurikulum, maka sekolah dan madrasah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga rumah yang melahirkan generasi penuh kasih sayang, toleransi, dan kepemimpinan yang berintegritas,â kata Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar dalam keterangannya di Tangerang pada acara forum akademik bertajuk âImplementasi Kurikulum Berbasis Cinta untuk Dunia yang Damaiâ di kampus UIN Jakarta Ciputat Tangerang, Selasa (19/8).
Ia mengatakan forum ini menandai langkah penting sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan pemangku kebijakan dalam membangun paradigma pendidikan yang lebih humanis.
Prof. Asep Saepudin Jahar juga mengatakan pendidikan Islam harus tampil sebagai kekuatan moral dalam membangun perdamaian dunia. Ia menilai kurikulum berbasis cinta merupakan manifestasi nyata dari Islam rahmatan lil-âalamin yang membawa pesan kasih sayang, kedamaian, dan kebermanfaatan bagi seluruh umat manusia.
âDari kampus, kita ingin menanamkan cinta, empati, dan nilai kemanusiaan universal yang berpadu dengan identitas keislaman,â ujarnya.
Menurut Prof. Asep, pelajar dan mahasiswa perlu dibentuk sebagai generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana membangun peradaban yang damai.
Dengan kurikulum yang berlandaskan cinta, peserta didik didorong untuk menginternalisasi nilai spiritualitas sekaligus keterbukaan dalam menghadapi keberagaman. âMereka disiapkan menjadi agen perubahan positif di tengah masyarakat,â ucapnya.
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Jakarta, Prof. Siti Nurul Azkiyah menegaskan konsep ini bukan utopia. âCinta bisa diimplementasikan dalam pembelajaran sehari-hari mulai dari sikap guru yang penuh kasih sayang, metode kolaboratif, hingga penghargaan terhadap perbedaan di kelas,â ungkapnya.
Dr. Yogi Anggraena dari Pusat Kurikulum Kemendikdasmen menjelaskan arah baru kebijakan pendidikan melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025.
Regulasi ini menekankan deep learning atau pembelajaran mendalam agar siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu merefleksikan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
Salah satu terobosan penting adalah penambahan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) mulai tahun ajaran 2025/2026. âKami ingin menyiapkan generasi yang kritis, logis, dan tetap beretika di era digital. Pendidikan harus relevan dengan transformasi global,â kata Yogi.
"Kebijakan baru juga memperkuat kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler termasuk gerakan tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diarahkan untuk membangun karakter, kreativitas, serta kemandirian siswa," katanya.
Kepala Subdirektorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah, Kementerian Agama Zulkifli menekankan pentingnya menjadikan kurikulum berbasis cinta sebagai pedoman pembelajaran di madrasah. Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menegaskan harmoni kehidupan harus berakar pada cinta.
Panduan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diluncurkan Kemenag bertujuan menanamkan nilai empati, toleransi, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Evaluasi pun tidak semata mengukur akademik, melainkan juga penerapan nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.
âKeberhasilan KBC bergantung pada kolaborasi guru, kepala madrasah, orang tua, dan masyarakat. Pendidikan berbasis cinta bukan hanya teori, tetapi praktik hidup bersama yang damai dan saling menghargai,â ujar Zulkifli.
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.