Pakar UMY Ingatkan Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan Berpotensi Timbulkan Sekat Sosial

Sabtu, 16 Agu 2025, 00:30 WIB

YOGYAKARTA – Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Endro Dwi Hatmanto, mengingatkan bahwa gagasan Presiden Prabowo Subianto membentuk Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggulan perlu mengantisipasi risiko munculnya sekat sosial baru di tengah masyarakat.

Menurutnya, penggunaan label “rakyat” dan “unggul” berpotensi menciptakan pembelahan yang tidak tertulis. “Siswa dari Sekolah Rakyat bisa merasa berada di ‘kelas bawah’, sementara siswa Sekolah Unggul merasa di ‘kelas atas’,” kata Endro di Yogyakarta, Jumat (15/8).

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Antara

Endro menilai ide tersebut menarik karena mencoba menjangkau kelompok rentan melalui Sekolah Rakyat, sekaligus mendorong daya saing bangsa melalui Sekolah Unggul di bidang sains dan teknologi. Namun, ia menekankan pentingnya jalur mobilitas sosial yang jelas, seperti program beasiswa dan mekanisme transfer siswa, agar pelajar berpotensi dari Sekolah Rakyat memiliki kesempatan yang sama mengenyam pendidikan di Sekolah Unggul.

Ia menegaskan pemerataan kualitas pendidikan tidak cukup hanya membangun gedung, tetapi memerlukan ekosistem yang merata, mencakup guru berkualitas, kurikulum relevan, fasilitas layak, serta dukungan orang tua dan komunitas di perkotaan maupun perdesaan.

Pada rencana pengembangan sekolah berasrama, Endro menekankan keberhasilan sangat bergantung pada keterlibatan guru yang tinggal di asrama. “Ini membentuk role model yang konsisten, bukan sekadar sosok yang datang-mengajar-pulang,” ujar dosen Fakultas Pendidikan Bahasa UMY itu.

Ia juga menilai pemanfaatan teknologi, seperti layar pintar, bermanfaat untuk distribusi materi pembelajaran, namun tidak dapat menggantikan interaksi langsung antara guru dan siswa. Pendidikan bahasa, lanjutnya, memiliki peran penting melatih empati, pemikiran kritis, dan kemampuan komunikasi yang menjadi fondasi membangun peradaban.

Guru bahasa, menurut Endro, harus berperan sebagai fasilitator aktif setelah siswa menerima materi melalui teknologi, disertai pelatihan berkelanjutan bagi guru di daerah. Ia juga mengingatkan pentingnya pendidikan humaniora di tengah kemajuan sains dan teknologi. “Tanpa humaniora, teknologi kehilangan arah kemanusiaannya,” tegasnya.

Endro menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, pendanaan, dan evaluasi berbasis data. Jika tidak, ia khawatir program tersebut hanya akan menjadi deretan target di atas kertas tanpa dampak nyata di lapangan.

  • UMY
  • Program Sekolah Rakyat (SR)

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.