Pasar Rakyat Sudah Digital, Kini Giliran Pedagang Bertransformasi atau Punah!

Selasa, 12 Agu 2025, 16:55 WIB

JAKARTA - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat lonjakan luar biasa dalam transformasi pasar rakyat di Indonesia. 

Hingga Juli 2025, sebanyak 317.429 pedagang di pasar rakyat telah terintegrasi ke dalam ekosistem digital, sementara 6.115 pasar rakyat secara resmi terdigitalisasi sejak awal tahun ini.

Ket. Foto: Warga melakukan pembayaran menggunakan fitur pemindai QRIS di Pasar Nyanggelan, Desa Panjer, Denpasar, Bali. — Sumber: ANTARA/ Nyoman Hendra Wibowo.

Data ini menegaskan bahwa revolusi digital bukan lagi sekadar jargon, melainkan kenyataan yang mengguncang cara tradisional berdagang di tanah air. 

Transformasi ini membuka peluang besar bagi pedagang kecil untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi, dan melawan dominasi perdagangan daring yang selama ini mengancam eksistensi pasar tradisional.

Namun, di balik pencapaian ini, tersimpan tantangan besar. Apakah digitalisasi ini benar-benar inklusif dan memberdayakan seluruh pedagang, atau justru memperlebar kesenjangan antara yang melek teknologi dan yang tertinggal? 

Kemendag harus memastikan bahwa teknologi bukan sekadar alat formalitas, melainkan kunci nyata untuk mengangkat perekonomian rakyat ke level lebih tinggi.

Digitalisasi pasar rakyat bukan hanya soal memodernisasi sistem jual beli, melainkan revolusi sosial-ekonomi yang bisa menjadi tonggak kebangkitan ekonomi kerakyatan di era digital ini. 

"Digitalisasi pasar rakyat telah menjadi program Kementerian Perdagangan yang bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi digital dalam kegiatan operasional pasar rakyat, termasuk jual-beli, pemasaran dan pembayaran," jelas Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti dalam acara WhatsApp Business Summit 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa (12/8).

Oleh karena itu, ia menegaskan digitalisasi untuk pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tidak hanya mengenai onboarding ke platform perdagangan daring atau e-commerce, tetapi juga mengenai pemanfaatan platform digital untuk mendukung aktivitas perdagangan.

“Harapannya melalui kerja sama, kolaborasi lintas sektor, kementerian dan pemangku kepentingan, harapannya sinergi tersebut bisa terealisasikan,” ucap Roro.

Lebih lanjut, ia juga menyinggung pentingnya peran UMKM dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. UMKM, kata dia, berkontribusi sebesar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.

Selain itu, Roro juga menyoroti lebih dari 60 persen pelaku UMKM adalah perempuan.

Dengan demikian, Roro berharap penyediaan platform digital untuk UMKM dapat memberdayakan perempuan maupun laki-laki, serta menambah persentase masyarakat produktif.

“Dengan harapan, persentase masyarakat yang produktif semakin meningkat, sehingga bisa berkontribusi lebih banyak lagi bagi pertumbuhan ekonomi nasional kita,” kata Roro.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (yoy) dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp5.947 triliun.

Berdasarkan data BPS, lapangan usaha yang memberi kontribusi terbesar terhadap PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan dan pertambangan dengan total 63,59 persen dari PDB.

Dari sisi pengeluaran, pada kuartal II 2025, secara tahunan seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi Pemerintah. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen pada kuartal II dan PMTB tumbuh 6,99 persen.

Sedangkan, ekspor juga naik 10,67 persen. Penyumbang terbesar masih dari konsumsi rumah tangga dengan pertumbuhan 2,64 persen dari 5,12 persen.

  • Digitalisasi Pasar

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.