Inilah 'Wanita Laut', Penyelam Berusia 80 Tahun Tanpa Tabung Oksigen di Perairan Dingin Jepang

Kamis, 13 Agu 2026, 00:00 WIB

TOKYO - Selama beberapa generasi, perempuan di sepanjang garis pantai Ise-Shima Jepang telah memasuki laut tanpa peralatan selam atau tabung oksigen untuk mengumpulkan makanan laut dari dasar laut. Dikenal sebagai Ama, atau 'perempuan laut', para penyelam bebas tradisional ini mengandalkan kemampuan menahan napas, pengalaman bertahun-tahun, dan pengetahuan mendalam tentang lautan.

Dari Times of India, beberapa orang terus melakukan pekerjaan berat ini hingga usia 70-an dan 80-an. Pada tahun 2012, The Japan Times memuat profil Reiko Nomura, seorang mantan penyelam Ama berusia 80 tahun di Osatsu, Prefektur Mie, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya menyelam untuk mencari abalon dan makhluk laut lainnya. Saat ini, tradisi tersebut sebagian besar bertahan di komunitas pesisir, meskipun jumlah penyelam Ama aktif terus menurun. Pengetahuan mereka mewakili bentuk keahlian ekologi tradisional yang luar biasa, yang dibentuk oleh generasi demi generasi melalui pengamatan cermat terhadap pasang surut, musim, kehidupan laut, dan perubahan kondisi di sepanjang pantai Jepang.

Ket. Foto: Olahraga menyelam Ama sering digambarkan sebagai tradisi yang sudah ada sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu. — Sumber: Istimewa

Para 'wanita laut' Jepang menyelam tanpa tabung oksigen.

Ama, istilah Jepang yang umumnya diterjemahkan sebagai 'wanita laut', adalah penyelam bebas wanita tradisional yang mengumpulkan biota laut langsung dari perairan pesisir. Tidak seperti penyelam scuba, mereka tidak membawa tabung oksigen. Mereka menyelam dengan satu tarikan napas, menjelajahi dasar laut, dan kembali ke permukaan sebelum mengambil napas lagi.

Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mengatakan bahwa Ama yang berpengalaman dapat menyelam bebas hingga sekitar 15 meter dan menahan napas hingga sekitar 60 detik.

Praktik ini khususnya terkait dengan Toba dan Shima di Prefektur Mie, tempat banyak nelayan Ama yang tersisa di Jepang terus bekerja. Garis pantai Ise-Shima, dengan teluk-teluknya dan lingkungan laut yang kaya, telah menyediakan latar bagi budaya perikanan yang khas ini selama beberapa generasi.

Tradisi ini sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Olahraga menyelam Ama sering digambarkan sebagai tradisi yang sudah ada sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu.

Otoritas pariwisata Jepang menggambarkan praktik ini sebagai bagian dari budaya perikanan laut negara itu selama tiga hingga lima ribu tahun, sementara materi resmi lainnya menempatkan sejarahnya yang terdokumentasi secara lebih konservatif, dengan mencatat referensi tentang Ama dalam kumpulan puisi Man'yoshu abad kedelapan.

Artinya, deskripsi yang paling aman adalah bahwa menyelam Ama adalah tradisi kuno dengan sejarah ribuan tahun, daripada mengklaim bahwa praktik menyelam saat ini tetap tidak berubah selama tepat 3.000 tahun.

Pengetahuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan ini secara tradisional diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penyelam berpengalaman belajar bagaimana mengenali area yang produktif, memahami perubahan kondisi laut, dan memanen kehidupan laut tanpa menghabiskan sumber daya lokal.

Seorang Ama berusia 80 tahun menjadi simbol tradisi tersebut.

Salah satu penyelam Ama lanjut usia yang paling banyak didokumentasikan adalah Reiko Nomura, yang profilnya dimuat oleh The Japan Times pada tahun 2012 saat berusia 80 tahun.

Nomura dibesarkan di lingkungan yang kental dengan budaya Ama di Osatsu, sebuah desa pesisir di Prefektur Mie.

Menurut laporan tersebut, dia mulai menyelam ketika berusia sekitar 10 tahun dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah ombak, mengumpulkan abalone dan makhluk laut lainnya.

Namun, ada detail penting yang sering hilang dalam versi media sosial tentang kisahnya. Nomura tidak lagi aktif menyelam ketika ia diprofilkan pada usia 80 tahun. Japan Times melaporkan bahwa ia telah berhenti menyelam beberapa tahun sebelumnya dan bekerja sebagai pramugari di sebuah pondok Ama.

Meskipun demikian, dia tetap terhubung erat dengan tradisi tersebut, menyambut pengunjung, menyiapkan makanan, dan berbagi cerita tentang pengalamannya selama puluhan tahun sebagai penyelam.

Apa saja yang dikumpulkan penyelam Ama dari laut?

Hasil tangkapan Ama bervariasi tergantung lokasi dan musim, tetapi makanan laut yang terkait dengan tradisi ini meliputi abalone, kerang turban, landak laut, teripang, dan lobster berduri.

Rumput laut juga merupakan bagian penting dari hasil tangkapan tradisional. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mengatakan bahwa penyelam Ama mengumpulkan berbagai jenis rumput laut bersamaan dengan kerang dan produk laut lainnya.

Abalon memiliki tempat yang sangat penting dalam budaya wilayah Ise-Shima.

Kerang abalone dan kerang turban segar yang dipanen oleh Ama bahkan telah digunakan sebagai persembahan suci yang berhubungan dengan Ise Jingu.

Pekerjaan mereka bergantung pada pengetahuan tentang laut.

Menyelam ama bukan sekadar berenang di bawah air dan mengumpulkan apa pun yang bisa ditemukan.

Para penyelam bergantung pada pengetahuan mendetail tentang garis pantai, dasar laut, dan kehidupan laut. Mereka juga harus memperkirakan kondisi cuaca dan laut sebelum memasuki air.

Aturan penangkapan ikan tradisional dirancang untuk mencegah penangkapan ikan yang berlebihan.

Pembatasan dapat menentukan spesies mana yang boleh dikumpulkan, ukurannya, musim penangkapan ikan, dan berapa lama penyelam dapat berada di area tertentu.

Sistem ini mencerminkan pemahaman yang telah lama ada bahwa komunitas Ama bergantung pada sumber daya laut yang sama dari tahun ke tahun. Otoritas pariwisata Jepang menggambarkan praktik ini sebagai bentuk penangkapan ikan berkelanjutan tradisional di wilayah Ise-Shima.

Ama modern masih menggunakan peralatan yang relatif sederhana.

Citra penyelam Ama yang hanya mengenakan pakaian putih tradisional sangat terkait dengan budaya tersebut, tetapi penyelam Ama modern umumnya menggunakan peralatan yang sesuai dengan kondisi kontemporer.

Banyak yang kini mengenakan pakaian selam, kacamata renang, dan sirip. Namun, metode pernapasannya tetap berbeda secara mendasar dari selam scuba karena mereka tidak bergantung pada tabung udara.

Foto-foto tradisional sering menunjukkan penyelam mengenakan pakaian putih dan membawa peralatan sederhana. Pakaian tersebut telah menjadi simbol budaya yang penting, meskipun penyelam yang bekerja saat ini umumnya menggunakan perlengkapan pelindung modern.

Budaya tersebut tidak berakhir ketika para penyelam kembali dari air.

Di tempat-tempat seperti Osatsu, pengunjung dapat bertemu Ama di gubuk tradisional tempat mereka beristirahat, menghangatkan diri, dan menyiapkan makanan laut. Beberapa pengalaman ini memungkinkan pengunjung untuk mendengar langsung dari para penyelam tentang kehidupan dan pekerjaan mereka.

Di Ama Hut Hachiman di Toba, pengunjung dapat menyaksikan Ama menyiapkan dan memanggang makanan laut seperti abalone dan lobster berduri sambil mempelajari cara hidup tradisional mereka.

Oleh karena itu, gubuk-gubuk tersebut telah menjadi bagian penting dari wisata budaya sekaligus menyediakan cara bagi para Ama yang tersisa untuk berbagi pengetahuan mereka dengan orang-orang dari luar komunitas mereka.

Jumlah penyelam Ama semakin menurun.

Di balik gambar-gambar menakjubkan para wanita lanjut usia yang menyelam ke laut, terdapat kekhawatiran serius tentang masa depan tradisi tersebut.

Jumlah Ama (pemandu wisata) telah menurun tajam selama beberapa dekade terakhir. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mengatakan ada sekitar 9.100 Ama di seluruh Jepang pada tahun 1978, dibandingkan dengan sekitar 2.000 saat ini. Mereka mengatakan sekitar setengah dari Ama yang tersisa terkonsentrasi di sekitar daerah Shima dan Toba di Semenanjung Shima.

Angka-angka tersebut bervariasi tergantung pada wilayah geografis dan bagaimana penyelam aktif dihitung, tetapi penurunan jangka panjangnya jelas terlihat.

Angkatan kerja yang menua merupakan salah satu tantangan terbesar. Perempuan muda semakin banyak memilih karier lain, sementara perempuan yang lebih tua akhirnya pensiun dari pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik yang besar.

Beberapa komunitas kesulitan menemukan penyelam muda.

Masalah ini terutama terlihat di beberapa komunitas pesisir yang lebih kecil.

Reuters melaporkan pada tahun 2024 bahwa jumlah Ama di distrik Shirahama, Minamiboso, telah menurun menjadi 40 orang pada tahun 2023, turun 70 persen dari tahun 2006. Usia rata-rata mereka meningkat dari 68 menjadi 72 tahun selama periode tersebut.

Pekerjaan ini bisa sangat menuntut fisik dan relatif bergaji rendah, sehingga sulit untuk membujuk generasi muda untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian.

Namun, masih ada perempuan yang berusaha melestarikan praktik ini. Reuters melaporkan bahwa Ayumi Inoue, yang saat itu berusia 51 tahun, telah berlatih menjadi seorang Ama setelah tumbuh dewasa menyaksikan perempuan-perempuan yang lebih tua di komunitasnya mempraktikkan tradisi tersebut.

Perubahan di lautan menambah tantangan lain.

Penurunan jumlah penyelam bukanlah satu-satunya ancaman.

Masyarakat Ama juga bergantung langsung pada kesehatan ekosistem pesisir. Perubahan sumber daya laut dapat memengaruhi spesies yang secara tradisional mereka panen dan membuat pekerjaan tersebut kurang dapat diprediksi.

Otoritas pariwisata Jepang telah menyoroti penurunan sumber daya laut sebagai masalah utama lain bagi komunitas Ama. Seiring perubahan ketersediaan kehidupan laut, kelayakan ekonomi penyelaman bebas tradisional menjadi semakin sulit.

Bagi masyarakat Ama, hilangnya sumber daya laut dapat mengancam mata pencaharian mereka dan praktik budaya yang terkait dengannya.

Terlepas dari tekanan-tekanan ini, olahraga menyelam Ama belum menghilang.

Dinas Taman Nasional Jepang mengatakan masih ada lebih dari 600 Ama yang bekerja di Mie, sementara Toba dan Shima tetap menjadi pusat tradisi tersebut.

Para penyelam yang tersisa terus memasuki air menggunakan teknik menahan napas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Beberapa bekerja hingga usia lanjut, sementara yang lain akhirnya beralih ke peran yang memungkinkan mereka untuk berbagi pengetahuan tanpa harus terus menanggung tuntutan fisik menyelam.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.