Perundingan Polusi Plastik PBB Gagal Mencapai Konsensus

Senin, 11 Agu 2025, 01:00 WIB

JENEWA - Upaya global untuk menyepakati perjanjian polusi plastik yang mengikat secara hukum menemui jalan buntu setelah putaran negosiasi terakhir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berakhir tanpa kemajuan signifikan. Pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh perwakilan dari ratusan negara, gagal mencapai konsensus terkait isu-isu krusial yang menjadi inti perundingan.

Seperti dikutip Channel News Asia pada (Minggu (10/8), perundingan itu memiliki sisa empat hari kerja untuk mencapai instrumen yang mengikat secara hukum yang akan mengatasi masalah yang semakin mencekik lingkungan.

Ket. Foto: Ketua negosiasi, Duta Besar Ekuador Luis Vayas Valdivieso, berbicara dalam perundingan perjanjian plastik di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Selasa (5/8). — Sumber: AFP/Fabrice COFFRINI

Namun, dalam penilaian tengah jalan yang blak-blakan, ketua perundingan memperingatkan 184 negara yang berkumpul di Jenewa bahwa kemajuan sejauh ini masih jauh dari jalur yang diharapkan.

Kebuntuan ini terjadi akibat perbedaan tajam antar negara. Sebagian negara meminta agar area-area yang masih jauh dari kesepakatan dihapuskan demi kepraktisan. Namun, negara-negara lain menolak keras dan mengatakan bahwa desakan untuk mencapai konsensus tidak dapat dijadikan alasan untuk menenggelamkan elemen-elemen perjanjian yang lebih ambisius.

"Kemajuan yang dicapai belum memadai," ujar diplomat Ekuador, Luis Vayas Valdivieso, kepada para delegasi. "Kita telah tiba pada tahap kritis yang membutuhkan dorongan nyata untuk mencapai tujuan bersama. 14 Agustus bukan sekadar tenggat waktu, ini adalah tanggal di mana kita harus menyelesaikannya."

Negara-negara telah berkumpul kembali di PBB di Jenewa setelah kegagalan putaran perundingan kelima dan terakhir di Busan, Korea Selatan, pada tahun 2024.

Setelah empat hari perundingan, draf teks perjanjian membengkak dari 22 menjadi 35 halaman – dengan jumlah tanda kurung dalam teks meningkat hampir lima kali lipat menjadi hampir 1.500 halaman karena negara-negara menyisipkan gagasan yang saling bertentangan.

Sedikit Kemajuan

Vayas Valdivieso mengatakan negara-negara memiliki waktu dua setengah tahun untuk mengajukan proposal tersebut.

"Beberapa pasal masih memiliki masalah yang belum terselesaikan dan menunjukkan sedikit kemajuan dalam mencapai kesepahaman bersama," keluhnya.

Kuwait berbicara mendukung apa yang disebut Like-Minded Group – sebuah kelompok samar yang sebagian besar terdiri dari negara-negara penghasil minyak yang menolak batasan produksi dan ingin fokus pada pengelolaan limbah.

Kuwait mengatakan ruang lingkup perjanjian belum diberi "kesempatan yang setara dan adil untuk dibahas".

"Mari kita sepakati apa yang bisa kita sepakati ... konsensus harus menjadi dasar dari semua keputusan kita."

Namun Uruguay bersikeras bahwa berpegang teguh pada konsensus "tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk tidak mencapai tujuan kami".

Proses perundingan diamanatkan untuk meninjau siklus hidup plastik secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga polusi.

Eirik Lindebjerg, penasihat plastik global untuk World Wide Fund for Nature, mengatakan kepada AFP bahwa proposal Kuwait merupakan "upaya lain untuk menjadikannya perjanjian pengelolaan limbah", dan untuk menghambat perundingan pengurangan jumlah plastik dan penghapusan unsur-unsur yang paling berbahaya.

Arab Saudi, yang berbicara mewakili Kelompok Arab, mengatakan bahwa langkah yang bertanggung jawab ke depannya adalah mulai mempertimbangkan bagian-bagian teks yang "mungkin tidak mencapai hasil akhir karena perbedaan yang tidak dapat didamaikan".

"Kita tidak bisa melakukan semuanya di mana-mana sekaligus," kata Riyadh, seraya menambahkan: "Jangan jadikan kesempurnaan sebagai musuh kebaikan."

Negosiator Panama, Juan Monterrey Gomez, mengecam negara-negara yang ingin menghentikan perjanjian yang mencakup seluruh siklus hidup plastik.

Ia mengatakan mikroplastik "ada dalam darah kita, di paru-paru kita, dan dalam tangisan pertama bayi yang baru lahir. Tubuh kita adalah bukti nyata dari sistem yang mengambil keuntungan dari meracuni kita".

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

Tim Bola Voli Putri Indonesia Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Karhutla di Jambi Terus Meningkat, Perusahaan Migas Petrochina Jabung Bantu Padamkan

Liga Inggris: Manchester United Tersungkur di Kandang Hull, Tottenham Dipermalukan Brentford

Serie A Italia: Inter dan Napoli Awali Musim 2026-27 dengan Kemenangan, De Bruyne Jadi Pembeda

Bayern Taklukkan Dortmund 2-1 dan Rebut Piala Super Jerman

La Liga Spanyol: Carlos Espi Jadi Penentu, Real Madrid Menang Dramatis di Markas Espanyol

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.