Trump Sebut akan Bertemu Putin Tanpa Zelensky

Jumat, 08 Agu 2025, 11:30 WIB

WASHNGTON - Presiden AS Donald Trump mengatakan akan bertemu dengan Presiden Russia Vladimir Putin untuk pembicaraan mendatang mengenai perang Ukraina bahkan jika pemimpin Russia itu belum duduk bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Pernyataan yang bertentangan dengan laporan sebelumnya bahwa pertemuan Putin-Zelensky merupakan prasyarat untuk pertemuan puncak itu muncul setelah Trump memberi waktu kepada Moskow hingga hari Jumat untuk mencapai gencatan senjata atau menghadapi sanksi baru. 

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Russia Vladimir Putin di KTT G-20 di Hamburg, Jerman pada 7 Juli 2017. — Sumber: AP

Namun ketika ditanya oleh wartawan di Ruang Oval apakah batas waktu itu masih berlaku, Trump tidak menjawab dengan jelas.

"Semuanya terserah ( Putin)," kata Trump. "Kita lihat saja nanti apa yang akan dia katakan."

Sejak kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari, Trump telah menekan Moskow untuk mengakhiri serangan militer Russia terhadap Ukraina.

Kremlin mengatakan pada hari Kamis bahwa Putin akan menghadiri pertemuan puncak dengan Trump dalam "beberapa hari mendatang," tetapi pemimpin Russia itu pada dasarnya mengesampingkan kemungkinan mengikutsertakan Zelensky.

Sementara itu, Zelensky bersikeras dia harus terlibat dalam pembicaraan apa pun.

Ketika Trump ditanya apakah Putin diharuskan bertemu Zelensky sebelum pertemuan puncak, presiden AS itu menjawab dengan singkat: "Tidak."

Putin telah menunjuk Uni Emirat Arab sebagai lokasi potensial untuk pertemuan puncak tersebut, tetapi hal ini belum dikonfirmasi oleh Washington.

Pertemuan puncak itu akan menjadi pertemuan pertama antara presiden AS dan Russia yang sedang menjabat sejak Joe Biden bertemu Putin di Jenewa pada Juni 2021.

Tiga putaran perundingan Russia-Ukraina di Istanbul gagal menghasilkan kemajuan menuju gencatan senjata. Kedua belah pihak masih berselisih pendapat mengenai persyaratan yang mereka tetapkan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.

Trump dan Putin terakhir kali bertemu pada tahun 2019 di KTT G20 di Jepang selama masa jabatan pertama Trump. Mereka telah berbicara melalui smabungan telepon beberapa kali sejak Januari.

Ajudan Kremlin, Yuri Ushakov, mengatakan "minggu depan telah ditetapkan sebagai tanggal target". Ia menambahkan kedua belah pihak telah menyetujui tempat tersebut "pada prinsipnya," tanpa menyebutkannya.

Namun, Washington kemudian membantah tempat dan tanggal telah ditetapkan.

"Belum ada lokasi yang ditentukan," kata seorang pejabat Gedung Putih, seraya menyetujui bahwa pertemuan itu "bisa terjadi paling cepat minggu depan." 

Puluhan ribu orang telah tewas sejak Russia melancarkan serangan militernya terhadap Ukraina pada Februari 2022.

Pengeboman Russia telah memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka dan telah menghancurkan sebagian besar wilayah timur dan selatan Ukraina.

Putin menolak beberapa seruan dari Amerika Serikat, Eropa dan Kyiv untuk gencatan senjata.

Dalam pembicaraan di Istanbul, negosiator Russia menguraikan tuntutan teritorial garis keras untuk menghentikan kemajuannya -- menyerukan Kyiv untuk menarik diri dari beberapa wilayah yang masih dikuasainya dan meninggalkan dukungan militer Barat.

Senator Jeanne Shaheen, petinggi Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mendesak Trump untuk "bersikap tegas terhadap Kremlin" dan menggunakan pengaruhnya untuk mengakhiri perang. 

"Dialog tatap muka itu penting, tetapi Putin tidak boleh dibiarkan menunda atau melemahkan janji Presiden Trump tentang sanksi keras yang akan berlaku besok," ujarnya dalam sebuah pernyataan Kamis malam. 

Ukraina Sewajarnya Terlibat 

Laporan mengenai kemungkinan pertemuan puncak itu muncul setelah utusan khusus AS Steve Witkoff bertemu Putin di Moskow pada hari Rabu.

Witkoff mengusulkan pertemuan trilateral dengan Zelensky, tetapi Putin tampaknya mengesampingkan pembicaraan langsung dengan pemimpin Ukraina.

"Kondisi tertentu harus diciptakan untuk ini," kata Putin kepada para wartawan. "Sayangnya, kita masih jauh dari menciptakan kondisi seperti itu."

Mantan agen KGB, yang telah memerintah Russia selama lebih dari 25 tahun, mengatakan pada bulan Juni bahwa ia siap bertemu Zelensky, tetapi hanya selama "fase akhir" negosiasi untuk mengakhiri konflik.

Dalam pidato malam rutinnya pada hari Kamis, Zelensky mengatakan "sudah sewajarnya Ukraina ikut serta dalam negosiasi."

Pemimpin Ukraina berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen saat ia menyerukan agar benua itu diikutsertakan dalam setiap pembicaraan damai potensial.

"Ukraina merupakan bagian integral dari Eropa -- kami sudah dalam negosiasi aksesi Uni Eropa. Oleh karena itu, Eropa harus berpartisipasi dalam proses yang relevan," ujar Zelensky di media sosial.

  • Pertemuan Trump-Putin

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.