Ngamuk, Ayah Prada Lucky: Anak Tentara Saja Dibunuh Brutal, Indonesia Bubar!

Jumat, 08 Agu 2025, 12:50 WIB

JAKARTA - Kabar duka datang dari tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI). Prada Lucky Chepril Saputra Namo yang berumur 23 tahun, prajurit muda yang bertugas di Batalyon TP 834 Wakanga Mere, Nagekeo, NTT, meninggal dunia secara tragis. 

Bukan karena medan tempur, tetapi akibat penganiayaan brutal yang diduga dilakukan seniornya sendiri. Luka-luka di tubuhnya bercerita tentang siksaan yang tak terbayangkan, hantaman benda keras di punggung, serta luka bakar seperti sundutan rokok di lengan dan kaki.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Ayahnya, Sersan Mayor TNI Christian Namo, tak lagi mampu menahan amarah. Kesedihan bercampur kemarahan membuatnya meledak di hadapan publik. 

“Nyawa saya taruhan! Saya mati dulu baru masalah ini selesai. Selama saya hidup, saya kejar terus!” tegasnya, suaranya bergetar menahan gejolak hati.

Namun kemarahan Christian tidak berhenti di situ. Ia bahkan melontarkan pernyataan mengejutkan, “Kalau sampai tidak ada keadilan, Indonesia bubar! Merah putih bakar saja! Bubarkan negara! Siapa yang berani tes mulut saya? Mari sini, saya lawan!”

Bagi seorang ayah yang mendedikasikan hidupnya pada negara, kehilangan anak akibat penganiayaan di dalam institusi militer adalah pukulan telak. 
“Saya tentara, jiwa saya merah putih. Tapi kalau bisa, semua pelaku dihukum mati! Biar tidak ada lagi korban seperti Lucky. Anak tentara saja dibunuh, bagaimana nasib rakyat biasa?” ujarnya tajam.

Jenazah Prada Lucky disambut upacara militer di Bandara El Tari, Kupang. Meski demikian, rasa hormat itu tak mampu menghapus luka di hati sang ayah. 

Sersan Mayor Christian memilih menempuh jalur hukum dan hak asasi manusia, bukan kekuatan senjata. Namun, ia menegaskan, keadilan adalah harga mati.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum meregang nyawa, Lucky sempat mengaku kepada dokter di ruang radiologi bahwa dirinya dipukuli oleh senior di barak. 

Saat ini, Polisi Militer (Pomdam) IX/Udayana masih menyelidiki kasus ini, sementara pihak Batalyon TP 834/WM belum memberikan pernyataan resmi.

Tragedi ini menampar wajah institusi yang seharusnya menjadi benteng keamanan negara. Jika seorang prajurit bisa kehilangan nyawa di barak sendiri karena ulah sesama, bagaimana nasib rakyat biasa yang tak punya seragam dan pangkat?

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.