- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ironi Angola, Negeri Kaya ...
Ironi Angola, Negeri Kaya Minyak Tapi Rakyat Lapar, Gelombang Demonstrasi Besar Guncang Jalanan
Jumat, 08 Agu 2025, 14:50 WIBJAKARTA - Di atas kertas, Angola merupakan salah satu negara terkaya di Afrika berkat cadangan minyaknya yang melimpah. Negeri ini bahkan menduduki peringkat ketiga sebagai penghasil minyak terbesar di benua tersebut, mengekspor miliaran dolar setiap tahunnya.Â
Namun, di balik gemerlap kilang dan angka ekspor yang fantastis, tersimpan realitas pahit yang kini meledak di jalanan: rakyatnya kelaparan, hidup dalam kemiskinan, dan marah besar.
Gelombang demonstrasi masif mengguncang ibu kota Luanda dan kota-kota besar lainnya. Ribuan orang turun ke jalan, menuntut keadilan ekonomi dan menolak kebijakan pemerintah yang dianggap memperparah penderitaan.Â
Pemicu terbaru kemarahan publik adalah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan air, tiga kebutuhan pokok yang kini semakin sulit dijangkau warga miskin.
Krisis ini bukan muncul tiba-tiba. Angola sudah lama terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan ketimpangan. Kekayaan dari sektor minyak hanya dinikmati segelintir elit politik dan pebisnis besar, sementara sebagian besar rakyat harus berjuang dengan pendapatan minim, pekerjaan tidak tetap, dan biaya hidup yang terus melonjak.
Ironinya, negara yang setiap hari mengekspor jutaan barel minyak justru tidak mampu memastikan warganya mendapatkan energi dengan harga terjangkau.Â
Di banyak daerah, listrik hanya menyala beberapa jam sehari. Air bersih menjadi barang mewah, dan kenaikannya membuat keluarga berpenghasilan rendah terpaksa mengorbankan kebutuhan lain, termasuk makanan.
âMinyak di sini bukan untuk rakyat, tapi untuk mengisi kantong mereka di atas,â teriak salah satu demonstran yang diwawancarai media lokal.Â
Sentimen ini menggema di seluruh negeri, memperkuat kemarahan terhadap pemerintah yang dianggap gagal memanfaatkan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyatnya.
Pemerintah Angola mencoba meredam protes dengan janji reformasi dan bantuan langsung, namun banyak yang skeptis. Para pengamat politik menilai, tanpa perubahan struktural dalam distribusi pendapatan minyak, gelombang demonstrasi ini hanya akan semakin membesar.
Bagi rakyat Angola, ini bukan sekadar soal harga BBM atau tagihan listrik. Ini adalah jeritan panjang dari generasi yang merasa dikhianati sistem, yang mana kekayaan negara mengalir ke luar negeri, sementara perut mereka tetap kosong.Â
Kini, kemarahan itu telah menjelma menjadi gelombang perlawanan di jalanan, yang tak mudah dipadamkan.
Berita Terkait:
-
Gantung Sepatu di Usia 31 Tahun, Mantan Striker Liverpool Divock Origi Resmi Pensiun Gara-Gara Hal Ini
-
Diskum Batam Catat 11 Bangunan Kopdes Merah Putih Rampung 100 Persen
-
Pasar Oro-Oro Dowo Malang Jadi Contoh Transformasi Pasar Rakyat Modern
-
Hunian Modern Tak Hanya Estetis, Keamanan Kelistrikan Kini Jadi Prioritas
-
IIW Indonesia 2026, Dorong Daya Saing Industri Melalui Inovasi dan Kemitraan Strategis
-
Polri Bekukan Aktivitas di Kafe dan Money Changer Usai Penggeledahan Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU.
-
Disdik DKI Buka Layanan Posko SPMB di Tiap Kota Administrasi Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.