Negara-negara OPEC+ akan Meningkatkan Produksi Minyak 547.000 Barel per Hari

Senin, 04 Agu 2025, 21:00 WIB

NEW YORK  - Negara - negara yang menjadi bagian dari aliansi negara-negara pengekspor minyak Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) + pada Minggu (3/8), sepakat untuk meningkatkan produksi minyak, sebuah langkah yang diyakini sebagian orang dapat menurunkan harga minyak dan bensin , dengan mengutip prospek ekonomi global yang stabil dan persediaan minyak yang rendah.

Kelompok tersebut bertemu secara virtual dan mengumumkan bahwa delapan negara anggotanya akan meningkatkan produksi minyak sebesar 547.000 barel per hari pada bulan September.

Negara-negara yang meningkatkan produksi, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, telah berpartisipasi dalam pemangkasan produksi sukarela, yang awalnya dilakukan pada bulan November, dan dijadwalkan akan dihapuskan secara bertahap pada bulan September 2026. Pengumuman ini berarti pemangkasan produksi sukarela akan berakhir lebih cepat dari jadwal.

Menteri Perminyakan Kuwait, Tariq Al-Roumi memuji keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi minyak, dan mengatakan hal itu mencerminkan koordinasi yang bertujuan untuk memastikan stabilitas pasar minyak.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu, Al-Roumi mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada "analisis menyeluruh terhadap data pasar, termasuk produksi, inventaris, dan ekspektasi masa depan".

Langkah ini menyusul keputusan OPEC+ pada bulan Juli untuk meningkatkan produksi sebesar 548.000 barel per hari pada bulan Agustus. OPEC menyatakan bahwa penyesuaian produksi dapat ditunda atau dibatalkan seiring perkembangan kondisi pasar.

Ketika produksi meningkat, harga minyak dan bensin kemungkinan akan turun. Namun, minyak mentah Brent, yang dianggap sebagai patokan global, telah diperdagangkan mendekati 70 dolar AS per barel. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh potensi hilangnya minyak Rusia di pasar dan lonjakan stok minyak mentah di Tiongkok, menurut perusahaan riset Clearview Energy Partners.

"Presiden Trump tampaknya belum mengendurkan ancamannya untuk memberikan sanksi kepada energi Rusia jika Kremlin tidak mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina pada 7 Agustus, kemungkinan melalui 'tarif sekunder' terhadap pembeli," ujar Clearview Energy Partners dalam catatan analis pada hari Minggu.

Kedelapan negara akan bertemu lagi pada 7 September, kata OPEC dalam rilis berita. 

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.