Gempa Bumi Kamchatka Jadi Peringatan bagi Negara-Negara Cincin Api Pasifik

Jumat, 01 Agu 2025, 01:15 WIB

JAKARTA - Pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano mengungkapkan bahwa gempa bumi bermagnitudo 8,7 yang mengguncang Semenanjung Kamchatka, Russia, pada Rabu (30/7), harus menjadi peringatan bagi negara-negara Cincin Api Pasifik, termasuk Indonesia.

Gempa besar yang memberi dampak gelombang tsunami, kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB itu, sekaligus memperingatkan kalau kejadian tersebut tidak bisa dipandang sebagai bencana lokal semata, melainkan sebagai peringatan keras bagi negara-negara yang dimaksud.

Ket. Foto: Tanggap Bencana - Energi Gelombang Menjalar Jauh Sampai ke Kawasan Timur Indonesia — Sumber: antara

“Gempa ini terjadi di zona seismic gap, yakni wilayah yang secara historis pernah mengalami gempa besar namun telah lama tidak aktif. Artinya, ini adalah bom waktu yang akhirnya meledak,” kata Irwan di Bandung, Kamis (31/7).

Wilayah Kamchatka, lanjut Irwan, mirip secara tektonik dengan wilayah barat Sumatera dan selatan Jawa, yang terakhir mengalami gempa besar lebih dari 50 tahun lalu. Dengan karakteristik geologi serupa, Indonesia memiliki potensi risiko serupa yang harus diantisipasi.

Hal yang paling mengkhawatirkan, menurut Irwan, adalah potensi tsunami akibat gempa tersebut, dimana gelombang tsunami dengan tinggi 60 cm telah terpantau di pantai utara Jepang.

“Ini artinya energi gelombang menjalar jauh dan sampai ke kawasan timur Indonesia dalam waktu 8 hingga 10 jam sejak guncangan,” terangnya.

Peringatan Akurat dan Cepat

Meskipun Kamchatka berpenduduk jarang kata Irwan, namun dengan sistem mitigasi dan peringatan dini menjadi penentu dalam meminimalkan dampak dan Jepang kembali menunjukkan kesiapan mitigasi yang patut dicontoh, terutama dalam hal sistem deteksi dini tsunami berbasis tekanan dan pasang surut.

“Jepang tidak hanya mengandalkan model perhitungan, tapi juga sistem observasi langsung. Inilah yang membuat mereka bisa memberikan peringatan akurat dan cepat,” katanya.

Lebih lanjut Irwan menekankan gempa Kamchatka harus menjadi cermin bagi Indonesia untuk mempercepat penguatan sistem peringatan dini, mengingat wilayah Indonesia berada di jalur megathrust yang aktif, sehingga butuh kesiapsiagaan berbasis sains dan teknologi terkini, bukan hanya reaksi setelah bencana.

Dari kejadian di Russia, maka ancaman gempa megathrust yang masih membayangi khususnya di kawasan selatan Jawa dan Sumatra menjadi pengingat bahwa kesiapan bukan pilihan, tetapi keharusan.

“Jangan menunggu bencana besar untuk bergerak. Kita harus mencontoh Jepang dalam hal ketekunan, konsistensi, dan investasi jangka panjang dalam sistem mitigasi,” kata Irwan.

Sementara itu, peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Amien Widodo, mengatakan, gempa tektonik dengan magnitudo sebesar M8,7 yang mengguncang pesisir timur Kamchatka, Russia, menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah bahwa potensi tsunami raksasa bisa terjadi sewaktu-waktu.

Bahkan, bisa mencapai Jakarta karena Indonesia masuk kawasan cincin api Asia Pasifik yang memiliki banyak gunung api aktif, sekaligus menjadi zona pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyebabkan gempa bumi dan letusan gunung berapi.

“Dengan masuk kawasan cincin api Asia Pasifik, Indonesia rawan gempa megathrust yang kekuatannya bisa mencapai Magnitudo 8,4. Karena negara kita dikelilingi oleh titik-titik rawan gempa yang letaknya sekitar 300 kilometer dari pesisir barat Sumatera, yang terus memanjang hingga 300 kilometer sisi selatan dari pesisir Jawa yang terus memanjang sampai sisi selatan Bali-Nusra,” kata Amien.

Dengan letak geografis seperti itu, gempa sekuat Magnitudo 6,5 sudah bisa menimbulkan tsunami berkecepatan 600 kilometer per jam. Dalam 20 menit sudah akan mencapai pesisir Jawa. Bahkan Jakarta juga ikut diterjang tsunami jika terjadi megathrust.

Gelombang tsunami akan berjalan melewati selat Sunda dan mencapai Jakarta. Tanda-tandanya gempa hebat, saat terjadi kita jatuh dan air laut surut tiba-tiba. Kalau ini terjadi langsung saja mencari tempat yang tinggi,” ungkapnya.

Pemerintah kata Amien harus memastikan edukasi dan kontigensi bencana untuk menekan jumlah korban seperti yang dilakukan Jepang.

“Dengan edukasi dan latihan yang benar dan cukup (sering) kita bisa meniru Jepang, saat diterkena tsunami raksasa korbannya sekitar 15 ribu jiwa, bandingkan dengan tsunami Aceh yang korbannya sampai ratusan ribu. Edukasi memang sudah ada, tapi harus lebih serius dan ditingkatkan frekuensinya,” terangnya.

Masyarakat Jepang karena tidak punya pilihan lain, mereka harus menghadapi gempa dan tsunami tersebut. “Untuk itu mereka mencatat, meneliti, mengembangkan sistem peringatan dini, mengembangkan bangunan tahan gempa, dan mensosialisasikan hasil penelitiannya. Sosialisasi dilakukan kepada semua masyarakat, yang dibarengi dengan gladi atau simulasi menghadapi gempa secara rutin dalam jangka waktu tertentu.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.