BMKG Laporkan Lonjakan Aktivitas Gempa di Jawa Barat, Capai Ratusan Kasus per Tahun

Kamis, 31 Jul 2025, 16:30 WIB

JAKARTA –Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya peningkatan signifikan aktivitas gempa bumi di wilayah Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Sukabumi, Agung Sabtaji, menyampaikan bahwa rata-rata terjadi sekitar 510 gempa bumi setiap tahunnya di provinsi tersebut.

“Jumlahnya terus meningkat setiap tahun,” ujar Agung saat menyampaikan laporan dalam diskusi daring memperingati Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Rabu, 30 Juli 2025.

Ket. Foto: — Sumber: BMKG

Ia menjelaskan, sejak 2012, pemantauan aktivitas seismik mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah alat deteksi gempa.

Menurut Agung, Jawa Barat kini dilengkapi 36 instrumen seismik, dengan 21 di antaranya dipasang pada 2019. Sementara itu, pada 2024, Pemprov Jabar kembali menambah tiga seismograf di Tambun (Kabupaten Bekasi), Tanjungsari (Kabupaten Bogor), dan Selaawi (Kabupaten Garut).

Dengan jaringan instrumen yang lebih padat, BMKG mampu mempercepat proses deteksi gempa dan peringatan dini tsunami. Waktu respons kini berkurang dari lima menit menjadi tiga menit setelah kejadian terjadi.

Data historis mencatat bahwa pada tahun 2019 terdapat 554 gempa bumi, lalu turun menjadi 229 gempa pada 2020, dan melonjak kembali menjadi 556 kejadian pada 2021. Pada tahun 2022, angka gempa naik drastis menjadi 1.198, sedikit menurun menjadi 1.054 pada 2023, dan meningkat lagi menjadi 1.187 pada 2024.

Hingga Juli 2025, BMKG telah mencatat 566 gempa bumi yang mengguncang berbagai wilayah di Jawa Barat. Kebanyakan dari gempa tersebut berkekuatan rendah, dengan dominasi kekuatan antara magnitudo 2 hingga 4.

Gempa berkekuatan 2 hingga 3 skala Richter terjadi rata-rata 279 kali per tahun, sementara magnitudo 3 hingga 4 tercatat sekitar 147,6 kali per tahun. Sebagian besar aktivitas ini berasal dari gempa kerak dangkal dengan kedalaman 0 hingga 20 kilometer.

BMKG menyebutkan, sejumlah sesar aktif menjadi pemicu utama gempa di wilayah ini, di antaranya Sesar Halimun Salak, Bayah, Citarik, Cimandiri, Cipamingkis, Cugenang, Purwakarta, Cirata, Garsela, Rancabali, Cibeber, dan Ciremai. Sesar-sesar ini tersebar di berbagai daerah dan memiliki potensi gempa merusak.

Selama enam bulan pertama tahun 2025, masyarakat Jawa Barat melaporkan sedikitnya 45 kejadian gempa yang terasa. Beberapa di antaranya menimbulkan kerusakan cukup serius, terutama di wilayah padat penduduk.

Salah satu gempa yang menimbulkan kerusakan terjadi pada 4 April 2025, saat gempa berkekuatan 4,1 skala Richter mengguncang Bogor akibat aktivitas Sesar Citarik. Getaran gempa merusak sejumlah rumah di wilayah Cilendek Timur, Cilendek Barat, Pasir Jaya, Menteng, dan Curug Mekar.

Gempa lainnya terjadi pada 18 Mei di Leuwiliang, Bogor, dengan kekuatan 2,7 skala Richter, kemudian gempa berkekuatan serupa melanda Lembang pada 29 Juni, serta Cikarang pada 14 Juli. Meski berintensitas kecil, kejadian tersebut tetap dirasakan warga setempat.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menyatakan bahwa banyak patahan di Jawa Barat belum teridentifikasi secara detail. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi sumber gempa secara cepat.

“Ketika gempa bumi terjadi, kita sering kali tidak dapat segera menentukan patahan mana yang memicunya,” ujarnya.

BMKG terus mengembangkan sistem monitoring dan peringatan dini untuk meminimalkan risiko bencana. Pemerintah daerah juga didorong untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa di masa mendatang.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.