• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • AI Bikin Lagu Viral Tanpa ...

AI Bikin Lagu Viral Tanpa Hati! Musisi Asli Terancam Punah, Industri Musik di Ujung Tanduk?

Kamis, 31 Jul 2025, 11:10 WIB

JAKARTA - Dunia musik sedang diguncang revolusi digital yang tak terduga, dan pelakunya bukan manusia, melainkan kecerdasan buatan alias AI! 

Beberapa waktu lalu, fenomena viral ramai terdengar saat banyak lagu yang sangat mirip suara Ariana Grande dan Drake menghebohkan jagat maya. 

Ket. Foto: — Sumber: Freepik

Tapi setelah disimak lebih dalam, barulah disadari itu bukan suara Ariana ataupun Drake, melainkan suara tiruan hasil olahan AI. Bahkan, lagu tersebut sudah ditonton jutaan kali di TikTok dan YouTube, banyak yang terkecoh, mengira itu rilisan resmi!

Fenomena ini kini tak lagi bisa dianggap main-main. Teknologi text-to-speech seperti ElevenLabs, hingga mesin pembuat lagu instan seperti SUNO, memungkinkan siapa saja, bahkan tanpa pengalaman bermusik untuk menghasilkan lagu yang terdengar profesional. 

AI kini tak hanya bisa meniru suara, tapi juga gaya menyanyi, aransemen musik, bahkan cara menulis lirik dari artis-artis ternama.

Cukup dengan input teks dan klik beberapa tombol, jadilah lagu “kolaborasi” antara Eminem dan Ariana Grande, atau cover lagu klasik dengan “suara muda” Taylor Swift. 

Lagu “Heart on My Sleeve” yang memanfaatkan suara “AI Drake” dan “AI The Weeknd” sempat menjadi trending sebelum musisi aslinya merilis lagu baru.

Kenapa lagu-lagu AI ini begitu cepat viral? Jawabannya terletak pada novelty effect atau manusia suka hal baru, aneh, atau tidak lazim. 

Mendengar suara artis favorit menyanyikan lagu yang tak pernah mereka buat menciptakan rasa takjub, lucu, dan penasaran, yang akhirnya mendorong konten tersebut menyebar dengan sangat cepat.

Namun, di balik tren ini ada ancaman serius yang mengintai industri musik. Dengan kemampuan AI untuk “mencuri” suara dan gaya musisi, muncul kekhawatiran besar tentang hak cipta, orisinalitas, dan penghasilan artis. 

Platform musik seperti Spotify dan YouTube kini dihadapkan pada dilema, bagaimana membedakan karya manusia dan buatan mesin? Lebih penting lagi, apakah karya AI layak mendapat tempat yang sama?

Menurut teori disruptive innovation, AI memang mengubah lanskap industri dari yang eksklusif jadi massal. Tapi transformasi ini berisiko membunuh kreativitas orisinal, terutama saat kualitas menjadi nomor dua dan viralitas jadi segalanya.

Jadi, apa solusinya? Industri musik harus bereaksi cepat, menerapkan teknologi watermark suara, regulasi hak cipta untuk karya AI, dan edukasi publik soal etika menggunakan AI di musik. 

Musisi pun sebaiknya beradaptasi, bukan melawan dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk memperkuat karya, bukan saingan.

Pada akhirnya, AI bisa menjadi mitra kreatif jika digunakan dengan bijak. Namun satu hal yang tak boleh dilupakan, musik sejati tetap berasal dari jiwa, dari emosi manusia yang tidak bisa ditiru mesin seberapa canggih pun. 

Lagu-lagu viral AI boleh menggebrak, tapi yang membekas di hati tetap lagu yang hidup, bukan sekadar algoritma.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.