AS Tak Buru-buru Soal Kesepakatan Dagang dengan Tiongkok

Rabu, 23 Jul 2025, 01:10 WIB

WASHINGTON - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent pada Senin (21/7), mengatakan, pemerintahan Presiden Donald Trump lebih peduli dengan kualitas perjanjian perdagangan ketimbang batas waktu pemberlakuannya yakni 1 Agustus mendatang.

“Kami tidak akan terburu-buru hanya demi mencapai kesepakatan,” ujarnya kepada CNBC. Ditanya apakah batas waktu dapat diperpanjang bagi negara-negara yang terlibat dalam pembicaraan produktif dengan Washington, ia mengatakan Presiden AS Donald Trump yang akan memutuskan.

Ket. Foto: Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent. — Sumber: istimewa

“Kita lihat saja apa yang ingin dilakukan presiden. Tapi sekali lagi, jika kita kembali ke tarif 1 Agustus, saya rasa tingkat tarif yang lebih tinggi akan memberi tekanan lebih besar pada negara-negara tersebut untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik,” jelas Bessent.

 Trump telah mengguncang ekonomi global dengan perang dagang yang menyasar sebagian besar mitra dagang AS, tetapi pemerintahannya masih jauh dari rencana untuk mencapai kesepakatan dengan puluhan negara.

Negosiasi dengan India, Uni Eropa, Jepang, dan negara-negara lain terbukti lebih sulit dari yang diperkirakan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada para wartawan bahwa Trump dapat membahas perdagangan ketika ia bertemu dengan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. di Gedung Putih pada 22 Juli.

Dia mengatakan pemerintahan Trump tetap terlibat dengan negara-negara di seluruh dunia dan dapat mengumumkan lebih banyak kesepakatan perdagangan atau mengirim lebih banyak surat yang memberitahukan negara-negara tentang tingkat tarif yang mereka hadapi sebelum 1 Agustus, tetapi tidak memberikan rinciannya.

Komentarnya muncul saat diplomat Uni Eropa (UE) mengatakan mereka tengah menjajaki serangkaian tindakan balasan yang lebih luas terhadap AS, mengingat memudarnya prospek perjanjian perdagangan yang dapat diterima dengan Washington. 

Para diplomat mengatakan bahwa semakin banyak negara anggota Uni Eropa, termasuk Jerman, yang kini mempertimbangkan untuk menggunakan langkah-langkah “antipaksaan” yang akan memungkinkan blok tersebut menargetkan layanan AS atau membatasi akses ke tender publik jika tidak ada kesepakatan.

“Negosiasi mengenai tingkat tarif saat ini sangat intensif,” ujar Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers. “Amerika jelas-jelas tidak bersedia menyetujui pengaturan tarif yang simetris,”.

Pembicaraan AS-Tiongkok

Mengenai Tiongkok, Bessent mengatakan akan ada “pembicaraan dalam waktu dekat”. “Saya pikir perdagangan sedang dalam kondisi baik, dan saya pikir, sekarang kita bisa mulai membicarakan hal-hal lain.

Sayangnya, Tiongkok adalah pembeli minyak Iran dan Russia yang disanksi dalam jumlah yang sangat besar,” katanya. “Kita juga bisa membahas masalah yang paling krusial, yaitu penyeimbangan ulang besar-besaran yang perlu dilakukan Tiongkok,” katanya. Para pejabat AS sudah lama mengeluhkan kelebihan kapasitas Tiongkok di berbagai sektor manufaktur, termasuk baja.

Bessent mengatakan bahwa ia akan mendorong Eropa untuk mengikuti AS jika negara itu menerapkan tarif sekunder terhadap Russia. Sementara itu, Kepala negosiator tarif Jepang, Ryosei Akazawa, berangkat ke Washington untuk perundingan perdagangan pada pagi hari tanggal 21 Juli, kunjungan kedelapannya dalam tiga bulan, setelah koalisi yang berkuasa di bawah Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengalami kekalahan telak dalam pemilihan Majelis Tinggi yang sebagian disebabkan oleh frustrasi pemilih terhadap tarif AS.

  • Perundingan Tarif

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.