Iran dan Negara-Negara Eropa Pertimbangkan Lanjutkan Pembicaraan Nuklir Minggu Depan

Minggu, 20 Jul 2025, 17:45 WIB

JAKARTA — Iran, Inggris, Prancis, dan Jerman berpeluang melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Teheran pada pekan depan. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa kesepakatan prinsip untuk melakukan perundingan telah tercapai, meskipun waktu dan lokasi pertemuan masih dalam tahap konsultasi.

“Prinsip perundingan telah disepakati, tetapi konsultasi mengenai waktu dan tempat perundingan masih berlangsung. Negara tempat perundingan kemungkinan akan diadakan minggu depan belum diputuskan,” demikian bunyi laporan Tasnim yang mengutip sumber dengan pengetahuan langsung atas proses diplomatik tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: Getty Images

Rencana perundingan ini mencuat setelah para menteri luar negeri dari Inggris, Prancis, dan Jerman yang dikenal sebagai kelompok E3 bersama kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, melakukan pembicaraan telepon pertama mereka dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi. Kontak ini merupakan yang pertama sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran satu bulan sebelumnya.

Ketiga negara Eropa tersebut merupakan bagian dari pihak-pihak yang masih terlibat dalam Kesepakatan Nuklir Iran 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). Dalam kesepakatan tersebut, sanksi internasional terhadap Iran dicabut sebagai imbalan atas pembatasan terhadap program nuklir negara tersebut. Namun, Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan tersebut pada tahun 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump.

E3 menyatakan bahwa jika perundingan nuklir antara Iran dan AS yang sempat berlangsung sebelum perang udara Iran-Israel tidak segera dilanjutkan atau gagal menghasilkan terobosan, maka mereka akan mengaktifkan kembali sanksi internasional terhadap Teheran. Sanksi tersebut dapat diberlakukan melalui mekanisme yang disebut "snapback", yakni prosedur pemulihan otomatis sanksi PBB berdasarkan resolusi Dewan Keamanan yang mengesahkan JCPOA.

“Jika EU/E3 ingin berperan, mereka harus bertindak secara bertanggung jawab, dan mengesampingkan kebijakan ancaman dan tekanan yang sudah usang, termasuk 'snap-back' yang sama sekali tidak memiliki dasar moral dan hukum,” kata Abbas Araqchi dalam pernyataan sebelumnya, menanggapi ancaman pengaktifan kembali sanksi oleh Eropa.

Mekanisme snapback memungkinkan diberlakukannya kembali sanksi internasional sebelum berakhirnya ketentuan dalam resolusi Dewan Keamanan PBB pada 18 Oktober. Langkah ini dapat memperburuk ketegangan diplomatik yang sudah meningkat, terutama pasca serangan udara dan gangguan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Sebelum konflik militer antara Iran dan Israel pecah, Teheran dan Washington telah menggelar lima putaran negosiasi yang dimediasi oleh Oman. Namun, pembicaraan tersebut menghadapi hambatan serius, termasuk desakan dari negara-negara Barat agar Iran menghentikan total aktivitas pengayaan uranium. Barat khawatir bahwa pengayaan tersebut membuka celah bagi pengembangan senjata nuklir.

Teheran sendiri menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan semata-mata untuk kepentingan sipil. Pemerintah Iran berulang kali membantah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan bahwa tekanan internasional hanya akan merusak potensi kerja sama damai di kawasan.

Dengan batas waktu akhir Agustus yang ditetapkan oleh E3 untuk melanjutkan dialog atau menghadapi pemulihan sanksi, diplomasi antara Iran dan kekuatan-kekuatan dunia kini memasuki fase yang krusial. Pertemuan pekan depan jika jadi terlaksana dapat menentukan arah kebijakan luar negeri Iran serta masa depan kesepakatan nuklir yang sempat menjadi simbol keberhasilan diplomasi multilateral.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.