Misi Berat Timnas di Putaran Keempat

Jumat, 18 Jul 2025, 07:08 WIB

JAKARTA - Langkah Tim nasional Indonesia untuk melaju ke putaran final Piala Dunia 2026 kini memasuki fase yang paling menantang. Undian babak keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia yang digelar di Kuala Lumpur, Kamis (17/7), menempatkan Skuad Garuda dalam grup berat bersama Arab Saudi dan Irak.

Indonesia tergabung di Grup B. Sedangkan Grup A berisi Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman. Format yang digunakan adalah sistem round-robin penuh. Tiap grup hanya meloloskan satu juara langsung ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Tim peringkat dua harus berjuang lagi di ronde kelima, sedangkan posisi juru kunci otomatis gugur.

Ket. Foto: Pemain Indonesia menghadiri sesi latihan menjelang pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia Grup C antara Indonesia dan Tiongkok di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pekan lalu. — Sumber: Yasuyoshi CHIBA/AFP

Babak keempat akan berlangsung pada tanggal 8 hingga 14 Oktober 2025. Seluruh pertandingan akan digelar di kawasan Arab. Kondisi ini membuat Arab Saudi dan Irak bermain di atmosfer yang sehari-hari. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar ujian taktik, tetapi juga mental dan adaptasi terhadap iklim.

“Semua tahu, ini grup sulit,” tegas pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, usai menghadiri undian bersama manajer tim, Sumardji. Meski demikian, Kluivert menyimpan optimisme. “Kami sudah menghadapi Arab Saudi dan Irak di fase sebelumnya. Kami tahu kekuatan mereka dan akan mempersiapkan diri lebih baik,” katanya.

Dalam pertemuan terakhir, Indonesia dua kali tumbang dari Irak (1-5 dan 0-2). Namun Skuad Garuda justru tampil brilian saat melawan Arab Saudi, menahan imbang 1-1 di Riyadh dan menang 2-0 di Gelora Bung Karno. Catatan itu menjadi pijakan optimistis untuk menatap laga Oktober nanti.

Pengamat sepak bola Wesley Hutagalung, menilai hasil undian sebagai pedang bermata dua. “Kita terhindar dari Qatar yang secara finansial dan infrastruktur sangat kuat. Tapi Irak selalu jadi batu sandungan,” ujarnya.

Dia juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas skuad. “Jangan terus bongkar-pasang pemain. Bangun chemistry. Tambahan pemain diaspora boleh, tapi jangan ubah kerangka tim tiap bulan,” sambungnya.

Waktu persiapan pun terbatas. Liga domestik dan kompetisi Eropa sudah berjalan pada bulan Agustus. Kluivert hanya akan mendapat waktu sekitar sepekan untuk mempersiapkan tim saat FIFA Matchday. “Fokus dulu ke Arab Saudi. Itu laga kunci. Jika bisa mencuri poin, semangat akan meledak saat melawan Irak,” jelas Wesley.

Sialnya, menjelang fase penting ini, Indonesia kehilangan striker andalan, Ole Romeny. Dia cedera saat membela Oxford United di ajang Piala Presiden 2025 dan dipastikan naik meja operasi. Ole bakal absen pada FIFA Matchday September, bahkan nyaris pasti tak tampil pada bulan Oktober.

PSSI menyerahkan sepenuhnya keputusan pengganti kepada tim pelatih. Nama Jens Ravyen disebut sebagai kandidat kuat setelah tampil impresif saat melawan Brunei di ajang Piala ASEAN U-23 2025. Namun kehilangan Romeny bisa berdampak pada struktur serangan.

Ragnar Oratmangoen dan Marselino Ferdinan disebut sebagai alternatif, meski chemistry belum sepenuhnya terbentuk. Gaya bermain Arab Saudi yang agresif dan eksplosif harus diantisipasi dengan taktik matang. Wesley menyebut pertahanan bakal jadi kunci. “Kita akan dihujani bola-bola silang. Siapa pun kipernya harus siap. Pertahanan harus disiplin,” ujarnya.

Polemik Pot

Sementara itu, tergabungnya Indonesia dengan Arab Saudi dalam satu grup berawal dari polemik yang muncul jelang undian. AFC merilis pembagian pot yang dianggap janggal, khususnya oleh publik Irak. Mereka mempertanyakan dasar pemilihan pot yang tidak mengacu pada ranking FIFA terbaru per Juli 2025.

Sebab, Irak saat ini berada di peringkat 58 dunia, satu tingkat lebih baik dari Arab Saudi yang menempati posisi 59. Berdasarkan logika peringkat, seharusnya Irak masuk Pot 1 bersama Qatar. Namun, AFC justru menempatkan Arab Saudi di Pot 1 dan Irak di Pot 2.

Keputusan ini memicu kritik tajam dari pengamat dan federasi sepak bola Irak, yang merasa diperlakukan tidak adil. Mereka menilai AFC kurang transparan dalam menentukan dasar pembagian pot untuk undian kemarin. ben/G-1

  • Piala Dunia Antarklub 2025

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.