Ratusan Tentara dan Warga Sipil Lintasi Perbatasan Thailand

Senin, 14 Jul 2025, 02:50 WIB

BANGKOK - Lebih dari 500 warga sipil dan tentara melarikan diri dari konflik di Myanmar dan menyeberang ke Thailand pada Sabtu (12/7) lalu menyusul terjadinya serangan oleh pejuang etnis di sebuah pangkalan militer, kata tentara Thailand.

Myanmar telah terjerumus dalam konflik sipil sejak kudeta militer pada tahun 2021, dengan junta yang memerangi koalisi kelompok etnis bersenjata dan pasukan perlawanan prodemokrasi.

Ket. Foto: Seorang tentara Thailand berjaga di sebuah tepi sungai perbatasan yang menghubungkan Thailand dan Myanmar di Kota Mae Sot, Provinsi Tak, beberapa waktu lalu. — Sumber: AFP/Lillian SUWANRUMPHA

Serangan 12 Juli oleh Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) menargetkan pangkalan militer di Negara Bagian Kayin sekitar pukul 3 sore waktu setempat, kata militer Thailand dalam sebuah pernyataan.

“Tentara Myanmar berusaha melawan dan meminta bantuan senjata untuk mempertahankan posisi mereka, tetapi pada akhirnya tidak mampu bertahan,” kata militer Thailand.

Akibatnya seratus tentara Myanmar dan 467 warga sipil telah menyeberang ke Thailand pada 12 Juli, di mana militer dan polisi Thailand melucuti senjata mereka dan memberikan perawatan dan bantuan kemanusiaan, kata para pejabat.

Pasukan Thailand telah meningkatkan patroli di sepanjang perbatasan di Provinsi Tak bagian barat untuk mencegah apa yang digambarkan oleh para pejabat sebagai potensi pelanggaran kedaulatan oleh pasukan bersenjata asing.

Saw Thamain Tun, pemimpin sayap politik KNLA, mengKonfirmasi adanya pertempuran di dekat perbatasan dan mengatakan bahwa pasukan gabungan telah merebut beberapa pos depan dari tentara.

“Sebagian (pasukan Myanmar) membelot ke pasukan gabungan kami, namun sebagian lagi lari ke Thailand,” ungkap dia kepada AFP.

Kelompok bersenjata dari etnis minoritas Karen telah lama menantang militer dan sekarang memainkan peran kunci dalam melawan kontrol junta atas zona perbatasan.

Perang saudara Myanmar sendiri telah menyebabkan gelombang besar perpindahan penduduk, dengan 81.000 pengungsi atau pencari suaka dari negara tersebut saat ini tinggal di Thailand, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Sedangkan KNLA telah berjuang selama beberapa dekade untuk memberikan otonomi yang lebih besar bagi masyarakat Karen yang tinggal di wilayah tenggara Myanmar.

Serangan Udara

Pada saat bersamaan dilaporkan lebih dari 20 warga sipil, termasuk anak-anak, tewas setelah serangan udara baru-baru ini di sebuah biara di Myanmar tengah, seorang pejuang antijunta dan seorang warga mengatakan kepada AFP, Sabtu.

Myanmar telah dilanda perang saudara sejak militer menggulingkan pemerintahan demokratis pada 2021, dan wilayah Sagaing tengah sangat terdampak, dengan junta militer menggempur desa-desa dengan serangan udara yang menargetkan kelompok-kelompok bersenjata.

Serangan terbaru terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari pada Jumat (11/7) di Desa Lin Ta Lu ketika aula biara tempat para pengungsi internal tinggal terkena serangan udara, kata seorang pejuang antijunta, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.

Ia mengatakan kepada AFP bahwa 22 orang tewas, termasuk tiga anak-anak, sementara dua lainnya luka-luka dan masih dalam kondisi kritis di rumah sakit.

"Mereka mengira aman untuk tinggal di biara Buddha," kata pejuang anti-junta itu. "Tetapi mereka tetap dibom."

Seorang warga setempat mengkonfirmasi bahwa aula biara telah hancur total akibat serangan udara tersebut.

Wilayah Sagaing merupakan episentrum gempa dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter pada Maret lalu, yang menewaskan hampir 3.800 orang dan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Setelah gempa, terdapat dugaan gencatan senjata antara junta dan kelompok bersenjata, tetapi serangan udara dan pertempuran terus berlanjut, menurut pemantau konflik. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.